
Terdapat satu tempat di mana kekuatan murni berkumpul pesat. Tempat yang begitu jauh dari pemukiman manusia dan hanya bisa ditempuh menggunakan jalur laut. Air yang mengelilingi sebuah pulau dengan gunung berapi di tempat sepi tersebut begitu tenang. Namun siapa sangka, air tenang itu telah merenggut nyawa ribuan orang. Tak ada yang pernah tahu apa gerangan yang membuat manusia-manusia mati saat mendekati pulau gunung misterius tersebut. Tak ada pula yang berani memastikan lagi hingga dalam seratus tahun terakhir, tak satu pun manusia mendatangi tempat tersebut. Legenda pulau berhantu menyebar sudah sejak lama, di pulau yang begitu jauh dari pesisir pantai itu sebenarnya hanya ada kumpulan gunung berapi yang tandus. Dikatakan bahwa di sana tak ada kehidupan sama sekali. Entah itu binatang atau manusia. Suhu tak biasa di pulau tersebut bukanlah tempat yang cocok untuk hidup. Dan lagipula tak ada pendekar yang mau bersusah payah melatih tubuhnya di pulau itu hanya demi kekuatan alam murni yang sangat berbahaya.
Di pesisir pantai yang tampak jarang didatangi itu tak ada satu pun perahu terlihat, Shui menatap Xin Chen di sampingnya.
"Bersiaplah untuk menyelam."
"Tidak perlu." Jawaban Xin Chen terdengar santai, Shui mengerutkan dahinya sampai berlipat-lipat. "Kau tidak mau pergi ke sana? Ku beri tahu saja dia tak akan mau keluar. Itu pun kalau dia ada di sana."
"Aku tak perlu menyelam. Cukup masuk ke dimensimu sampai kau tiba dengan selamat di sarangnya."
"Cih, kalau urusan susah kau paling pandai mencari cara untuk mengelak."
*.
Xin Chen kini berada di Dataran Yang. Tempat yang begitu indah di mana tak ada satu pun manusia dapat masuk di dalamnya. Memang kekuatan spesial Shui terkesan tak ada gunanya dalam pertarungan maupun perang.
Dia menatap tak percaya, dulu dikatakan klan Xin pernah tinggal di tempat ini untuk waktu yang lumayan lama. Hal itulah yang membuat Shui begitu dekat dengan ayahnya. Xin Chen mendekati sebuah rumah kecil yang begitu sederhana, mungkin itu dibuat untuk manusia. Dan dia tidak yakin apakah memang ada manusia di sana.
Tangannya membuka pelan pintu, melihat sesosok rubah tengah terbaring di sana. Tubuhnya begitu dingin dan bulu abu-abunya mengeras oleh cairan darah. Xin Chen teringat saat pertama kali dia menemukan Rubah Petir yang sudah tak bernyawa, mungkin hari itu sama hancurnya seperti ketika ayahnya pergi bersama musuh. Dia membunuh banyak orang tak bersalah hanya untuk memadamkan kemarahannya.
"Aku selalu merasa ini salahku."
__ADS_1
Xin Chen duduk di sisi Rubah Petir, mata birunya terlihat kosong dan hampa.
"Seharusnya sebelum perang itu datang aku memberi tahu ayah. Seharusnya hari itu aku lebih kuat. Dan seharusnya hari itu ... Aku tidak meninggalkanmu."
Bagaimana dia bisa tidak menyadarinya selama tujuh tahun ini, usai perang Rubah Petir lah yang paling babak belur. Kekuatan yang dia simpan jutaan tahun telah digunakannya hanya untuk hari itu. Hanya untuk memperjuangkan para manusia yang justru berbalik menyerangnya. Rasanya begitu asing ketika melihat rubah pemarah itu diam dan kaku seperti kayu. Xin Chen berujar kecil.
"Beri tahu aku siapa yang mengambilnya. Sekalipun harus melawan Naga Es seperti ayah dulu, atau dengan membunuh Naga Kegelapan aku dapat menebus kesalahanku ini ..."
