Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 32 - Pulihnya Xin Zhan


__ADS_3

Ren Yuan menatap Xin Chen terharu, lantas memeriksa kondisi anaknya masih baik-baik saja atau tidak. Entah mengapa kedua anaknya ini selalu membuatnya risau siang malam. Ren Yuan tidak bisa tidur beberapa hari belakangan.


Xin Chen anaknya yang kedua menghilang tanpa kabar dan Xin Zhan pun tak bisa disembuhkan dari racun. Tak dia sangka, di saat-saat terakhir begini justru hanya Xin Chen lah yang bisa mengatasi permasalahan ini.


"Sampai tujuh hari tidak pulang, sebenarnya kau pergi ke mana?" Xin Fai mengangkat suara, tatap matanya mulai kembali seperti biasa.


"Mencari cara untuk menyembuhkan Zhan Gege. Dan aku bertemu dengan teman lama Ayah."


Shen Xuemei tersenyum tipis, "Untuk hal ini kukira anakmu lebih bisa diandalkan daripada orang-orang itu."


Shen Xuemei menunjuk tabib dan dokter yang menunduk malu, mereka semua dibayar mahal dan tetap tak bisa mengatasi permasalahan ini.


Xin Fai mengelus rambut anaknya pelan, menggelengkan kepala heran sendiri. "Sudah sejauh mana kau pergi?"


"Lembah Para Dewa, Ayah."


Xin Fai terbatuk-batuk mendengar nama tersebut, dia menyuruh Xin Chen tak membahasnya lagi karena beberapa hari belakangan juga nama tersebut sekilas pernah disebutkan oleh mata-mata Kekaisaran. Ini adalah informasi rahasia yang sebaiknya tidak disebarkan dulu kepada masyarakat agar tak menimbulkan kerisauan.


Situasi di luar rumah mulai damai, beberapa penjaga juga ditugaskan di luar agar tak terlalu ribut. Xin Chen setia menunggu kakaknya pulih di kamar hingga larut malam. Walaupun sudah terlalu pagi dan dia tidak kunjung tidur.


Saat Xin Chen beranjak keluar untuk mencuci wajahnya sebentar, di ruang belakang dirinya dapat mendengar sebuah suara mencurigakan. Dia pergi menuju ke halaman belakang dan tidak menemukan siapa-siapa. Merasa ada yang salah dengan pendengarannya Xin Chen kembali ke rumah namun badannya cepat-cepat berbalik saat suara gemerisik muncul kembali.


Meskipun hanya bermodalkan lentera di tangannya tapi Xin Chen dapat melihat jelas di dalam hutan sana ada sesuatu yang bergerak. Xin Chen pun tak mengerti mengapa di dalam gelap pun matanya masih bisa berfungsi baik. Mungkin ini adalah salah satu dari kelebihan Pil Dewa Matahari.


"Aku tahu kau bisa mengatasinya sendiri, Chen."


Samar-samar suara familiar itu terdengar, Rubah Petir menyembunyikan kekuatan sekaligus hawa keberadaan ke titik terendah agar Xin Fai tak bisa mengendus kehadirannya ke tempat ini.


"Besok tunggu aku di jembatan, kita harus melakukan banyak hal lain."


Suara daun bergesekan kembali terdengar, tiba-tiba saja Xin Fai telah berdiri di sebelahnya. Menarik tubuh Xin Chen hati-hati.


"Barusan kau berbicara dengan siapa?"


Xin Chen menggeleng agak terkejut, ayahnya ini terlalu mengagetkan. "Aku tidak berbicara dengan siapapun. Hanya melihat ada sesuatu bergerak di hutan."

__ADS_1


Xin Fai masih sedikit curiga, sekilas dia dapat merasakan aura besar yang tidak biasa. Terlalu kuat untuk seukuran manusia biasa.


Mungkin karena batu kehidupan Rubah Petir telah kembali Xin Fai tidak dapat mengenali kekuatan rubah tersebut yang semakin membesar. Dia hanya meyakini siapapun itu pasti sangat berbahaya.


Xin Fai menyuruhnya untuk segera masuk ke rumah, tak disangka rupanya Xin Zhan telah bangun di saat itu pula.


"Syukurlah, Zhan'er. Kau membuat kami khawatir."


Xin Zhan memejamkan matanya beberapa kali, pandangannya mengelilingi sekitar dengan seksama. "Apa yang terjadi?"


Xin Chen lebih dulu menjawab sebelum Ayahnya. "Kau hanya tertidur sebentar. Sudahlah, istirahat dulu sana. Besok ibu akan memasak sup kesukaanmu."


Xin Zhan memalingkan wajahnya kesal, dari perkataan Xin Chen tadi terdengar sedikit ejekan di dalamnya.


Merasa tak ada lagi yang harus dikhawatirkan akhirnya Xin Chen bisa tidur nyenyak malam ini, dia segera masuk ke kamarnya yang telah dia tinggalkan satu minggu ini. Tampaknya Ren Yuan rajin membersihkannya walaupun Xin Chen pergi lama.


