
Keheningan mengisi arena pertandingan saat ini, tidak ada yang berani bersuara duluan. Masih sama-sama terkejut untuk mencerna apa yang terjadi di hadapan mereka, terlebih lagi Su Zhen. Pedangnya yang telah patah masih tetap di genggamnya dengan sangat erat hingga pada akhirnya wanita itu tersadar dan menggertak penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan, hah?!"
Lengkingan suara yang sangat tinggi itu membuat telinga siapapun akan berdenging, masih belum puas Su Zhen berjalan mendekat ke arah Xin Chen mengangkat tinggi-tinggi kerahnya. "Kau membuat pedangku patah! Apa kau berani mengganti rugi? Jawab!"
Xin Chen melepaskan tangan wanita itu, "Mengapa kau gunakan pedangmu itu untuk menangkis seranganku, bukannya seharusnya kau bisa menghindar saja. Lihat, ini juga salahmu bukan?"
Su Zhen tak mampu membalas, dia bergeming di tempatnya mencari-cari pembenaran lain. "Aku masih belum kalah! Anak itu mematahkan pedangku dan..." Wanita itu benar-benar kehabisan kata-kata, harga pedang miliknya itu memang tak seberapa namun harga dirinya adalah harga mati. Siapapun yang membuat harga dirinya jatuh seperti ini membuatnya benar-benar marah.
"Pertandingan selesai. Tuan Muda Xin kedua, Xin Chen adalah pemenangnya."
"Apa?! Aku belum kalah darinya!"
"Guru besar Su, aturan dalam pertandingan ini siapapun yang meninggalkan arena akan gugur." Jelas juri dengan sopan, Su Zhen melihat kakinya dan baru menyadari bahwa dia telah meninggalkan arena pertandingan.
Berarti semenjak tadi, saat dia benar-benar ingin melukai Xin Chen, anak itu justru bergerak untuk memojokkannya. Di serangan terakhir Xin Chen telah memperhitungkan bahwa Su Zhen akan menghindar dari serangan terakhirnya dan keluar dari arena, sehingga dia bisa menang tanpa melukai lawannya.
Meskipun masih tidak terima Su Zhen tetap berusaha tenang, temperamennya yang tinggi dicoba untuk dikontrolnya mengingat banyak yang menonton. Kharisma seorang Guru Besar dari sekte Bunga harus dijaganya baik-baik.
"Eh... Dia menang...?" Gadis-gadis dari sekte Bunga mulai berbisik satu sama lainnya, tak percaya dengan hasil akhir ini. Mereka yang masih tidak percaya tetap terdiam, sesekali berbisik satu sama lainnya. Namun di antara penonton itu, hanya ada satu orang yang bertepuk tangan atas kemenangannya.
Fu Yu melihat sekitarnya bingung. Dia tidak sadar hanya dirinya sendiri yang bertepuk tangan. Guru Besar Su memelototi gadis itu sampai bola matanya mungkin akan menggelinding di tanah. Fu Yu bergidik seram, dia segera menurunkan tangannya dan menunduk.
"Yu'er kau sudah gila?" Temannya berbisik di dekat telinganya.
"Ma-maafkan aku. Aku hanya sedikit terbawa suasana tadi."
"Hush, seharusnya kau mendukung Guru kita. Mengapa justru kau bertepuk tangan saat lawan gurumu yang memenangkan pertandingan?"
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud..." Gadis itu jadi tak enak hati. Beberapa murid telah bubar bersama wakil murid, beberapa mungkin ingin beristirahat setelah setengah harian bertanding. Hanya beberapa yang dipersilahkan tinggal, salah satunya Li Yong dan Huang Kun. Kedua orang yang memegang posisi penting di sekte tersebut.
"Guru Li, kau lihat anak itu bagaimana? Dia sedikit lebih cerewet dari ayahnya, aku tak menyangka dia benar-benar mengalahkan wanita bergelar Lotus Merah itu." Nama julukan Su Zhen, Lotus Merah yang didapatkannya setelah meraih posisi sebagai salah satu Tetua di sekte Bunga dalam umurnya yang ke 19.
Wanita itu memang bukanlah yang terkuat di tempatnya namun setiap gerakan pedangnya memiliki keunikan tersendiri. Tidak bisa dipungkiri, bahkan saat Xin Chen bahkan belum memiliki teknik berpedang dan nama besar dalam dunia persilatan, dia pasti akan mengimbangi lawannya dengan cara lain.
