Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 242 : Pertempuran Di Ibukota Animalia Bagian Empat


__ADS_3

Sudut pandang Malifana.


Saat keributan memancing seluruh penjaga keluar kami berdua mulai menyelinap masuk, aku dan Naula mulai menjatuhkan para penjaga.


Naula dengan kekuatannya saja mampu menumbangkan seluruh penjaga yang hendak menghentikan kami, sementara domba kecil di sampingnya hanya menonton.


Di dalam ruangan sempit seperti ini, kami benar-benar harus menjaga sihir kami agar tidak merusak apapun.


Naula melompat di antara dinding lalu memukul kepala penjaga dengan mudah hingga tak sadarkan diri sebelum mengajakku kembali menyusuri lorong ini.


"Di depan ada tangga yang menuju ke bawah."


Dengan ini aku pasti bisa menyelamatkan orang tuaku.


"Jadi di sana."


Tepat saat kami menuruni tangga seorang tengkorak dengan jubah telah mendahului kami. Dia duduk di kursi dengan sebuah sabit yang dilengkungkan di lehernya.


"Aku telah menunggu kalian."


***


Menyadari sosok yang mengerikan itu. Malifana bergegas berdiri di depan Naula, dengan sedikit gerakan yang telah dipelajarinya dia menciptakan rentetan lingkaran sihir pencegahan untuk melindungi diri mereka tatkala sosok tengkorak itu menembakan bola api hitam.


Ledakan terserap baik oleh lingkaran sihir Malifana.


"Sihir yang bagus."

__ADS_1


Naula menarik tombak lipatnya dan bertanya.


"Aku tidak tahu siapa kau, tapi bisakah kau pergi dari sini dan biarkan kami menyelesaikan pekerjaan ini."


"Ini mungkin membuat kalimat kecewa, tapi sebelum kalian bisa mengalahkanku kalian tidak bisa melewatiku... Namaku Olif, salah satu anggota dewan meja bundar yang terkuat."


Naula melirik dan melihat sekali lagi menembus matanya, perkataannya tidak ada keraguan lagi jelas hal 'Terkuat' bukanlah hanya guyonan ataupun sebatas pernyataan tanpa dasar.


Saat dia sadari tubuhnya telah terbelah dua, darah bagaikan derasan air sungai menggenangi lantai, bersamaan kegelapan yang hanya dihiasi cahaya obor-obor dia melirik ke arah Malifana ataupun Lola sebagai roh kontraknya.


Tidak berbeda darinya tubuh keduanya telah dihabisi dengan sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan ketika tubuhnya terpotong dia masih melihat riak-riak darah yang diinjak oleh sepatu boot milik Olif.


Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya.


Sebuah suara memukul tulang belakangnya.


Tepat saat suara itu mencapainya akhirnya dia menyadari sesuatu, tubuhnya telah ditarik oleh Malifana keluar bersama domba kecil miliknya.


"Bagaimana bisa?"


"Dia memiliki kemampuan Ilusi, pastikan untuk tidak terkena kabutnya.


Bagi Naula hal itu jelas mustahil, dia melirik ke depan tampak melihat sosok tengkorak yang mengejarnya di lorong.


Bayangan hitam menyeruak dari pinggir-pinggir dinding.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, pokoknya mari keluar dan bertarung di tempat luas."


"Yang dikatakan Malifana benar, aku yakin monster yang mengejar kita sangat berbahaya."


Olif melemparkan bilah hitam dari sabitnya bersamaan itu ledakan terjadi, tepat saat mereka melompat ke luar pintu debu dari material bangunan meluap ke udara.


"Sungguh luar biasa karena gadis kecil sepertimu bisa menahan ilusi dari kabutku hingga tidak mengenaimu, apa kau seorang gadis suci."


"Aku hanya gadis biasa dari kultus Nermala."


"Dewi tunggal kah, kupikir tidak perlu menyembahnya karena pada akhirnya dewi itu juga akan meninggalkan dunia ini... seperti dewi lainya."


"Beliau bukan orang yang seperti itu."


Kabut hitam menyebar dari mulut Olif, dia memamerkan ujung bilah sabitnya dengan kepercayaan diri di wajahnya.


"Aku dilarang untuk membunuhmu tapi kurasa domba dan temanmu itu bisa kuhabisi."


"Tidak semudah itu, Lola."


"Baik."


Dengan memberikan mana kepada Naula dia mengulurkan tangannya dan dari sana pedang-pedang angin meluncur dengan kecepatan tinggi.


"Percuma."


Bayangan di bawah Olif membentuk dirinya sebagai tembok keras untuk melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2