
"Xin Chen sialan. Kau memang cari mati, ya?"
"Hahaha, sial. Perutku berputar."
Xin Chen memakai tudung jubahnya sembari tawa tertahan-takut orang lain curiga kepadanya. Ide Xin Chen yang terlewat tidak biasa ini membuat Shui harus berkorban. Rambut birunya yang indah digerai, meliuk-liuk saat Shui berjalan. Riasan serta pakaian wanita yang senada dengan rambutnya membuat laki-laki mana pun akan menoleh ketika Shui lewat. Apalagi harum mewangi tercium dari siluman yang harga dirinya telah dibuat hancur berkeping-keping oleh Xin Chen itu lewat.
"Aku hanya mengantarmu sampai sini, sisanya kau pergi sendiri."
"Kenapa aku sendiri?"
"Aku bisa mati berdiri karena menertawaimu." Lalu Xin Chen tertawa tertahan-tahan, dia sampai tak menyadari para gadis sedang memanggilnya dengan suara menggoda.
"Hah, untuk urusan membuat orang lain sengsara kau memang juaranya. Aku penasaran apa si rubah itu sanggup meladeni manusia tak pakai otak sepertimu. Atau jangan-jangan otakmu tertinggal di Kota Renwu?"
"Berhenti mengoceh." Mereka tiba pada satu penjaga, dengan percaya diri dia segera memperkenalkan Shui. "Aku ingin menjualnya, dia bisa bekerja di sini."
Laki-laki itu memandang Shui dari atas ke bawah, mengerutkan alisnya. Sialnya, Shui bahkan lebih tinggi dari penjaga tersebut.
"Kau ... Perempuan?"
"Jelaslah!" jawab Shui menyolot. Puluhan pasang mata langsung mengarah padanya, mereka dibuat terkejut dengan penampilan Shui. Penampilan yang membuat siapa pun canggung melihatnya.
Saat Shui ingin memprotes ternyata orang yang tadi membawanya ke sana sudah menghilang.
"Cari mati, ya, manusia sialan!?"
__ADS_1
Nan Ran merasa seperti perutnya ditumbuhi bunga-bunga saat mengintip ke tempat di mana Shui berdebat dengan pemilik rumah hiburan. Bukannya tak mau masuk, dia pun tak akan sanggup menahan godaan di dalam sana.
Sedangkan dua temannya yang lain menunggu dengan sabar, tak ada pembicaraan berarti. Lan Zhuxian tampak lebih murung dari biasanya. "Anak Hantu dari YuangXe itu, dia adalah temanku." Tiba-tiba saja Lao Zi berbicara, Lan Zhuxian yang sebelumnya hanya diam beribu bahasa segera menoleh. Tak seperti biasa, wajah Lao Zi yang terkesan kaku dan formal sama sekali tak menatapnya.
"Beberapa bulan lalu terjadi benturan antara YuangXe dan orang Kekaisaran Shang. Pertarungan yang terjadi itu merenggut banyak nyawa, termasuk adik orang itu."
Lao Zi tersenyum kikuk, "Walaupun aku mengenalnya pun, aku tahu Tuan Muda tak membutuhkanku. Hanya saja ... Saat ini, sebenarnya YuangXe benar-benar membutuhkannya. Mereka hanya tak tahu cara meminta pada orang asing seperti kita. Seperti saat rumahku dibakar oleh klan lain, lalu ibu meninggal, dan Tuan Xin yang bahkan tidak memiliki ikatan darah denganku mau membantu anak yang telah tak memiliki apa-apa ini."
Wajah Lao Zi perlahan berubah, dia tersenyum sambil tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu dipaksakan.
"Aku ingin tahu apakah Tuan Muda akan menjulurkan tangannya kepada orang-orang yang sepertiku di masa depan ..."
"Dia menyelamatkan kami. Memberikan kami rumah saat kami bahkan tak tahu ke mana lagi harus melarikan diri." Lan Zhuxian teringat dengan tiga kawannya, Nan Ran, Nan Yin dan Tian Xi. "Itulah mengapa saya berpikir mengikutinya lebih baik daripada Guru Yuhao."
"Wajar jika kau sedih karena kematiannya. Jangan menyembunyikan itu, karena itu hanya akan membuat orang lain merasa bersalah."
