Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 170 - Sang Perantara


__ADS_3

"Kau semakin kuat, Kakak Zhan."


Mendadak Xin Zhan diam, dia tidak menjawab apapun. Tapi tak lama kemudian akhirnya dia kembali membuka mulutnya, dengan wajah yang sedikit murung.


"Apa kau sedang meledekku?"


"Jangan sembarangan, terakhir kali aku melihatmu, kau bisa membunuh siluman buas dengan mudah. Dan sekarang, bahkan pendekar agung bukan tandinganmu lagi."


Sedikit tertawa Xin Zhan, baru kali ini adiknya melihat tawa itu setelah bertahun-tahun hidup dengannya dan hanya wajah galak yang diperlihatkannya. Kepribadian Xin Zhan jauh lebih dewasa dari yang Xin Chen lihat sebelumnya.


Dia meneruskan, "Dan juga! Kupikir kau lebih cocok jadi Pilar Kekaisaran pertama! Ah, melihatmu bisa memimpin para prajurit di sini dan pembawaanmu yang tenang. Dibandingkan aku, kau lebih cocok untuk kehormatan itu."


Saat Xin Zhan melihat matanya, Xin Chen benar-benar tulus mengatakannya. Dia sedikit tersenyum lalu mengulurkan tangan.


"Kalau begitu cepat bangun, sudah ada beberapa Senior dan juga para jagoan Kekaisaran kita untuk membantu Ayah. Sementara itu, kau harus ikut denganku ke Kota Fanlu. Ibu sudah menunggu kita di sana."


Namun uluran tangan Xin Zhan tidak bersambut, dia menarik kembali tangannya dengan canggung dan menatap adiknya penasaran.


"Hah! Sudah seharusnya aku tidak bersikap sok baik di depanmu!"


Xin Chen bangun dengan tenaganya sendiri, melihat Xin Zhan ragu-ragu.


"Tolong jaga Ibu, aku akan menjaga Ayah di sini."


"Apa-!?"


"Aku sudah berjanji akan melindunginya. Apapun yang terjadi, ah, dan juga tidak perlu khawatir. Sepertinya aku tahu asal racun di tubuhku ini ...."

__ADS_1


Xin Zhan mencebik tak habis pikir, dia menarik napas dan terlihat tenang seperti biasa. Wajahnya yang seputih kapas akan langsung memerah kalau sedang murka, maka dari itu saat Xin Zhan marah adiknya akan cepat-cepat memalingkan muka. Takut melihat wajahnya yang seperti hantu.


"Aku tidak tahu kau makan apa sampai memakan bunga beracun itu! Dan bodohnya lagi, bunga itu seharusnya dari tempat yang sangat jauh, kenapa juga bisa ada di tubuhmu itu?"


Xin Chen tak mengetahui Xin Zhan paham tentang racun ini, sebenarnya Xin Chen sendiri sudah memperkirakan hadiah yang diberikan oleh Fu Yu dari sekte Bunga pada saat singgah di Kuil Teratai beberapa hari lalu. Namun karena tak mencium bau racun dan kandungan membahayakan apapun dia segera menerimanya karena merasa tak enak mencurigai gadis lugu tersebut.


Siapa sangka sekarang yang bersemayam dalam tubuhnya adalah racun dari bunga teratai dari sekte mereka, racun tersebut mungkin seharusnya bekerja beberapa jam setelah Xin Chen meminumnya namun karena tubuhnya memilki kemampuan spesial maka serangan racun itu dapat ditahannya sampai dua hari.


Xin Zhan teringat sesuatu, "Benar kataku kau harus ikut! Percuma saja jika kau menggunakan kekuatanmu maka racun itu akan semakin menyebar, dia akan menghentikan aliran tenaga dalammu. Dan kau akan lumpuh dan menjadi tak berguna."


"Mereka sudah memperkirakan sampai ke situ, ya?" bisiknya kecil.


"Apa?" Sahut Xin Zhan heran.


"Tidak ada. Hanya saja aku akan menahan sampai bala bantuan datang, kau harus segera kembali menjaga ibu. Di saat-saat seperti ini banyak penjahat yang akan mengincarnya."


"Arrrghh ampun-ampun!" Xin Chen menggerutu dalam hati, dia melepaskan diri setelahnya.