"Sekarang aku paham mengapa aku tak pernah bisa melampaui orang itu, saat bertarung dia tak hanya mengandalkan kekuatan melainkan menggunakan otaknya untuk unggul dalam setiap pertarungan. Dia takkan pernah meremehkan lawannya." Huang Kun mengedarkan pandangannya pada dedaunan pohon yang berguguran. Teringat saat dirinya masih begitu muda dan berlatih keras, bersama Shen Xuemei dan Xin Fai.
Li Yong mengembuskan napas kecil, meskipun terlihat marah justru senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. Saat membuka matanya, Li Yong segera menyahut ke seseorang.
"Chen!"
"Aduh apalagi? Tidak bisakah membiarkan aku keluar hidup-hidup dari tempat ini?"
Li Yong menjitak kepalanya, "Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari. Setidaknya jangan lupa untuk menghadiri jamuan makan malam ini."
"Tidak bi-"
Xin Chen menggerutu dalam hati, sekarang dia harus menunggu malam lagi agar bisa melanjutkan perjalanan bersama Rubah Petir. Daripada menyahut lagi lebih baik dia diam. Jika dengan begitu Li Yong senang.
"Kalau begitu kau bersedia melawanku?" Li Yong tiba-tiba berbicara, Xin Chen tersedak napasnya sendiri. Untuk sesaat lelaki itu memberi isyarat pada Huang Kun. Muridnya itu kembali membawa pedang dan melemparkannya pada Xin Chen.
"Mari kita lihat sudah seberapa jauh teknik berpedangmu."
"Eh-itu, untuk pertarungan jarak dekat aku benar-benar payah, Senior Li. Aku yakin akan kalah."
"Aku juga sudah tahu itu." Li Yong menyahut tanpa beban, Xin Chen tertohok. Makin diperjelas saja kalau dirinya payah dalam hal memegang senjata.
"Lalu untuk apa Senior mengujiku?"
__ADS_1
"Untuk melatihmu, setidaknya ilmu pedang ini akan sangat berguna saat kau benar-benar dalam bahaya."
"Baiklah.."
"Dengan satu syarat. Jika kau menggunakan tenaga dalam atau jurus cerdikmu. Jangan harap bisa selamat dariku."
"Baik!"
*
Berlatih pedang bersama Li Yong memang seperti sedang memanggang diri di dalam neraka. Seluruh tubuh Xin Chen mengalami luka memar, daripada disebut latihan ini lebih cocok disebut dengan penyiksaan. Bahkan untuk menarik napas saja dia harus melakukannya dengan hati-hati, jika tak mau konsentrasinya buyar dan terkena sayatan maut dari pedang kayu di tangan lelaki itu.
Memang keduanya hanya memakai pedang kayu untuk latihan, hanya saja jika berada di tangan Li Yong, pedang kayu itu berubah menjadi cambuk api. Xin Chen tak habis pikir, semakin dirinya lengah semakin banyak pula luka di tubuhnya.
Huang Kun baru saja kembali setelah mengurusi pekerjaannya, melihat Li Yong masih melatih anak dari muridnya itu. Latihan keras tersebut berlangsung setidaknya tiga jam tanpa henti. Dia sengaja membawakan teh hijau agar anak itu bisa beristirahat dan menarik napas sejenak.
Melihat Huang Kun telah membawa minuman Li Yong akhirnya memutuskan berhenti sejenak, Xin Chen terduduk di tanah sambil terengah-engah. Tak terbayangkan tiga jam telah berlalu dalam penyiksaan tadi, latihan bersama Li Yong ternyata jauh lebih sulit daripada dengan Rubah Petir. Buktinya saja baru tiga jam dia sudah jera.
Sedikit termenung Xin Chen di tempatnya, hingga Huang Kun datang menawarkan minuman. "Minum ini untuk menghilangkan penatmu."
Xin Chen menerimanya, Huang Kun agak tak tega melihatnya begitu.
"Setidaknya dalam latihan singkat ini renungkan kembali apa yang kau pelajari. Kuberi waktu satu menit untuk minum, kita masih ada waktu empat jam lagi sebelum acara jamuan makan dimulai."
Xin Chen tersedak minumannya, menatap horor ke arah Li Yong yang sudah memukul-mukul pedang kayu di tangannya. Mengerikan.
***
Note: akhir2 ini author keseringan begadang sampe jam 4 subuh, dikarenakan gak ada waktu untuk menulis. ada saudara ayah yg meninggal, jd aku bantu2 di sana. tiga anak dari almarhum yang sudah meninggal skrg yatim piatu. do'akan saja yang terbaik untuk merekaš¤².
__ADS_1
Skrg juga sebenarnya thor msi dalam keadaan berduka. Dan akhirnya malah jatuh sakit, jd mohon dimaklumi klo terdapat kesalahan penulisan, typo dan semacamnya ya. Trims.
Sehat selalu teman2 di mna pun klian berada.