
Kota ini memiliki dua distrik yang dihalangi dua tembok tinggi.
Pertama adalah distrik kumuh dan satu lagi merupakan distrik bangsawan, walau keadaannya seperti itu tidak ada orang yang mengeluh atau membuat keributan di sini semua orang terlihat hidup damai tanpa mempermasalahkan hal ini.
Paling tidak itulah yang kudengar saat perjalanan kemari.
Tidak ada pintu maupun gerbang yang digunakan, orang-orang menggunakan sapu terbang agar bisa masuk maupun keluar kota.
Tidak berlebihan jika aku harus mengatakan bahwa kota ini hanya bisa ditinggali para penyihir.
"Aku memang tidak bisa terbang tapi akan kuhancurkan saja temboknya dengan tanganku."
Tiffany mengambil ancang-ancang jauh, setiap dia melakukan gerakan, dadanya yang besar selalu bergoyang dan itu cukup membuatku bingung harus melihat ke arah mana, saat kepalan tangannya menghantam tembok bukan tembok itu yang hancur melainkan tubuhnya yang terbang ke belakang hingga ia tersungkur ke tanah dengan posisi memalukan.
Aku berjongkok untuk memperhatikannya.
"Oh, warna putih tidak cocok denganmu Tiffany."
"Berisik, jangan malah melihatnya doang. Bantu aku berdiri."
"Baik, baik."
Aku berdiri lalu mengulurkan tanganku.
Aku sudah mengatakan bahwa tembok ini dilindungi oleh sihir akan tetapi dia malah ingin mencoba seberapa kuat pelindung yang digunakan kota ini. Dengan kesal Tiffany membersihkan pakaiannya yang kotor.
Sebagai seorang penyihir aku sudah dipastikan bisa mudah masuk ke dalam sini, membiarkan mobil terparkir di luar aku membawa Tiffany maupun Nicol secara bergantian masuk ke dalam kota.
__ADS_1
Di atas kota ini terlihat jelas menara jam yang sangat indah, menurut buku petualang yang dibuat Meliana.
Jam itu sudah tidak bergerak puluhan tahun tapi sekarang jam itu terus berdetak sampai sekarang.
Kami menyusuri distrik kumuh yang mayoritas ditinggali orang-orang berpakaian tambal-tambal, kecuali Nicol, Tiffany terus saja melekat denganku dan itu cukup mengganggu walaupun sangat lembut.
Tak lama kemudian Nicol mencoba bertanya ke salah satu pria yang duduk dipinggir jalan, apa yang bisa digambarkan darinya hanyalah sebuah kekurangan, namun.
"Hoyah, apa kalian dari luar kota ini... selamat datang di kota kami."
Dia tampak senang.
"Pasti kalian terkejut, kami sebenarnya sudah hidup berkecukupan di sini."
"Jika kalian sudah begitu, kenapa kalian masih memakai pakaian lusuh dan tinggal di tempat jelek ini."
"Tidak apa... kami hanya mempertahankan bentuk kota ini saja."
"Apa maksudmu? Apa semua ini pura-pura?" balas Nicol.
"Benar sekali nona muda, awalnya kota ini memang sangat sulit ditinggali siapapun, tapi berkat penyihir Meliana kami bisa hidup seperti sekarang, di masa lalu penduduk kota memutuskan untuk tetap menjaga situasi seperti ini dan akhirnya pendapatan kami terus saja bertambah."
"Apa maksudnya Aksa?" sekarang Tiffany yang bertanya padaku.
"Jadi begitu, coba kalian lihat orang-orang ini."
"Penduduk kota?"
__ADS_1
"Mereka bukan penduduk kota, melainkan para pelancong ataupun turis."
Nicol dan Tiffany terkejut sementara Greed yang hanya diam dari tadi akhirnya tertawa lalu berkata sedikit," Kau cepat sekali menyadarinya Aksa."
"Tepat sekali, sebagian besar mereka adalah pengunjung dari luar kota yang ingin merasakan hidup miskin, dengan memasok harga cukup mahal kami bisa hidup sekarang."
Aku hanya bisa tersenyum sebagai balasan.
Meliana memang bukan penyihir biasa.
"Jika kalian ingin pergi ke distrik bangsawan, lurus saja dari sini."
"Terima kasih."
"Di sana banyak hiburan, aku yakin kalian akan bersenang-senang."
Membuat kota sebagai tempat wisata memang luar biasa. Aku kembali bertanya ke arah keduanya.
"Apa kalian masih bingung?"
"Benar Aksa, untuk apa orang-orang ini datang dan menjalani hidup miskin serba kekurangan?"
"Aku juga berfikiran sama tuan."
"Mudahnya seperti ini, pertama-tama orang akan hidup serba kekurangan, setelah mereka bosan dengan kehidupan seperti itu mereka akan pergi ke distrik bangsawan untuk mendapatkan kemewahan, dengan ini mereka akan merasa bahagia setelah melewati penderitaan."
"Jadi begitu, mereka semua hanya datang untuk sebuah hiburan."
__ADS_1
"Seperti itulah, baik atau buruknya kota mereka sendiri yang bisa menilainya."