
Saat kelompok aliran hitam itu disibukkan oleh kehadiran naga hitam, mereka nyaris tak peduli lagi dengan keadaan sandera. Banyak yang langsung menyerbu ke arah Ye Long, bahkan dari arah kamp semuanya berdatangan.
Xin Chen mengawasi sekitarnya, matanya tertuju pada paviliun kecil di mana sebuah kekuatan besar berasal. Sekali lagi matanya tertuju pada Ye Long seraya berkata, "Kualihkan padamu, Ye Long."
Sosok tersebut menghilang begitu saja dari tempat, salah satu pendekar melihat hal itu dengan tatapan percaya tak percaya, dia berusaha menunjuk ke tempat di mana sandera mereka duduk semula. Namun tak ada yang mau mendengarnya, prioritas mereka saat ini adalah untuk menumbangkan naga hitam tersebut.
Bangunan utama yang dikelilingi paviliun ditumbuhi oleh bunga-bunga liar yang diciprati oleh darah, dua penjaga yang berdiri di sana meregang nyawa tanpa tahu siapa yang baru saja membunuh mereka, terdengar suara-suara bisik dari dalam. Tampaknya orang yang tinggal di tempat itu sedang terlibat percakapan serius, suara mereka terlalu kecil hingga Xin Chen pun tak dapat mendengarnya dengan jelas.
Percakapan ketiga orang berusia lanjut itu seketika berhenti saat jeritan para pengawal membuyarkan perhatian. Orang di luar melihat mayat para penjaga yang telah bersimbah darah. Satu dari mereka hendak keluar dan mendadak langkahnya terhenti tepat sebelum pedang tajam menembus batang tenggorokannya.
Dua yang lain berdiri terkejut, tak menyangka tempat mereka yang seharusnya diawasi dengan ketat dimasuki oleh penyusup. Tanpa berbasa-basi dua orang tersebut menyerang Xin Chen dalam waktu nyaris bersamaan. Pertarungan sengit di ruangan sempit itu membatasi gerak mereka, bunyi dentingan pedang beruntun menjelaskan betapa gesitnya tiga orang yang telah lanjut usia itu. Meski pun salah satu dari mereka sudah menginjak delapan puluh tahun tapi tenaganya bisa disetarakan dengan kekuatan anak muda.
Tiang rumah ditebas miring, atap rumah berderak saat salah satu penyangga di buat hancur. Satu dari mereka menebas ke segala arah dan menghancurkan seisi ruangan. Temannya yang lain menyerang fokus di satu titik di mana dia bisa melihat Xin Chen memunculkan diri.
"Cih, aku tidak tahu teknik apa yang kau gunakan. Tapi jujur saja sangat menyebalkan."
"Lebih menyebalkan lagi bertarung melawan tiga kakek bau tanah."
Laki-laki tua itu tertohok, alisnya menyatu membentuk keriputan dalam yang berlapis-lapis. Riak wajahnya begitu kesal, tangannya memotong pilar di sebelahnya dengan pedang. Kayu itu terbelah dengan mudah. "Mulutmu-!"
Dia menahan kata-katanya dan refleks menghadang tebasan pedang yang datang tiba-tiba, detik itu dia bisa melihat dengan jelas musuh yang kini mereka hadapi. Umurnya saja bahkan belum menyentuh kepala dua. Namun kekuatan dan teknik bertarungnya mampu menyaingi mereka bertiga.
__ADS_1
"Kau-? Siapa kau sebenarnya dan apa masalahmu sampai mengganggu kami?"
"Apa masalahku? Pertanyaanmu konyol sekali. kalian membuat masalah di mana-mana, jelas saja musuh kalian bertambah semakin harinya. Apa yang kau pertanyakan? bukannya itu wajar?"
Sahutan itu jelas-jelas memancing kemarahan sang kakek tua, dia menebaskan pedang di sebelah kiri, kelihatan lebih serius dari sebelumnya.