"Kalau begitu aku berjanji akan kembali saat bala bantuan datang!" Xin Chen berjanji, memelas sampai membungkukkan badannya beberapa kali.


Adu mulut mulai terjadi, bahkan jika langit runtuh pun keduanya sama-sama tidak peduli sampai perdebatan ini berakhir. Xin Chen terus memelas sementara Xin Zhan tetap keras kepala.


"Kalau begitu aku akan menjaga ibu, tapi siapa yang akan menjaga Ayah?!" Xin Chen berteriak, baru kali ini dia merasa hampir habis suara. Bertengkar dengan Xin Zhan memang harus pakai urat, keduanya saling berteriak satu sama lain. Tidak ingin mengalah.


"Aku bisa menjaga Ayah!"


"Pikirkan dulu baik-baik, itu pun jika otakmu masih di kepala, Kakak Zhan!"

__ADS_1


"Beraninya kau-!!"


Tak lama Xin Zhan diam beribu bahasa, dia teringat saat Xin Chen menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan Han Zilong. Saat Xin Chen memuji kekuatannya tadi entah mengapa harga diri Xin Zhan terluka. Sangat. Dia mengepalkan tangan sangat kuat, lalu berbicara tanpa menatap adiknya. "Baiklah jika kau ingin tetap di sini! Tapi jangan menangis jika kau takkan bisa melihat wajah ibu lagi!" Napas Xin Zhan tertahan, dia masih sangat-sangat marah namun tak bisa mengutarakannya dengan jelas.


"Dan juga, jika sampai kau kembali tanpa Ayah... Aku yang pertama kali akan membunuhmu! Dengarkan itu baik-baik!"


Xin Zhan membalikkan badannya cepat, enggan melihat wajah adiknya lagi. Sementara Xin Chen kembali melihat ke atas sana. Dia memegang dadanya dan mencoba menyembuhkan sesuatu yang menggerogotinya di dalam. Meskipun sudah diajari cara penyembuhan namun kemampuannya memulihkan luka masih kurang. Apalagi ini menyangkut bagian dalam tubuhnya.


"Bertahanlah sampai aku memotong kepala lelaki itu!" gumamnya pada diri sendiri. Xin Chen memutuskan menggunakan kekuatan roh, dia yakin yang membuat tubuh ayahnya bisa terbang seperti itu adalah para roh yang mengitarinya.


Namun Xin Chen tidak pernah mempelajari teknik itu, dikarenakan waktunya yang tidak banyak. Kekuatan dalam tubuhnya sangatlah besar namun karena harus mengobati luka dalam tubuhnya kekuatan itu sedikit demi sedikit berkurang.


"Si Fu Yu itu, lihat saja nanti kalau aku bertemu dengannya." Xin Chen menarik napas dalam-dalam, para roh keluar dari Kitab Pengendali Roh.


Jika diingat-ingat lagi, kematian Han Wu sebelumnya sangat mengerikan. Tidak sedikit pun bagian tubuhnya yang tersisa setelah pertarungan. Hanya ada dua kemungkinan, tubuhnya hangus oleh petir atau yang paling masuk akal adalah para roh ini memakan tubuhnya.


Selama menggunakan kekuatan roh, Xin Chen tak bisa berlama-lama menghilangkan wujudnya. Hal ini terasa sangat aneh dan berbeda dari kekuatan yang dimiliki Zhang Ziyi. Lelaki itu dapat menggunakan wujud tersebut semaunya dan tidak ada batas waktu yang membatasinya.


Kematian Han Wu sendiri seperti memunculkan dugaan lainnya, Xin Chen berpikir dalam-dalam.


"Apakah dia menghadiahkan tubuhnya pada roh ini, dan dengan begitu kekuatan asli mereka akan keluar?"


Xin Chen masih terus berpikir, dia berada dalam satu keputusan sulit saat ini. Apakah dengan memberikan tubuhnya pada Kitab Pengendali Roh ini maka dirinya akan memiliki kendali penuh atas mereka.


"Lagipula tubuhku ini ...."


"Kau ingin memberikannya pada kami?" Tanpa disadarinya para roh yang tadinya menyebar di udara menyatu dan membentuk sebuah wujud manusia. Namun tubuh itu hanya sekedar sampai ke atas lutut, energi gelap nan hitam mengelilinginya. Xin Chen merasakan ancaman, bahkan oleh para roh itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2