
"Mati kau!"
Sebelum hantaman sempat mendarat ke tubuh musuh, bayangan hitam besar keluar dengan pergerakan luar biasa cepat. Angin bertiup kuat hingga membuat pepohonan berbunyi berisik. Dua orang YuanXe tumbang menelungkup di tanah, melihat ke belakang dan berbisik kepada sesamanya ketika melihat incaran mereka telah melarikan diri.
Tak lama mereka pun kabur meninggalkan Xiu Qiaofeng yang masih terkejut dengan apa yang dia lihat tadi. Tak begitu jelas apakah yang dilihatnya adalah bayangan dari naga hitam namun jika itu benar maka dugaannya terhadap sosok tersebut benar.
"Benarkah kau masih hidup?" gumaman itu hanya terdengar oleh dirinya sendiri, andai wakil kelompok tak menyadarkannya untuk pergi mungkin Xiu Qiaofeng akan terus membatu di tempatnya.`
"Kita mundur lagi, tapi sudah jelas ini akan jadi kemenangan kita." Wakil di kelompok itu terlihat sedikit sumringah walaupun masih terlihat wajah cemasnya, tak bisa diabaikannya sosok pengguna roh yang sempat membuat ribut satu tanah YuanXe yang bahkan tak pernah bertindak langsung saat pemburu datang. Mereka membakar sesuatu dan membunyikan irama-irama aneh yang sempat membuat manusia lain nyaris pingsan.
"Menurutmu siapa orang tadi?" Xiu Qiaofeng menyingkirkan dedaunan yang menghalangi pandangannya, mereka akan kembali ke markas di antara perbatasan hutan belantara dengan perkampungan sekitar. Pikiran gadis itu masih terus terpaku ke tempat lain sehingga tak begitu memikirkan apa yang selanjutnya dikatakan sang wakil.
"Aku tak bisa berkata banyak, yang jelas pesaing kita yang satu itu sangat berbahaya. Beruntung orang YuanXe memang berpikir untuk menangani jenis pembunuh seperti dia, aku tak yakin jika berhadapan langsung dengan orang itu kita semua masih selamat. Kalau bisa harus selalu menjaga jarak dengan dia."
Anggota yang lain mengangguk mengerti, Xiu Qiaofeng menerabas semak di depannya, melihat sekilas ke belakang dan merasa ada yang tak beres.
"Bukankah kita semua dua puluh? Ke mana satu orang lagi?"
__ADS_1
Yang lainnya saling bertukar pandang dan baru menyadari ada satu orang dari mereka yang menghilang, Xiu Qiaofeng mencoba mendekati dan melihat seksama. Dia yakin sebelumnya mereka masih lengkap.
"Cari dia-"
"Untuk apa Nona Muda mencarinya, dia sudah ada di depan matamu."
Xiu Qiaofeng lantas mengeluarkan pedang dengan mata menyipit waswas. Seorang laki-laki memasang cengiran jahat serta pakaian dengan dada terbuka, dia tidak sendiri melainkan datang dengan segerombolan pendekar lainnya yang tak jauh beda dengannya. kasar dan kumal, berbeda dengan bawahan Xiu Qiaofeng yang berasal dari Kekaisaran sehingga pakaian yang mereka kenakan jauh lebih terawat.
Sebelumnya mereka sempat berhadapan dengan para pemburu lain, tapi hanya sekelas teri yang suka bersikap sombong seolah-olah seluruh tanah di Kekaisaran Shang adalah miliknya.
Wakil di sebelah Xiu Qiaofeng lantas maju dengan percaya diri, menunjuk lawan dengan pedangnya sembari berbicara tegas.
"Hah? Hahahah lucu sekali pak tua ini, hei! Yang lain, tertawa juga! Kasian dia melucu tapi tidak ada yang tertawa!" Ejekan itu segera dibarengi dengan tawa mengejek yang terkesan dibuat-buat, membuat wakil Xiu Qiaofeng jengkel setengah mati.
"Kau mencoba mengancamku tapi juga menanyaiku soal kematian temanmu? Hei, ayolah kau terlalu polos. Kawanmu yang sudah mati tak akan ada nilainya di tanah penuh tumpah darah seperti ini."
