
"Cih, kalau begitu bersiaplah untuk bertarung denganku! Kalian semua mundur! Biar aku yang hadapi Tuan Muda Xin kedua ini!"
"Baik, mengerti Ketua!"
Xin Chen melipat kedua tangannya bingung, "Sudah ingin bertarung saja? Memang siapa yang akan bertarung?"
"Kau ini! Serius bertarung atau tidak?"
"Kau yang seharusnya serius, apa kau kehilangan akal sehatmu sampai mengajak bertarung anak di bawah umur seperti ku?"
Ketua Empat Unit Pengintai membungkam mulutnya terdiam, dia masih terlihat begitu emosi namun di sisi lain Xin Chen mengatakan hal yang sebenarnya. Menantang bertarung seperti ini sama saja seperti melakukan hal yang memalukan untuk petarung senior sepertinya.
"Kalau itu mau mu begini saja, siapapun yang lebih dulu mendapatkan Baja Phoenix ini saat dilemparkan berhak memilikinya. Mengerti?"
"Adu kecepatan? Hah, kau merasa lebih unggul dariku?"
Xin Chen menggeleng kecil, "Bukan, setidaknya satu-satunya hal yang bisa ku harapkan hanya itu."
"Baiklah kalau itu mau mu!"
Xin Chen mengeluarkan dua buah Keping Baja Phoenix dari cincin ruangnya seraya melihat wajah-wajah para pendekar di depannya sejenak yang sudah tak sabar untuk memperebutkan Pusaka Langit tersebut. Meski tahu hal ini cukup berbahaya untuk dilakukan tapi Xin Chen harus memastikan dirinya kabur dengan cara yang cukup adil.
Karena jika dia kabur tanpa membuat mereka malu akibat kekalahan, bisa saja Empat Unit Pengintai mengganas dan malah menyerang orang-orang di sekitarnya. Hal ini ditakutkannya malah akan berdampak pada keluarganya di Lembah Kabut Putih. Meski dia tahu Ayahnya tak akan membiarkan Ibunya dan Xin Zhan terluka tapi tetap saja, Ayahnya itu tak setiap waktu berada di sana. Baginya memastikan masalah ini tak menjalar ke tempat lain adalah hal yang sangat penting.
Kedua tangan Xin Chen sudah bersiap melemparkan dua keping Baja Phoenix, Ketua Empat Unit Pengintai bersiap mengambil posisi. Dia yakin pada dirinya sendiri akan mendapatkan setidaknya salah satu dari keping Baja Phoenix tersebut.
__ADS_1
Detik demi detik terlalui hingga akhirnya Xin Chen melemparkan dua keping Baja Phoenix ke atas, Ketua Empat Unit Pengintai tanpa diduga-duga telah melesat secepat kilat dengan sebelah tangan menggenggam sesuatu.
Xin Chen berhasil merebut salah satunya sementara yang satu laginya entah ke mana, dia tak sempat merebut satu kepingan lagi karena Ketua Empat Unit Pengintai bergerak di luar dugaannya.
Ye Long mendadak muncul dan memaksa Xin Chen naik ke atasnya, dia menabrak langit-langit ruang bawah tanah yang memang sebentar lagi akan rubuh dan terbang bebas keluar dari tempat tersebut.
Xin Chen tersenyum kecil saat melihat Ye Long, bagaimana tidak, naga itu menggigit keping Baja Phoenix merah di antara giginya. Tampaknya kecepatan terbang Ye Long jauh lebih cepat dibandingkan Ketua Empat Unit Pengintai.
"Kau memang yang bisa diandalkan, Ye Long." Xin Chen hanya bisa menepuk naga itu bangga, kini saatnya kembali ke Rubah Petir secepatnya dan segera angkat kaki dari Desa Shengyou sebelum orang-orang dari Empat Unit Pengintai mengejarnya.
Dalam perjalanan kembali Xin Chen dapat menemukan Rubah Petir dari kejauhan, sosok Rubah itu masih senantiasa menunggu mereka di tempat mereka bertemu tadi sembari mengumpulkan kekuatannya di alam terbuka. Angin di atas perbukitan membuat bulu ekornya bergerak dengan tenang.
Jantung Xin Chen terasa melompat dari rongganya ketika rubah itu membuka mata, benar-benar ekspresi wajah yang hampir menyerupai setan. Ye Long bahkan berusaha sembunyi di balik tubuhnya saat tatapan itu ditujukan kepada mereka.
