Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 107 - Landak Api


__ADS_3

Seekor Siluman katak dengan ukuran yang dua kali lebih besar dari manusia biasa terlihat memandangi keduanya, memindai Xin Chen dan Rubah Petir yang agak terkejut akan kehadirannya.


"Masih ingat denganku, Rubah Pertapa?"


"Kau..." Rubah Petir mendekatinya, "Tak ku sangka kau masih bisa bertahan walaupun tanpaku."


"Hahahaha sudah lama sekali, ya."


"Wahh sepertinya aku berada di tengah-tengah reuni yang mengharukan. Apa sebaiknya aku pergi sebentar?"


Rubah Petir memukul kepala Xin Chen agak keras, hal itu membuat siluman katak yang sedang memerhatikan mereka juga turut memfokuskan perhatiannya pada anak manusia itu.


"Hm? Tak biasanya Rubah pendiam sepertimu memiliki teman manusia? Apa yang terjadi selama bertahun-tahun selama kau tak kembali ke sini, mau menceritakannya padaku?"


setelah mengatakannya dia menawarkan pada mereka untuk singgah ke tempatnya menyembunyikan diri dari para manusia. Rubah Petir langsung mengiyakan tawaran tersebut karena sejak awal memang tujuan mereka adalah ke tempat yang sama dengan katak itu.


Xin Chen tak mau banyak bertanya, melihat dua siluman ini berbicara sangat akrab dan dia hanya seperti patung pajangan. Kalaupun mencoba menyahut pun dia tak tahu apa yang harus dibahasnya.


"Jadi setelah sekian lama ini akhirnya kau memutuskan untuk berteman dengan manusia?"


"Ceritanya panjang sekali..." Rubah Petir sedikit menoleh ke belakang di mana Xin Chen mengikuti mereka berdua sembari bersiul-siul kecil untuk menghilangkan rasa bosannya.


"Saat aku terakhir kali mengunjungimu dulu, beberapa tahun kemudian Hutan Kabut di mana tempat aku tinggal kedatangan seseorang dengan kekuatan Manusia Iblis."


"Kekuatan itu... Kekuatan yang sangat mengerikan dan hanya lahir seribu tahun sekali, terakhir kali manusia yang memiliki kekuatan tersebut ku dengar mati di tangan temannya sendiri." Dia menimpali dengan tatapan wajah ironis, mengingat posisi Manusia Iblis dan para siluman hampir sama diperlakukan. Memiliki kekuatan yang besar tidak selamanya memiliki dampak yang baik, ada kalanya kekuatan tersebut malah menjadi rebutan atau dianggap sebagai ancaman.

__ADS_1


Jika Manusia Iblis dianggap sebagai bencana maka siluman yang usianya sudah menginjak angka ribuan tahun dianggap sebagai buruan untuk memperkuat diri. Mengambil permata dan tubuh mereka yang berusia sangat lama dan memperoleh keuntungan untuk diri mereka pribadi. Maka dari itu bahkan siluman katak tersebut enggan menampakkan dirinya walaupun daerah di sekitar sini terbilang sepi.


Daripada bertarung dengan manusia yang bisa membawa puluhan orang untuk menangkapnya siluman katak lebih memilih bertarung dengan sesamanya satu lawan satu.


"Manusia penuh dengan jebakan, terakhir kali aku bertarung dengan mereka aku kehilangan sebelah mataku."


Rubah Petir baru menyadari bagian mata temannya itu sudah berwarna putih keruh, tampaknya diracuni oleh sesuatu yang sangat berbahaya sehingga daerah di sekitar matanya pun ikut mengerut. "Tapi orang yang ku katakan ini tidak sama dengan yang biasanya kau lihat."


"Aku tidak bisa mempercayai itu lagi, kawanku. Kau lupa umurku sudah menginjak sembilan ribu tahun, kau kira selama itu berapa banyak manusia yang sudah ku temui?"


Sang Rubah Petir menghela napas dalam, sebenarnya dia agak bersikeras untuk mengubah pandangan temannya ini terhadap perilaku manusia. "Kau sudah tahu bukan permata kehidupanku di curi oleh Naga Es? Saat pertarungan dulu aku dikalahkan olehnya dan tidak berani menantangnya bertarung lagi karena tahu hanya akan mengalami kekalahan telak."


Katak tersebut mulai mengingatnya, meskipun tak tahu mengapa Rubah Petir tiba-tiba mengungkit masalah tersebut dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan manusia.


"Memangnya ada apa? Kau berniat mengajaknya bertarung lagi untuk mendapatkannya? Ku sarankan saja, bahkan jika kau membawa tiga Siluman Penguasa


Benar yang dikatakannya itu, Rubah Petir mengangguk.