Dia memberi isyarat pada orang di belakangnya, beberapa saat kemudian seseorang membawa sebuah mayat yang telah dihabisi hingga berdarah-darah, wajahnya nyaris tak berbentuk karena dihabisi dengan tangan kosong. Dia dijatuhkan ke tanah begitu saja membuat kelompok di depan mereka terkejut bukan main.
__ADS_1
"Kau membunuhnya?!"
Emosi wakil itu memuncak begitu saja, dia siap kapan pun untuk menebas pedangnya ke kepala lawan. Di tatapnya Xiu Qiaofeng tajam, seolah-olah menunggu perintah dari sang gadis yang memang ditugaskan untuk perburuan ini.
"Kita tidak boleh sembarangan ...."
"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Nyawa teman kita ... Nyawanya-! Kau hendak membuang temanmu begitu saja dan diinjak-injak seperti ini? Nona Xiu, aku tahu kau lebih baik dari mantan Pilar Ketiga! Berikan kami perintah untuk membunuh mereka karena hanya dengan itu kita bisa mengembalikan nama baik kelompok ini!" Teriakan berapi-api itu rupanya disetujui oleh anggota lain.
Xiu Qiaofeng tak bisa mengelak, dia kalah suara. Seluruh anggotanya meminta pertarungan sedangkan lawan terus memasang sikap hendak menantang. Di rimba ini, siapa pun bisa menjadi lawan. Karena yang mereka buru adalah pusaka langit, sangat wajar pertumpahan darah seperti ini terjadi.
Semakin berkurangnya pesaing maka semakin besar kesempatan mereka menang. Hanya saja, Xiu Qiaofeng tak begitu yakin saat melihat beberapa dari pendekar di depannya seperti berasal dari tanah asing. Dia tak bisa berpikir jernih karena wakil terus mendesak serta memanas-manasi yang lain.
"Hah? Cuma sampai di situ nyali kalian? Huahahah lihatlah para pengecut berbaju mewah ini, nama saja garang, di pertarungan para laki-laki itu tak lebih dari laki-laki gemulai. Kenapa? Kalian takut mengangkat pedang? Takut membunuh? Seperti yang kuduga dari orang Kekaisaran Shang! Hahahah pantas saja hari itu kalian dihabisi sampai babak belur! Bagaimana rasanya kehilangan pahlawan nomor satu yang selalu kalian bangga-banggakan?"
Dia melanjutkan tertawa, kali ini jauh lebih keras daripada sebelumnya. "Negeri penuh keadilan, kasih sayang dan kemakmuran. Oh, indahnya Kekaisaran Shang. Tapi saat kulihat dengan mata kepalaku sendiri kalian tak lebih dari seekor tikus yang memakan bangkai temannya sendiri. Membuatku muak saja. Kalian tahu? Sebentar lagi Perjanjian Berdarah akan selesai dan saat itu tiba, Kekaisaran Qing akan memulai perang terbesar selanjutnya yang akan menghabisi kalian semua."
"Hentikan omong kosong mu!" teriak salah satu anak buah Xiu Qiaofeng, gadis itu sendiri masih menahan kata-kata menyakitkan itu dengan sabar. Bagi Xiu Juan, ketenangan adalah inti dari keberhasilan. Xiu Qiaofeng selalu belajar itu dri sosoknya sehingga saat telah tumbuh dewasa dirinya dikenal dengan strategi dan kematangannya dalam pertarungan mana pun.
__ADS_1
Namun sepertinya provokasi yang dilakukan lawan berhasil membuat pihaknya kebakaran janggut, Xiu Qiaofeng dapat membaca kemarahan itu dengan jelas.
"Nona Xiu! Kita sudah bertahan di sini selama satu bulan dan tak pernah kehilangan satu pun anggota. Aku yakin kau memang bisa memimpin selayaknya seorang pemimpin, tapi tidakkah menurutmu bersikap ragu-ragu seperti ini hanya akan membuat kami kehilangan kepercayaan padamu?" Untuk terakhir kalinya sang wakil berujar, lebih terkesan mengecam. "Saya harap Nona Xiu mendengarkan saranku, bunuh mereka atau di hari esok mereka akan menghabisi kita semua."