Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 47 : Bertemu Gadis Serigala Ini


__ADS_3

Meninggalkan sepeda motorku di penginapan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota, aku menyusuri jalanan utama dimana itu dipenuhi berbagai toko yang berbeda, apapun yang kau butuhkan ada di sini.


Sebuah perkataan yang cocok untuk pemandanganku sekarang, masyarakat hidup dengan baik tanpa harus ada perselisihan di antara mereka tapi itu hanya keinginanku saja. Di manapun kau berada perselisihan akan terjadi dan pertengkaran tak pernah hilang dari kehidupan ini.


Tampak orang-orang terlihat bertengkar di salah satu bar dan di sisi lain kulihat seekor gadis serigala berekor lebat sedang diseret oleh pria tua, kedua tangannya terikat oleh tali.


Aku berusaha menghentikannya.


"Kenapa kau memperlakukan gadis ini seperti itu?"


"Maksudmu dia, orang ini selalu mencuri di tokoku aku berfikir untuk menjualnya sebagai budak."


Umurnya semakin tua tapi kelakuannya tetaplah bar-bar.


"Minggirlah, aku harus segera menjualnya untuk ditukar dengan beras."


Aku segera menghentikannya dengan sebelah tanganku selagi mendesah pelan.


"Aku akan membelinya dua kali lipat."


"Yang benar?"


"Jadi berikan talinya."


"Ambillah."


Aku memberikan satu koin emas pada pria tua itu dan lalu melepaskan ikatan di tangannya.


Gadis serigala ini terlihat di umur 10 tahun dengan rambut hitam serta pakaian lusuh, terdapat luka memar di seluruh tubuhnya.


Aku berlutut untuk mensejajarkan pandanganku.


"Siapa namamu?"


"Nicol."


"Nah Nicol, apa kau memiliki tempat untuk pulang?"


Dia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Punya orang tua?"


"Tidak."


"Keluarga?"


"Aku tidak memiliki siapapun."


Ini adalah gambaran dari dunia yang kejam.


Meninggalkannya sendirian sesuatu yang tidak bisa kulakukan, aku sempat melihat pantulan diriku di masa lalu dari kedua matanya yang berwarna hijau.


Tidak lucu juga jika dia mati setelah aku menyelamatkannya.


"Apa kini tuan adalah majikanku?" tanyanya.


"Tidak, aku tidak berniat menjadikanmu seorang budak.. aku akan senang jika kau bisa memilih kehidupan yang kau sukai."


"Meski tuan bilang begitu, aku tidak pernah memiliki hak untuk mendapatkannya."


Aku mengulurkan tanganku dan Nicol segera menghalangi dirinya dengan kedua tangannya, dia mungkin trauma atas perlakuan semua orang padanya.


Ketika aku mengelus rambutnya dia tampak terkejut.


"Apa boleh tuan?"


"Tentu saja, tapi mulai sekarang panggil aku Aksa."


"Um.. tuan Aksa."


"Aksa."


"Ak... tuan Aksa."


Aku memilih menyerah dan membiarkan dia memanggilku sesuka yang ia inginkan, tak lama terdengar bunyi perut Nicol.


"Maafkan aku."


"Kenapa kau harus meminta maaf, perutmu pasti lapar kan, mari cari makanan."

__ADS_1


Aku menggenggam tangannya lalu berjalan bersama menuju sebuah kedai di pinggir jalan, seorang pria besar menghalangi jalan kami berdua.


Ada pedang besar di punggungnya serta beberapa orang di belakangnya, mereka mungkin satu kelompok petualang.


"Yo, bocah... apa kau baru membeli budak."


Aku mengabaikannya lalu berjalan bersama Nicol.


"Lebih baik kau urus saja urusanmu sendiri."


"Apa?"


Pria besar itu hendak mengirim ayunan pedang ke arahku namun, temannya lebih dulu menghentikannya, sejujurnya aku sudah memegang pistolku sekarang.


"Jangan membuat keributan Blitz, kita disewa oleh kota ini, jika mereka tahu mungkin mereka akan membatalkan permintaannya."


"Aku tahu, cih."


Kelima orang itu akhirnya berjalan pergi, aku kembali menyembunyikan senjataku lalu memesan satu meja untuk kami berdua, masih ada uang di dompetku jadi aku tidak perlu menahan diri dan memesan sebanyak yang ku mau, makanan mewah dan enak dihidangkan di meja kami.


"Tuan Aksa ini?"


"Jangan menahan diri, makanlah sebanyak yang kau mau."


"Baik."


"Apa makanannya enak?"


"Enak tuan."


"Syukurlah, jika tidak enak aku akan berfikir untuk menghancurkan tempat ini."


Pelayan wanita yang mendengar dari samping hanya bisa mendesah pelan.


"Tuan, jangan mengatakan candaan yang mengerikan seperti itu, aku jamin semua makanan di sini enak."


"Maaf," kataku sambil tertawa kecil kemudian melanjutkan.


"Ngomong-ngomong pria yang keluar sebelum aku tadi siapa?"

__ADS_1


"Mereka petualang yang disewa oleh kota ini, mereka diminta untuk menjaga kota dari para monster tapi mereka malah menjadi monsternya."


"Boleh aku mendengar lebih banyak lagi," balasku ringan dan pelayan itu mengangguk mengiyakan.


__ADS_2