Percuma saja mengatakannya jika hanya dirinya yang berbicara. "Aku benar-benar tidak ingin menyesal lagi."
Kesalahannya dulu adalah membuang segala hal yang penting baginya. Ye Long, Ren Yuan dan juga Xin Zhan dan juga Rubah Petir. Dia sudah mencoba memperbaikinya dan kini hanya Rubah Petir yang tak dapat diselamatkan.
Xin Chen baru menyadari Shui di luar rumah saat itu. Tubuhnya yang begitu besar terlihat asing di mata Xin Chen, mengingat Xin Chen selama ini terbiasa melihat wujud manusia Shui yang terlihat seperti wujud perempuan aneh.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di sebuah tempat yang begitu besar. Bebatuan berharga tumbuh di sana dan ditumbuhi lumut. Xin Chen takut saja karena benda-benda berkilau ini Ye Long keluar dari sarangnya.
"Ini di mana?"
"Sepuluh ribu kaki di kedalaman laut. Asal kau tahu."
Xin Chen tertegun saat melihat Shui menutupi lengannya yang tampak terkelupas. Sepanas itu suhu air di luar sana hingga Siluman Penguasa Air sepertinya terkena imbas yang cukup parah.
__ADS_1
"Sudahlah tidak perlu cemas begitu. Aku akan kekeringan jika terus berada di suhu setinggi ini. Secepatnya kau temui dia dan katakan apa yang sedang terjadi di luar. Aku yakin mendekam ribuan tahun di sini dia sama sekali tak tahu si Naga Kegelapan itu sudah mulai berulah."
Di kaki gunung berapi yang terletak di dalam dasar laut itu, suhu kian meningkat drastis. Shui mencebik berulang kali sambil berteriak, mengatakan dirinya adalah Siluman Penguasa Air. Tetapi hal itu tak menghasilkan apa-apa selain suhu yang semakin naik tiap menitnya.
Sialnya tubuh manusia Shui begitu rapuh, dia mengubah wujudnya menjadi naga air kecil. Dan memilih mengikuti Xin Chen, mereka terus masuk ke dalam kaki gunung berapi yang sudah lama tak aktif itu. Tak ada tanda apa pun di dalamnya selain bunyi-bunyi laut yang mengerikan.
Keduanya nyaris putus asa.
Shui telah tiba di tempat di mana seharusnya siluman itu bersembunyi. Dan dia tidak ada di sana selain reruntuhan batu.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi atau kulit asliku akan rusak parah."
"Naiklah ke permukaan. Aku akan menyusul setelah menemukan sesuatu."
Shui tak tahu harus berbicara apa, yang menjadi prioritasnya kini adalah kulitnya yang menjadi pertahanan pertamanya sebagai seekor naga. "Kalau begitu aku kembali, tetap hati-hati di sini dan cepatlah naik ke permukaan."
Xin Chen mengangguk. Sepeninggalan Shui, dia terus mencari ke berbagai celah dan tempat. Xin Chen masuk semakin dalam ke dalam hingga dari kejauhan dia dapat melihat sebuah terowongan berisi lahar merah yang menyatu dalam air. Sebuah tempat yang berbeda dari sebelumnya. Dia masuk ke dalam terowongan dalam itu. Semakin menjauh dari permukaan dan mengantarkannya pada ruang kosong di mana api-api merah menyala tanpa padam oleh air. Xin Chen mulai mengingat cerita Shui saat di Lembah Para Dewa. Bagaimana bisa naga itu mengalahkan siluman ini, apinya bahkan tak padam oleh air.
Dan yang lebih penting, aura membunuhnya menyerang Xin Chen tanpa pandang bulu. Tempat itu layaknya neraka. Neraka bawah laut yang dihuni oleh mahluk mengerikan. Wujudnya yang memerah membara oleh api serta mata pembunuh yang ditujukan langsung pada Xin Chen.
"Manusia tidak tahu diri."
__ADS_1