"A-aku bisa jelaskan...."
"Jelaskan apa?"
Xin Chen susah payah menelan ludah nya, mungkin menjelaskan pada Rubah Petir akan jauh lebih sulit dari pada melarikan diri dari markas Empat Unit Pengintai.
"Begini, Pedang Baja Phoenix ku dicuri saat aku sedang mencari keping Baja Phoenix yang lain seperti perintahmu tadi."
"Bagaimana kau bisa seceroboh itu? Seharusnya kau tahu dari awal, keluarkan Pedang Baja Phoenix itu hanya saat kau membutuhkan senjata untuk melawan lawan yang memang sulit kau imbangi." Rubah Petir memasang wajah tak suka, Xin Chen dapat melihatnya dengan jelas dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Ya, ya. Aku memang ceroboh. Tapi setidaknya aku sudah mendapatkannya kembali bersama keping Baja Phoenix yang satunya lagi."
__ADS_1
Rubah Petir mengeluarkan aura siluman begitu kuat, "Kau kira itu sudah cukup bagus? Aku bisa mendengar kegaduhan dari jauh sana. Mereka akan menjadi musuh terbesarmu mulai saat ini. Dan mungkin juga semua orang di Kekaisaran setelah ini akan mengincar kepalamu! Kau paham dengan maksudku?"
Walaupun agak kaget karena bentakan tersebut Xin Chen mencoba untuk tetap tenang, benar apa kata Rubah Petir. Tidak menutup kemungkinan orang-orang dari Empat Unit Pengintai mengabarkan bahwa dua keping Baja Phoenix berada di tangannya.
Siapa yang tak mau merebut barang itu jika sudah tahu letak pastinya. Xin Chen bisa menjamin bahkan kepalanya akan diincar oleh orang-orang seperti Zhang Ziyi ke depannya. Di dunia ini masih banyak petarung handal yang memiliki kekuatan di atas batas wajar manusia biasa. Mereka bahkan bisa hidup lebih dari tiga sampai lima ratus tahun dengan menggunakan kekuatan.
Namun Xin Chen agak tak setuju dengan pemikiran Rubah Petir, dia masih mencoba berpikir menggunakan sudut pandang orang-orang Empat Unit Pengintai. Melihat mereka begitu terobsesi mendapatkan dua keping Baja Phoenix tadi setidaknya Xin Chen dapat mengambil satu kesimpulan.
"Mereka takkan memberitahu tentang hal ini pada orang-orang luar. Jika mereka mengatakan aku merebut pusaka ini dari mereka, jelas-jelas Ketua mereka akan diremehkan karena tak berhasil menyingkirkan anak kecil sepertiku. Dan lagi pula jika mereka memberitahu hal ini pada orang banyak itu sama saja seperti mereka menambah pesaing untuk memperebutkan Baja Phoenix ini dari tanganku."
Wajah Rubah Petir agak berubah ketika Xin Chen menjelaskan alasannya, cukup masuk di akal baginya meskipun saat ini rubah masih ingin memarahinya.
Semenjak tadi markas Empat Unit Pengintai mengalami keributan besar maka dari itu Rubah Petir bisa menebak dalang di balik itu semua, terutama saat mereka membuat pengamanan ketat di sekitar gerbang. Hal ini memunculkan banyak tanda tanya di kepala para pendekar di Desa Shengyou.
Andai saja saat di dalam markas Empat Unit Pengintai tadi Xin Chen tertangkap, bukan hanya kepalanya saja. Ye Long pun akan dipenggal hidup-hidup di dalam sana.
"Dengan begini kau paham di mana posisimu sekarang, Chen?"
"Ya, aku paham betul. Mulai hari ini kepalaku akan menjadi incaran Empat Unit Pengintai, begitu bukan?"
"Tanpa harus kukatakan kau mengerti juga, baguslah. Sekarang kita harus bergegas pergi dari sini."
"Baik, baik." Xin Chen hendak melangkah namun kakinya tertahan saat menyadari ada sesuatu yang janggal. Dia memerhatikan Ye Long sekali lagi dan menautkan kedua alisnya.
"Giok yang kemarin kuberikan padamu hilang?" Xin Chen masih ingat dia sempat mengambil barang Gu Long dan memberikannya sebagai hadiah kepada Ye Long. Benda itu kini menghilang dari lehernya.
__ADS_1