"Berarti kau jelas-jelas mencari mati. kau datang sendirian ke sini? Sombong sekali. Jelas saja, kau hanya anak muda yang tak paham apa-apa. Tahu apa kau soal pertarungan? Tidak ada."
Laki-laki itu mengangkat pedang dengan kedua tangan, sebelum sempat mengenai musuh keseimbangannya tiba-tiba saja goyah menyebabkan tubuhnya jatuh ke samping. Dia tak bisa merasakan apa pun detik itu selain darah yang terus merembes di tempatnya terbaring.
Saat mencoba melihat sepasang kakinya telah terpotong sampai ke lutut, dua menggeleng dan merangkak. Sebelum sempat membuka mulut tebasan lainnya membuat kepalanya terpenggal.
Dua laki-laki yang tersisa mundur saat Xin Chen datang ke arah mereka, bayangannya menghilang di tengah ruangan yang temaram oleh cahaya lilin. Angin dari luar masuk membuat api di lilin bergoyang, pandangan mereka menjadi buram saat lilin itu mati terhembus angin badai.
"Tidak mungkin ..." Ekspresi wajahnya berubah takut, pedang di tangannya jatuh saat sosok berjubah bulan darah datang memunculkan diri. Ketakutannya semakin menjadi saat sesuatu terlihat menyala di wajah yang ditutupi bayangan gelap itu. "Kau monster ...,"
"Pernah dengar sebuah cerita anak-anak?"
Laki-laki itu terlalu takut untuk menjawab sementara sosok yang disebutnya monster itu tak peduli dengan jawabannya dan meneruskan berbicara.
"Dongeng anak kecil, ibu sering menceritakannya padaku agar aku tak sembarangan datang ke gunung." Dia menyeringai tipis, "Seekor Monster yang memakan sampah para manusia. Dia terus memakan sampah sampai-sampai tubuhnya tumbuh besar mengalahi gunung itu sendiri."
__ADS_1
Pria tua itu meringsut ke belakang, mencoba berbalik badan dan melarikan diri dari hawa memataikan yang membekuk jantungnya itu.
"Bagaimana jika monster itu benar-benar ada dan memakan sampah para manusia seperti kalian? Mempermainkan nyawa manusia sebagai bahan tertawaan, humormu sepertinya lebih gawat daripada Lan Zhuxian."
"Hei, hei, Santai. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kau butuh apa? Uang? Ambillah semua yang ku punya, jangan bunuh aku!"
"Oh tentu saja uang. Tapi mau kau terbunuh atau tidak aku akan tetap mendapatkannya. Kesepakatanmu berakhir di sini."
Matanya membesar saat pedang tajam terangkat hendak menusuknya yang terduduk di lantai. "Tu-tunggu! Tunggu!"
"Mau menawarkan apa lagi? Nyawa dibayar nyawa. Kau lebih paham tentang itu."
Laki-laki itu terus bersikeras untuk hidup, dia berpikir dengan panik. Matanya bergerak liar mencoba mencari cara untuk melarikan diri. Sayangnya saat ini posisinya serba terpojok, tidak ada celah untuk kabur. Xin Chen bisa saja membunuhnya saat berusaha lari.
"Tidak ada lagi yang harus diperbincangkan. Matilah, penjaga neraka bisa mati kebosanan menunggu kau terus."
"A-aku tidak mau mati! Aku harus hidup abadi, ka-kau tahu? Keabadian ... Hidup selamanya, aku berhasil hidup sampai delapan puluh tahun dan ingin terus hidup sampai tiga ratus tahun. Aku akan terus bertambah kuat, kau pasti akan membutuhkanku suatu saat nanti."
"Omong kosong macam apa ini," gumam Xin Chen. Dia mencengkram gagang pedangnya yang dia dapat dari penjaga paviliun tepat di depan bola mata laki-laki itu.
"Nyawa diganti dengan informasi. Sepakat?"
__ADS_1
Laki-laki itu kontan berseru cepat.
"Sepakat!"