
Terasa derap kaki yang sengaja dihentak keras ke tanah dari arah rumah, pria yang tadi membentaknya kembali dengan raut wajah kesal. "Dengan posisi berdiri seperti itu kau malah lebih mirip dengan kodok menari daripada memanah! Membuatku kesal saja!"
"Y-ya... Karena itu aku datang ke sini, mungkin kau bisa mengajarkanku–" Xin Chen menjerit saat tulang keringnya ditendang kuat oleh pria itu. "Akhh!!"
"Perhatikan sikap berdirimu, Kecambah! Aku takkan membiarkanmu mempermalukan pemanah dengan gaya kodok seperti tadi!"
"Ba-baik!" Xin Chen memperbaiki cara berdirinya, beberapa kali memasang posisi awal yang berbeda dan dia tetap saja diserbu dengan bentakan keras. Pria dengan rambut panjang berantakan itu tak segan memukul punggungnya menggunakan anak panah.
"Kau ini--!!" Geramnya masih belum bisa melihat Xin Chen mempraktekkan perintahnya dengan baik, "Titik beratkan badanmu ketika berdiri dengan kedua kaki, kau benar-benar harus seimbang memakai persentase 60 sampai 70 persen ditumpu oleh kaki dan sisanya ditumpu oleh tumit!" jelasnya sangat-sangat cepat dan yang terpenting, tak bisa dipahami.
"Dan lihat gayamu berdiri itu! Jangan sampai kulihat tubuhmu condong ke bagian depan atau belakang!"
Mau tak mau Xin Chen kembali mengubah caranya berdiri, hingga akhirnya tak terdengar omelan lagi dari mulut pria itu.
"Pasang anak panah itu dan angkat busurnya!"
Dalam dasar memanah kurang lebihnya Xin Chen sedikit paham berbekal pengalamannya selama latihan di rumah dulu. Tiga jari digunakannya untuk menarik busur tersebut, Xin Chen mengangkat busur hingga tali busur tersebut sejajar dengan hidungnya.
Pemanah tersebut masih memperhatikan gerak-gerik Xin Chen, hanya menonton sejenak tanpa berkomentar apa-apa. Sejauh ini Xin Chen masih merasa aman, mungkin dalam hal memanah dia juga tak terlalu buruk.
"SALAH LAGIII!"
Xin Chen meringis kecil, gelombang suara bertekanan tinggi itu menyapa telinganya kembali, baru kali ini dia mendengar sosok pria dengan suara nyaring seperti tadi. Tidak seperti Ayahnya dan Lan An, pria ini memiliki intonasi tinggi yang jika dia berbicara biasa pun masih terlihat seperti orang sedang marah-marah.
"Jangan memusatkan berat badanmu di tumit, bodoh! Berat badan ditempatkan di tumit seperti itu hanya akan mencegah daya horizontal maksimal yang dihasilkan! Perbaiki lagi!"
Kalau sudah bisa dihitung sudah lebih dari dua puluh kali baru Xin Chen bisa selesai mempersiapkan diri untuk menembak bidikannya. Tak bisa dipungkiri lagi, meskipun pria pemanah itu terlihat seperti gelandangan kurus yang tak terurus, tetapi keterampilan memanahnya sudah melebihi siapapun.
Beberapa teknik rahasia pun turut diajarkan padanya, walaupun masih terdengar penuh bentakan menyayat hati.
"Kecambah! Arahkan panahmu dengan benar!"
"Jangan memanggilku kecambah, aku masih punya nama."
"Memangnya namamu siapa?!"
__ADS_1
"Xin Chen."
Pria itu mengangguk, "Nah, ayo Kecambah Chen! Cepat selesaikan bidikanmu itu!"
Bola mata Xin Chen berubah kesal, pria itu sengaja tak melihatnya. Tahu Xin Chen pasti sedang mengumpatinya di dalam hati.
Kini Xin Chen mengerti mengapa Ayahnya sering mengatakan tidak semua orang di luar sana baik, ada banyak tipe manusia yang akan dia jumpai nantinya. Salah satunya seperti pemanah bernama Wei Feng ini, orang yang berhasil membuat Xin Chen sadar, bukan hanya Rubah Petir yang menyebalkan melainkan manusia seperti dirinya juga demikian.
"Apalagi yang kau tunggu, Kecambah Chen!"
Anak panah melesat lurus dan menancap di kepala boneka jerami, bidikan tersebut disambut oleh tepuk tangan Wei Feng. Dia bertolak pinggang, menyodorkan tangannya kemudian.
"Apa?" Xin Chen bertanya balik, bingung dengan maksud Wei Feng.
"Tidak ada bayarannya memang mengajarimu?" Wei Feng membalas balik, pria berumur sekitar 22 tahun itu memamerkan giginya yang tajam-tajam, siapapun akan ngeri saat melihatnya. Seandainya saja jika Wei Feng mau memperbaiki sedikit penampilan dan juga memotong rambutnya mungkin dia akan terlihat tampan.