Lao Zi tiba-tiba saja menarik anak panahnya tepat ke kepala Lan Zhuxian, membuat pemuda itu tersentak dengan apa yang baru saja dilakukan oleh temannya itu. Lan Zhuxian terdiam sementara Lao Zi tak mengatakan apa-apa selain memasang tatapan intens.
Tepat di belakang Lan Zhuxian seseorang berjalan ketakutan melewati keramaian, dia seperti tikus dalam kandang kucing. Berlari mendekat sambil menutupi muka dengan kain.
"Jangan berdiri tegak." Pemuda itu tak jadi meluruskan pinggangnya yang sudah setengah jam terus membungkuk. Jika dia berdiri yang ada manusia lain akan tercengang melihat ada manusia sepertinya.
"Saudara Lao," panggilnya saat berada tepat di hadapan dua pemuda itu, Nan Ran mendelik dan segera mendekat ketika menyadari mereka kedatangan orang asing.
Lan Zhuxian menarik napas lega, dia kira Lao Zi hendak membunuhnya tadi. Meskipun dipikir berapa kali pun hal itu tidak mungkin.
__ADS_1
"Punya makanan? Perutku keram tidak makan lima hari."
"Lima hari?"
Perbincangan antara Lao Zi dan pemuda YuangXe itu membuat Nan Ran dan Lan Zhuxian seperti terasingkan. Mereka berbasa-basi agak lama sampai-sampai Nan Ran menguap menahan rasa kantuk.
Hingga akhirnya pemuda itu menyinggung sesuatu tentang YuangXe. Dia terlihat gemetaran, terdapat satu luka tusuk di bahu dan goresan tipis di wajah dan tubuhnya. Sepertinya pemuda itu sempat terlibat perkelahian dengan bandit dan perampok.
"YuangXe sebentar lagi akan runtuh. Aku menyesal tak menahan kalian saat itu. Aku tahu jni semua akan terjadi, orang-orang luar mengacak-acak tanah kami. Hutan dibakar, rumah dirubuhkan dan ladang-ladang kami hancur ...."
Kedua pasang bola matanya menatap tiga pemuda itu bergantian. "Kami juga sadar diri telah melimpahkan masalah ini ke orang lain, Pimpinan Empat Unit Pengintai jauh mengalami bahaya menjadi incaran dibandingkan kami. Tetapi, sekuat apa pun kami, mereka tetaplah prajurit terlatih yang berjumlah nyaris ribuan. Orang-orang Kekaisaran Wei datang setelah kalian pergi. Mereka tahu tak akan mendapatkan pusaka itu dan mencari harta lain yang juga berarti bagi kami."
"Apa itu?"
"Kitab Pembasmi Roh milik Guru Yuhao. Entah bagaimana caranya, seseorang mengatakan pendekar misterius mengambilnya. Orang itu berbahaya, dari auranya saja, dia dapat menghabisi kami tanpa menggerakkan tangannya."
Raut wajah ketakutan tersebut disertai penyesalan mendalam, andai hari itu dia tak membocorkan informasi, andai hari itu dia tak mencoba berhubungan dengan orang-orang luar. Dia tahu orang Kekaisaran Shang bukanlah orang jahat seperti yang ayah ibu mereka ceritakan. Dia ingin mempercayai mereka. Dan di saat seperti ini, dia benar-benar berharap orang lain membantu mereka. Agar orang YuangXe tahu bahwa manusia lain sama seperti mereka, tanpa harus saling mendiskriminasi atau menjauhi.
"Kitab Pembasmi Roh dicuri?"
Pemuda itu mengangkat wajah, mendapati sosok yang telah membawa Armor Dewa Perang itu berjalan mendekat. Memasang wajah serius.
"Benar ..." Dia ragu-ragu untuk melanjutkan, "Dan orang-orang dari Kekaisaran Wei sedang menekan YuangXe. Aku tak tahu harus berbuat apa selain berlari ke sini, memohon pertolongan kalian. Aku tahu kalian juga manusia, setidaknya punya belas kasihan, bukan-?"
Tidak sampai dua detik, Ye Long keluar dan segera mengepakkan sayapnya. Pemuda YuangXe itu diseret naik ke atas naga, Xin Chen sempat berbicara sebelum pergi.
__ADS_1
"Kembali ke markas. Aku akan menyusul setelah semua masalah ini selesai."
*