
Bai Huang dan Tian Xi tak tahu apa yang bagus dari penyerangan ini, yang pasti wajah Xin Chen tampak begitu menyeramkan sampai membuat lutut mereka mendadak dingin.
Aura gelap muncul di belakang Xin Chen, andai pemuda itu tertawa jahat dia pasti akan membuat Bai Huang dan Tian Xi lari.
"Mereka pasti akan menyeleksi prajurit perang, 'kan?"
"Anda tahu dari mana Tuan Muda?"
"Untuk orang seperti mereka, jumlah adalah segalanya. Semakin banyak jumlah, semakin takut pula musuh. Lima puluh ribu itu akan bertambah drastis lagi. Jika menghadapinya secara langsung kupastikan kita kalah sebelum satu hari berperang."
"Lalu apakah Tuan Muda memiliki solusi? Aku sudah memikirkannya siang-malam, dilihat dari segi mana pun kita akan kalah. Kecuali jika kita meminta bantuan pada sekte besar di Kekaisaran Shang. Tapi mengingat reputasi buruk Empat Unit Pengintai rasanya hal itu tak mungkin bisa diharapkan."
Tian Xi mengepalkan tangan erat. "Kita yang sekarang hanya berjumlah dua belas ribu. Angka itu sangat kecil untuk menghadapi mereka sendirian. Andai Tuan Muda punya rencana pun, aku yakin itu akan merugikan banyak pihak. Musuh memiliki senjata-senjata hebat dan ahli strategi yang mantap."
Sejenak mata Tian Xi meredup, apakah dia akan menghadapi orang itu dalam menyusun rencana perang? Dia tak akan mampu menang. Laki-laki itu, dia adalah si jenius gila yang menguasai perang di telapak tangannya. Bayangan saat dirinya dicekik kuat agar belajar ilmu berperang dulu terlintas. Tian Xi bergumam kecil. "Aku ingin belajar lebih banyak Sebelum dihadapkan dengannya."
Ketakutan di wajahnya terlihat begitu jelas, dia pucat seperti mayat. Keinginannya untuk membakar kediaman Klan Tian kembali muncul. Trauma yang membuat perutnya mual.
"Tenang saja. Kita bukan berperang dengan mereka. Musuh kita selanjutnya jauh lebih besar."
Tian Xi agak tak percaya, tapi jika itu Xin Chen yang berbicara apa pun adalah kenyataan. Dalam artian lain, dirinya masih memiliki waktu untuk mempelajari Seni Perang. Untuk menghadapi sosok yang menjadi ketakutannya seumur hidup.
"Jangan katakan Tuan Muda ..." Bai Huang sudah menduga-duga, wajahnya menampakkan ketidaksetujuan. Xin Chen yang penuh dengan kelakuan nekat kembali datang, Bai Huang sudah tahu bahwa anak kedua dari Pedang Iblis memang dilahirkan dengan begitu banyak kejutan. Tetapi kali ini dia tidak bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Xin Chen.
"Saya pantang menyetujui keputusan Anda!" Bai Huang berdiri, air mukanya tegas. Seperti ayahnya dulu saat sedang marah. Namun tekad Xin Chen tak pernah luntur meskipun dia disumpahi mati seribu kali.
"Ini adalah keputusan terakhirku. Aku akan datang ke sana seorang diri. Sedangkan kalian mempersiapkan prajurit untuk perang melawan dua Kekaisaran. Sanggup?"
Tian Xi juga ikut berdiri, napasnya tertahan dan jantungnya berdetak kencang.
"Melawan Kekaisaran Qing dan Wei?"
"Keberatan?"
__ADS_1
Tak ada yang mampu menjawab. Jika tahu pembicaraan rapat ini akan mengarah ke sana, seharusnya Tian Xi memanggil seluruh anggota. Suasana yang sangat serius itu berlangsung dengan kesunyian. Bai Huang tak habis pikir, dia kembali duduk dengan pundak lemas. Memejamkan mata sambil memijit kepalanya yang berdenyut perih, laki-laki tua itu menarik napas tiga kali, namun dia tetap tak bisa setenang Xin Chen yang sekarang.
"Panggilkan yang lainnya. Aku beri waktu lima menit. Jika belum datang juga tutup pintu. Kita harus mulai serius."
Tian Xi tak berani menjawab selain membungkukkan badan dan segera memberi tahu para pengawal untuk mengumpulkan Unit Satu.
Hanya tersisa Xin Chen dan Bai Huang yang sama-sama diam, sesaat terdengar hembusan napas laki-laki itu. Sang Pilar yang telah lama pensiun dari jabatannya dan mendadak bergabung dengan Empat Unit Pengintai. Kelompok yang dulunya dibuat untuk memata-matai, membunuh, dan juga merampas harta orang. Reputasi buruk itu akan tetap menempel di nama Empat Unit Pengintai sebaik apa pun perbuatan mereka.