"Ya, ya. Kebetulan aku masih memiliki daging beruang."
"Daging beruang? Sudah lama aku tidak memakannya!" teriak Wei Feng antusias, Xin Chen sedikit lega, setidaknya pria itu tak terlihat semengerikan tadi. Dia lebih terlihat seperti penjahat daripada pemanah.
"Wei Feng, jangan tambah kata Kak atau semacamnya kalau tidak mau kubunuh."
"Baik Kak Wei."
"Terserah." Wei Feng mendecak kecil.
"Aku dengar kau selalu memanah sampai lupa waktu dari orang-orang sini."
"Jadi?" Tanggapnya tak peduli, dia sibuk menyiapkan api untuk memanggang daging beruang tersebut.
"Em... Aku penasaran, kau terlihat seperti tak peduli dengan yang lain selain memanah. Itu hanya anggapanku saja sebenarnya."
Wei Feng memberhentikan aktivitasnya sebentar, mengalihkan tatapannya pada Xin Chen dan menatap anak itu lama. "Menurutmu aku seperti tidak peduli lagi dengan diriku dan pandangan orang lain?"
"Eh... Aku tidak bermaksud menyinggungmu."
__ADS_1
"Memang benar begitu adanya," lontar Wei Feng sambil menggendikan bahu lelah. "Memanah sudah seperti bagian dari hidupku. Hanya saja... Seperti yang kau lihat sekarang, ilmu sudah semakin meninggi dan kemampuan memanah semakin mundur dari peradabannya."
"Jujur kali ini aku tidak mengerti maksudmu."
"Hah... Kecambah Chen, kau lihat, kitab-kitab dengan jurus tingkat tinggi sudah bisa kau dapatkan dengan harga murah di pasar gelap. Asalkan ada uang, kau tak perlu lagi membuat bahumu pegal untuk menarik busur. Hanya perlu menyerang lawan dari jauh, dengan tenaga dalam. Pertarungan sudah berada dalam genggamanmu."
Wei Feng mendudukkan tubuhnya asal di sebelah Xin Chen, asap dari daging beruang mulai tercium harum.
"Tapi dalam perang pemanah bukannya sangat dibutuhkan? Sebagai umpan kejutan ataupun serangan awal."
"Kau bercanda?" Wei Feng menghadapkan tubuhnya pada Xin Chen. "Kutanya padamu, mungkin jika di Kekaisaran kalian ada sebuah perang besar itupun terjadi sebelas tahun yang lalu. Jika di Kekaisaran Wei, sudah lebih dari lima puluh tahun tahun tidak ada perang besar! Hanya ada perebutan kuasa, tahta dan pusaka hebat. Menjadi seorang Pemanah sepertiku mungkin takkan memiliki masa depan jika terus bertahan di sana."
"Maka dari itu kau kemari?"
"Pergi ke tempat ini pun aku seperti kehilangan arah, kau tahu? Aku hanya mengikuti arus angin, suatu saat juga akan mati dengan sendirinya. Tidak ada yang berubah saat aku berpindah. Kecuali tempat aku akan mati."
"Kalian semua orang-orang jauh, penempa di seberang sana juga dari tempat jauh."
"Sebut saja ini sebagai Desa Pelarian. Kau lihat, di tempat ini tidak ada satupun rakyat Kekaisaran Shang kalian yang mau tinggal?"
"Benar juga. Mungkin desa terbuang?"
Wei Feng menyela, "Seharusnya kau tahu lebih banyak tentang desa ini. Saat-saat kalian mengalami kekangan keras saat Manusia Darah Iblis menguasai. Aku sempat melihat mereka datang ke Kekaisaran kami, hanya saja di tempat kami sendiri orang-orang yang mempelajari ilmu hitam juga lebih hebat. Mereka takkan mau turun di Kekaisaran Wei."
"Berarti peristiwa yang kau sebutkan itu saat-saat yang disebut Era Pembantaian?"
"Aku tidak tahu kalian menamainya apa, waktu itu kudengar terjadi wabah besar di desa ini. Mayat-mayatnya dibiarkan tergeletak dimakan tikus dan ulat. Kudengar Jin Sakai lah yang lebih dulu datang dan membersihkan tempat ini. Ah! Menyebalkan sekali. Hari itu saat bertemu denganku dia malah menyuruhku untuk tinggal di sini!"
"Memangnya kenapa? Bukannya bagus? Kau juga membutuhkan tempat untuk tinggal?"
"Karena desa ini terlalu nyaman aku hanya menetap di sini selama bertahun-tahun, menjadi tidak berguna dan matipun tidak akan ada yang peduli."
Wei Feng tahu Xin Chen pasti sedikit kasihan padanya, maka dari itu dia mengalihkan topik pembicaraan dan mengambil daging yang telah dimasak, bersiap memakannya. "Mau berburu makanan nanti? Sudah lama juga aku tak masuk ke hutan."
***
__ADS_1