Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 86 : Saingan Bisnis


__ADS_3

Ketika aku berjalan-jalan di kota setelah duel melawan Richard, Sirius memelukku dari belakang dengan tiba-tiba, dadanya yang besar adalah damage yang harus kusembunyikan darinya.


"Pagi ini master menghilang tiba-tiba, akhirnya aku bisa menemukanmu lagi," katanya selagi menghisap leherku.


Sirius bukanlah vampir dia hanya sedang menggodaku. Aku mencengkeram wajahnya kemudian mendorongnya menjauh.


"Aku ada urusan barusan, cepatlah menjauh."


Sirius mengembungkan pipinya lalu berjalan di sampingku menuju cafe di dekat persimpangan, ketika aku memasukinya para bunny girl dengan pakaian pelayan putih menyambut kami.


"Selamat datang tuan."


Hal seperti ini memang paling disukai pria.


Sirius berusaha mengangkat rok salah satu pelayan dan aku segera menjitak kepalanya.


"Biarkan aku melihatnya, bukannya kalian sengaja memotongnya pendek agar mudah dilihat."


Aku segera menariknya masuk lalu duduk di kursi kosong di dekat jendela.


"Bagaimana soal penjualan" tanyaku pada salah satu pelayan yang kutugaskan sebagai manajer.


"Semenjak pembukaan cafe, angka penjualan kita semakin naik hanya saja belakangan ini cafe saingan membuat gebrakan baru hingga separuh pelanggan kita pergi ke sana."


"Pergerakan seperti apa itu?"


"Mereka membuat cafe bikini, serta mempekerjakan para wanita bahenol di depan."


Aku menjatuhkan kepalaku di meja.

__ADS_1


"Jika kita ingin menang, kita harus membuat cafe telanjang untuk mengalahkan mereka," potong pelayan


"Ini bukan tempat seperti itu, daya tarik wanita itu ketika pria berimajinasi, jika dari awal semuanya terlihat itu sama sekali tidak menarik."


"Tuan memiliki pengetahuan luar biasa."


"Begitulah masterku, walaupun pengetahuannya terkadang sesat."


"Siapa yang kau panggil sesat."


Aku menggosok kepala Sirius dengan tinjukan.


"Sakit, sakit."


Seperti biasa Sirius selalu menjaga ekpresinya datar.


"Kita akan melawan mereka dengan musik, aku pikir beberapa orang akan suka saat mendengarkan musik merdu saat mereka makan, memang benar kita akan kehilangan pelanggan pria tapi aku pikir kita bisa mengambil pelanggan wanita sebanyak-banyaknya."


"Aku mengerti, beberapa pelayan lain ada yang mahir melakukannya... saya akan langsung meminta mereka bermain musik dan bernyanyi."


Sesuai yang diharapkan para bunny girl, mereka ahli dalam hiburan. Selagi menikmati teh kulihat tiga buah kursi ditaruh di depan pelanggan, tak lama kemudian kursi yang tadinya kosong kini telah diisi oleh ketiga pelayan, dua diantaranya bermain gitar sementara satu lagi bernyanyi.


Sebagian pelanggan tampak bertanya-tanya, saat musik dimainkan suara alunan lagu indah terdengar, semua orang langsung terdiam seolah lagu itu menarik hati mereka.


Beberapa pelanggan baru mulai bermunculan hingga memilih tempat duduk yang mereka sukai.


"Bagaimana menurut tuan?"


"Sempurna, tapi usahakan mereka juga berisitirahat."

__ADS_1


"Tentu saja, kita memiliki lima grup yang bisa secara bergantian menghibur pelanggan."


Mereka pasti multitalenta.


"Aku sedikit penasaran soal cafe bikini itu, aku akan melihatnya sebentar?"


"Baik."


Bersama Sirius aku telah sampai di pintu masuk cafe yang dimaksud, selain interiornya tidak jauh berbeda dengan cafeku yang membedakannya hanya dari pelayannya.


Mereka tampak tak masalah mengenakan pakaian seperti itu dan di antara pelanggan seseorang menarik perhatianku hingga aku dan Sirius duduk di sampingnya.


"Kau sering datang kemari Kazel?"


"Aksa, Sirius kenapa kalian berdua di sini?"


"Kami hanya penasaran saja dengan tempat ini," balasku ringan sebelum memanggil salah satu pelayan.


"Aku ingin memesan."


Si pelayan menatapku beberapa saat sebelum berjalan ke tempat lain hingga Kazel tertawa.


"Dia mungkin takut denganmu."


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan, sampai pelayan yang sebelumnya berlari muncul bersama seorang wanita dengan pakaian rapih.


"Bukannya tuan pemilik toko di seberang jalan, apa boleh tahu kenapa Anda datang kemari? Anda tidak berniat memata-matai kami bukan?"


"Ketahuan yah," kataku selagi menggaruk punggung kepala.

__ADS_1


__ADS_2