
Wei Feng semakin khawatir, kini Gu Long serius ingin membunuh Xin Chen. Terlepas karena anak itu pandai menghindari serangannya dan membuatnya begitu kesal hingga urat-urat nadi bermunculan di keningnya.
Xin Chen melepaskan serangan petir bercampur api dan Gu Long menggencarkan serangan dalam waktu bersamaan, dia melepaskan satu tebasan dan setelahnya melemparkan jarum beracun pada Xin Chen.
Tak bisa mengelak dari jarum beracun tersebut, Xin Chen mencoba menangkisnya dengan pedang. Tapi sayang, satu dari tiga jarum tersebut menusuk kulitnya dalam.
"Tidak adil! Hei, Pak Tua Gu!" Wei Feng mengenali jarum beracun tersebut, termasuk sebagai salah satu senjata rahasia berbahaya yang diciptakan oleh alkemis dari Kekaisaran lain. Walaupun tidak membunuh tapi efektif membuat pendekar besar tumbang tak berdaya.
Pergerakan Xin Chen melambat, sadar posisinya mulai terancam dia mundur dari Gu Long yang terus mendekat.
"Kau bermain curang."
"Hmmm? Kau terlalu polos, dalam pertarungan hanya ada hidup atau mati. Tidak peduli cara kau menang, asal musuhmu mati saja kebanggaan akan datang kepadamu. Orang-orang akan tunduk dan menjadi bawahanmu."
Denyut nadi Xin Chen ikut melemah seiring dengan racun yang terus menyebar ke dalam peredaran darahnya, membuat dia mati rasa dan mulai terlihat pucat dalam waktu bersamaan. Xin Chen baru menyadari satu hal di saat itu. Selama ini dia terlalu bergantung pada kekuatan Topeng Hantu Darah dan mengabaikan kelihaiannya dalam bertarung.
Kesalahan fatal itu benar-benar terjadi sekarang, Gu Long mencengkram pipi Xin Chen dengan sebelah tangan. Mengangkatnya ke atas hingga tak bisa berpijak. "Kurasa hanya omonganmu saja yang besar. Lihatlah, kau benar-benar gagal... Bagaimana? Mau menangis sebelum isi perutmu ku keluarkan?"
Xin Chen tak mampu lagi membuka mulutnya, udara yang masuk ke dalam paru-parunya menipis. Darah pun terasa tak mengalir lagi, membuat sekujur badannya mati rasa. Gu Long mengambil kembali pedangnya yang terlempar ke tanah karena ditangkis oleh Xin Chen sebelumnya. Menampilkan senyuman iblis dengan deretan giginya yang tajam.
Naga Hitam membuka matanya tiba-tiba, menyadari Tuannya sedang berada dalam bahaya dia memberontak. Para pendekar yang menjaganya menanggapi dengan cepat, mereka melilit mulut naga itu memakai tali agar tak menyemburkan api. Melihat naga tersebut bereaksi Gu Long sedikit terganggu, dia mengalihkan perhatiannya.
Kekacauan mulai terjadi di mana-mana, karena Ye Long terus memberontak dan mengibaskan ekornya hingga membuat kayu-kayu di sekitarnya terhempas, mengenai penduduk yang sedang ditahan.
Saat sedang dialihkan dengan Naga Hitam, Gu Long tak menyadari kalau Yu Xiong melemparkan kerikil dan mengenai pelipisnya.
Tuk!
__ADS_1
Gu Long melirik ke arah Yu Xiong murka, bola matanya menunjukkan api amarah yang berkobar-kobar.
"Lepaskan Kak Chen atau kau-"
Yu Xiong kehabisan napas ketika tiba-tiba Gu Long sudah berjongkok di depannya, mencekik lehernya erat. Ibu Yu Xiong menangis histeris, tak mampu menyelamatkan putranya itu jika dihadapkan dengan Gu Long.
Napas Yu Xiong terputus-putus, sedikit melihat Xin Chen yang sudah terbaring lemah. Xin Chen telah diselamatkan oleh Wei Feng di sana.
"Beraninya kau--" geram Gu Long makin mengeratkan cekikannya, membuat bekas kemerahan mulai muncul di leher bocah kecil itu.
"Lepaskan anakku, Tuan. Kumohon ampuni nyawanya..." tangis Ibu Yu Xiong memelas, dia berjongkok dan ingin bersujud di depan lelaki itu, berharap anaknya masih bisa diselamatkan.
"Kau pikir aku akan mengampuninya? Terus terang saja, aku tidak akan pernah melepaskan mangsaku. Kalau perlu akan ku habisi sampai seluruh penduduk desa ini ku bakar!" teriak Gu Long, keresahan pun mulai dirasakan penduduk desa.
Sebelum Youji sempat mengangkat suara, Jin Sakai sudah lebih dulu menahan dadanya. "Ambilkan pedang untukku."
"Dengarkan saja apa kataku. Kita harus membantu Xin Chen sekarang, kau ingat dia sudah menyelamatkan ibumu? Sebagai bagian klan Jin, sudah seharusnya kita membantu orang sepertinya. Itu sebuah bentuk balas budi, Youji."