Xin Chen terjaga dalam tidurnya, memikirkan perkataan Rubah Petir tadi dia teringat akan satu benda pusaka bernama Baja Phoenix. Baja yang tampaknya bisa mengambil informasi dari orang lain itu tampaknya sedang menjadi incaran pihak Lembah Para Dewa.


'Artefak, Baja Phoenix dan Permata Cahaya Biru... Sebenarnya apa tujuan Lembah Para Dewa?' batin Xin Chen mulai mencari titik permasalahan ini.


'Jangan bilang itu hantu? Sial... Atau itu mayat pemilik toko yang kucuri itu? Apa dia menaruh dendam kesumat padaku?' batinnya ketakutan.


Sebuah suara geraman terdengar, Xin Chen sepertinya bisa menebak apa yang sedang berada dikamarnya itu.


"Peliharaan Ayah, ya?"


Lang mendengus, dengan menggunakan kekuatannya sebuah api kecil muncul menyalakan lentera api di meja kamar Xin Chen. Serigala itu menggulung tubuhnya di pojok kamar, memejamkan mata.


"Kau tidak ingin membicarakan permasalahan ini dengan Ayahmu?"


Tiba-tiba dihadapkan dengan obrolan ini membuat Xin Chen harus berpikir-pikir dulu sebelum menjawab, tampaknya Lang mengetahui sesuatu. Di sisi lain dia ingin mengikuti saran Rubah Petir, masalah ini tak seharusnya diketahui Ayahnya terlebih dahulu.


"Masalah? Tentang penawar racun Zhan Gege?"


"Jangan pura-pura bodoh," sahut Lang. "Aku tahu kau juga bodoh seperti Ayahmu, tapi asalkan kau tahu aku sudah mengenal ayahmu itu puluhan tahun. Sifatmu sama sepertinya, menyembunyikan rahasia dengan wajah bodohmu itu."

__ADS_1


Tiga kata bodoh dalam satu kali tarikan napas membuat Xin Chen hampir tak percaya apa yang didengarnya, dibandingkan omongan orang-orang perkataan Lang ini menusuknya sampai ke ujung kaki.


Xin Chen menelan ludah keberatan, dia mencoba setenang mungkin. Meski jarang melihat Lang dia yakin siluman itu memiliki daya pikir yang melebihi manusia sendiri.


"Kalau kau sudah tahu, sebelumnya aku ingin kau mengatakan dari mana kau bisa mengetahui hal ini?"


"Saat saudaramu terkena racun Ayahmu menyuruhku untuk mengikuti pelakunya. Aku baru saja sampai di tempat kejadian dan melihat kau sedang mengikuti Rubah Petir di sana."


Xin Chen tak menyangka bahkan Lang mengetahui dari awal. Dia tersenyum kikuk, merasa aneh mengapa justru Lang tak pernah terlihat olehnya. Bahkan Rubah Petir pun tak mengatakan apapun soal ini.


"Lalu kau mengikutiku?"


"Ya, aku tahu tujuanmu hampir sama denganku. Mengetahui siapa dalang di balik ini semua."


Xin Chen meralat, "Tujuanku untuk mengobati Zhan Gege."


"Lupakan saja. Mengenai pertanyaanku tadi, apa kau tidak berniat memberitahukan pada Ayahmu?"


"Kau sendiri? Bukannya sudah tahu, apa ada niat untuk memberitahunya pada Ayah?"


Lang membuka matanya perlahan, tak menyangka Xin Chen malah membalikkan pertanyaan kepadanya. Dia bangun dari tidurnya, menatap Xin Chen dalam diam.


"Kalau aku memberitahunya bagaimana?"


Xin Chen menggendikan bahunya tak percaya, "Kau takkan memberitahu pada Ayah soal ini. Aku bisa menjaminnya."


"Kenapa?"


"Kalau kau memang sudah mengikutiku sejak awal, kau pasti melihat sendiri seperti apa Lembah Para Dewa. Jika memang berniat memberantasnya boleh saja. Tapi yang harus kau pahami, mereka memiliki banyak hal yang harus diselidiki lebih dulu. Mengenai barang-barang pusaka yang mereka kumpulkan dan tujuan dibuat itu semua."


"Menyerang mereka malah akan menghilangkan petunjuk, kita harus mempersiapkan diri dengan mencuri informasi lebih dulu dari musuh."


Terlalu banyak mengeluarkan kata-kata membuat anak itu kehabisan napas, Xin Chen baru saja ingin melanjutkan tapi telinganya menangkap derap langkah kaki yang menuju ke arahnya.


"Ayah datang!" teriaknya agak menekan suara, Xin Chen bersembunyi di dalam selimutnya. Berpura-pura tertidur. Sedangkan Lang memilih pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2