"Aku tak tahu apa yang akan dilakukan ayahmu jika mendengar hal ini. Kau pasti sudah gila. Mereka berjumlah puluhan ribu, Tuan Muda. Apakah angka itu tak termasuk pertimbangan mu?"
"Kau ingin menghadapi mereka langsung?" Xin Chen membalik-balikkan pertanyaan pada Bai Huang, hingga laki-laki itu tak mampu menjawab.
"Menghadapi musuh yang jelas-jelas lebih kuat darimu hanya tindakan bodoh."
"Justru itulah yang Tuan Muda lakukan saat ini!"
Xin Chen tersenyum kecil, sialnya dia malah mengatai dirinya sendiri.
Raut wajah Bai Huang yang semula keruh tampak berubah, dia mencoba memahami kata-kata Xin Chen sebelumnya.
"Tuan Muda sendirian ... Apakah sebanding dengan lima puluh prajurit itu?"
"Ya tidaklah!"
Xin Chen mendengkus. "Aku tidak akan bertarung dengan mereka sendirian. Dipikir berapa kali pun lebih seperti cara bunuh diri. Kekuatan ku hanya akan semakin gila jika mengambil puluhan ribu jiwa."
Bai Huang mengangguk, "Jadi apa rencana Tuan Muda?"
"Anggota Unit Satu sudah tiba." Tiba-tiba Tian Xi dan yang lainnya masuk buru-buru ke dalam, segera menarik bangku masing-masing dan duduk tanpa banyak bicara. Sepertinya mereka semua sudah tahu apa yang akan dibahas Xin Chen pada rapat kali ini.
Xin Chen menatap sekelilingnya, sembilan orang termasuk dirinya sendiri. Mereka kelebihan satu kursi dan Xin Chen teringat dia tak pernah menunjuk pengganti Dong Ye.
"Musuh bergerak dan kita harus bertindak." Xin Chen meralat, "Hanya aku yang bertindak. Sementara kalian bersiap dengan perang. Dalam satu tahun ini, sebelum Kota Renwu terbakar habis dan perjanjian berdarah selesai. Kita harus menggencarkan perang antar Kekaisaran. Melawan Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Wei. Karena untuk itulah kelompok ini berdiri."
__ADS_1
Tampaknya dari semua anggota hanya Lan Zhuxian yang tampak tenang, dia sudah tahu apa tujuan Xin Chen sebelum mengatakan untuk ikut dengannya.
Bagi yang lain misi ini adalah hal tergila yang pernah mereka dengar seumur hidup. Menundukkan dua kekaisaran sekaligus adalah hal yang mustahil. Nan Ran sendiri berani mengatakan bahwa Kaisar Yin pun tak akan berani ambil tindakan mengerikan ini. Kecuali hanya menghancurkan salah satunya saja. Dan merebut secara perlahan. Bukan menyatakan perang langsung.
"Kurasa aku harus terbiasa olahraga jantung jika berurusan dengan Pimpinan Empat Unit Pengintai."
"Tidak mungkin dengan kekuatan seperti ini kita bisa menang, kecuali dalam lima tahun mendatang, walaupun itu juga tak mungkin-"
"Diamlah kalian, dengar dulu apa yang dikatakan Tuan Muda."
Xin Chen menatap semuanya bergantian. "Di sini siapa yang berkeberatan dengan caraku?"
Beberapa orang hendak mengacungkan tangan namun segera berhenti saat Xin Chen melanjutkan.
"Segera angkat kaki dari tempat ini dan jangan pernah kembali."
***
Author Note: Sebelum baca bab ini, mundur ke Ch. 297 - Tiga Tamu. karena itu bab terakhir yang kalian baca.
Kan sebelumnya ada masalah sistem error jadi dua bab double2. Alhamdulillah udah diperbaiki, jadi beberapa chapter dipindahin supaya gak memakan terlalu banyak bab di buku ini.
Oiya udah mau bab 300 aje nih, Thor mau sedikit jelasin ya soal 600 bab yang pernah thor bilang sebelumnya.
Jadi gini, karena cerita kedua PPI ini lumayan panjang dan lama, Thor membagi lagi buku ini menjadi 2 buku. Otomatis PPI ada 3 buku. Xin Fai satu buku, dan utk Xin Chen dua buku.
Buku PPI 2 ini akan selesai di bulan depan (November 2021), dan kelanjutan cerita Xin Chen akan dilanjutkan di buku baru lagi. Alias PPI 3. Sebelum lanjut ke buku tiga author akan beristirahat, mungkin satu bulan atau lebih. Jujur semenjak nulis kesehatan makin drop. Jadi author mau pulihkan tubuh dan pikiran dulu. Sekitar Januari 2022 akan kembali menulis seperti biasa.
Terima kasih jika kalian bersedia mengerti,
**best regards
Fii**
__ADS_1