"Bu-bukan begitu, Ayah. Biar aku saja yang melawannya." Youji yakin dengan kemampuannya saat ini dia masih bisa bertarung melawan Gu Long, meski tak yakin tapi jika melindungi penduduk desa ini semuanya akan dia lakukan.
Jin Sakai tersenyum lembut pada anaknya, "Kau bukan tandingannya, Youji. Jika sesuatu terjadi padaku nanti, kuharap kau mau menyampaikan salam perpisahan terakhirku pada ibumu." Semangat bertarung yang telah hilang dalam dirinya kembali lagi, di saat Jin Sakai menjadi seorang samurai yang ditakuti oleh musuh-musuhnya. Terasa seperti kenangan lama yang membuatnya kembali di masa muda.
Youji sebenarnya ingin membantah tapi saat menatapi bola mata Ayahnya yang seperti tak mau memperdebatkan lebih panjang dia segera menurut. Melarikan diri dari para pendekar Bukit Tawon Emas dan kembali dengan sebilah pedang.
"Sudah cukup kulihat kau melawan anak kecil seperti itu. Tidak malu kah dirimu bertarung dengan cara kotor terhadap anak kecil?" Jin Sakai menggenggam gagang pedang menggunakan dua tangannya.
Aliran pedang Klan Jin memiliki teknik khusus tersendiri. Saat melihat kuda-kuda itu, sebagai petarung dengan pengalaman luas Gu Long tahu bahwa Jin Sakai bukan merupakan rakyat dari Kekaisaran Shang.
__ADS_1
"Negeri para samurai, ah, aku masih ingat dengan itu semua. Apalagi saat salah satu dari kalian memotong jari kelingkingku." Gu Long memperlihatkan jarinya, benar saja hanya tersisa empat jari di sana.
Salah satunya telah terpotong berpuluh-puluh tahun lalu. Ketika Gu Long masih mengelana di sisi lain benua. Menemukan banyak petarung hebat dan berduel hingga kehilangan banyak hal.
"Kau sepertinya penempa pedang juga, kehilangan sebelah tangan sepertinya akan menjadi penderitaan paling indah seumur hidupmu." Gu Long menghempaskan tubuh Yu Xiong yang telah pingsan, ibu Yu Xiong mendekapnya segera. Dia mendekatkan jantung anak itu pada telinganya, detak jantungnya terdengar sangat lemah.
Di sisi lain Jin Sakai menautkan alisnya, bersiap akan segala macam serangan yang bisa datang kapan saja. Gu Long sudah mengambil langkah awal, dia menggunakan Langkah Kilat yang tak pernah Jin Sakai lihat di negerinya dulu. Kecepatan dan ketangkasan Gu Long ini terbilang liar dan yang terpenting, penuh jebakan.
Beruntung Jin Sakai cukup teliti, setiap jarum beracun yang nyaris mengenainya berhasil dia tepis. Meski bisa bertahan tapi dirinya tak bisa mengelak dari tikaman pedang Gu Long, kini Jin Sakai dihadapkan pada situasi buruk. Lawannya itu membuat tekanan udara kembali berat di sekitarnya, hal ini mengakibatkan Jin Sakai tak leluasa menarik pedangnya.
Dalam satu detik, Jin Sakai menemukan celah untuk menyerang lawan. Tapi tak disangka justru itu hanya tipuan, dia telah berhasil diperdaya dan kini Gu Long memutar lengannya hingga berbunyi gemeretak. Pedang dalam genggaman tangan Jin Sakai jatuh begitu saja ke tanah.
"A-ayah!" Teriak Youji hendak menyelamatkan, Wei Feng segera menahan lengannya. "Kau hanya akan menambah korban yang jatuh sekarang ini. Kau lihat, Ayahmu saja sudah tidak bisa menahannya. Pria itu... Dia sudah bukan orang dari aliran putih lagi. Cara bertarungnya sama seperti para pendekar dari Kekaisaran Wei. Penuh taktik gila."
"Tapi... Dia akan membunuh Ayahku!" Youji menepis tangan Wei Feng.
***
Entah masih membingungkan apa enggk, mungkin kawan2 ada saran bisa tulis di kolom komentar agar author bisa memperbaikinya dan usahakan pakai bahasa yg baik ya:)
author jg menulis cerita ini bukan prioritas, klo dibilang gk konsisten jg terserah, yg penting ceritanya ttp jalan meski tersendat2 kyk skrg
terimakasih udh mau mengerti author yaa🙏(ㆁωㆁ) walaupun gk sebagus author lain di luar sana, baik dri segi cerita atau kecepatan update dan maaf klo author ada salah ini itu, author manusia biasa, cuma mahasiswi pecicilan yg beli pop mie aja msih sering ngutang:v
diusahakan malming nanti up 6 chapter hehehe
gak pake tapi bohong lah wkwkwk🤣
__ADS_1