"Sampai di sini kau paham aku sama sekali tak sebanding jika melawan Naga Es," ujar Rubah Petir. Dia menunjukkan keningnya dan sesuatu bersinar di sana. Permata kehidupan yang sedari tadi dibahasnya sudah berada di sana. "Permata kehidupanku ini... manusia yang ku sebutkan tadi merebut balik dari Naga Es dan juga membunuhnya dengan tangannya sendiri."


Siluman katak terbatuk-batuk tak percaya, dia belum sepenuhnya bisa tenang dan menyerobot berbicara. "Apa katamu? Manusia? Melawan Naga Es? Jangan gila!"


"Kau takkan percaya tapi tidak kah kau merasakan kekuatan elemen es telah menghilang dari bumi ini?"


Siluman katak tak begitu bisa merasakan apa yang ditanyakan Rubah Petir karena dia bukan salah satu dari Sepuluh Siluman Penguasa Bumi yang masing-masing memiliki kekuatan elemen.

__ADS_1


Tapi baginya sekarang, Rubah Petir bukanlah sosok yang suka membual dan selalu serius dalam pembicaraan seperti ini. Jika dia berbohong pun dia paham Rubah Petir takkan mau mempermalukan dirinya sendiri hanya karena hal seperti ini.


"Aku... Maafkan aku, tapi ini benar-benar di luar nalar. Saat aku melihatmu bertarung dengan Naga Es dan dikalahkan dengan mudahnya bahkan setelahnkau mengerahkan seluruh kekuatanmu mati-matian..." Dia berbicara spontan, "Rasanya sekarang aku ingin menemui orang yang kau maksud."


Rubah Petir tersenyum kecil, "Kau takkan bisa menemuinya karena kapan pun dia akan selalu berada di tengah-tengah manusia. Semua orang mengandalkannya. Sedangkan kau?" Rubah Petir sedikit memasang tatapan remeh. "Belum berjalan dua tapak dari rumahmu saja aku yakin kau akan dikejar-kejar manusia."


"Hahahaha sialan kau Rubah Pertapa," tawa besar terdengar dari mulutnya. Rubah kembali berbicara.


"Tapi tidak perlu jauh-jauh, orang yang kubawa ini memiliki ikatan darah dengannya."


Siluman katak kini teralihkan pada Xin Chen yang dari tadi di belakang mereka. Namun saat dia menoleh ke belakang dia sama sekali tak mendapati di mana manusia yang dimaksud Rubah Petir pergi.


"Chen?" panggil Rubah Petir.


"Yaaaaaaaaaaaaaaa!!" terdengar suara sahutan yang justru seperti teriakan ketakutan.


Beberapa waktu yang lalu saat memasuki bagian terdalam hutan belantara Xin Chen tertarik dengan sebuah lubang kecil di mana seekor landak dengan duri-duri berwarna kuning agak kemerahan lewat. Dia kira hewan itu takkan menyerang jika tak diganggu. Rupanya mendekat sepuluh meter saja landak tersebut sudah membunyikan suara terancam dan mengejarnya seperti setan.


"Eeeeh... Anak manusia yang mengalahkan Naga Es sungguhan yang ku lihat itu? Dengan landak api saja sudah pontang-panting.."


"Hahahahhaha dia memang agak sesuatu." Rubah Petir menjawab seadanya, tampaknya memang Xin Chen takkan berubah walaupun musuh berbahaya sudah dihadapinya. Rasa mengerikan saat dikejar sesuatu terpaksa membuat Xin Chen berkejar-kejaran dari landak api.


Xin Chen berhenti berlari, walaupun agak tak tega memusnahkan binatang tersebut akhirnya dia memilih membunuhnya daripada diincar terus-terusan. Dia berhenti dan saat landak api tepat di depan matanya, Pedang Petir langsung tercipta dan menembus tubuh binatang tersebut.


Beberapa saat kemudian landak api berhenti dan tergelatak tak berdaya, Xin Chen membuang napas. "Sial, baru datang ke sini aku malah membuat kerusuhan."

__ADS_1


"Hei nak, hati-hati saja. Kau membunuh satu landak api, masih ada puluhan keluarganya di hutan ini. Dan kalau mereka tahu kau membunuh salah satu dari mereka..." Katak tersebut mengeluarkan tatapan mengerikan. Tak disangka setelah dia mengatakan hal tersebut, seekor landak api yang ukurannya sama seperti siluman katak datang. Tampaknya umurnya dengan siluman katak hampir setara dan yang paling terpenting, landak api besar itu menatapi Xin Chen dalam tatapan membunuh.


__ADS_2