Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 23 - Pertarungan


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan Walikota menyerahkan beberapa berkas yang pernah diserahkan Xu Ming tempo hari lalu sebelum kematiannya. Dia menerima artefak dari Xin Chen dengan senang hati, sesaat Xin Chen membalikkan badan sebentar.


"Jika mereka bertanya dari mana Artefak itu, katakan saja kalian sudah membunuhku. Selebihnya terserah," ujarnya berlalu begitu saja.


Walikota tentu takkan berani mengatakan yang sejujurnya pada orang-orang dari Asosiasi Pagoda Perak, di samping mereka jelas adalah musuh, Walikota sendiri tak ingin membahayakan nyawa keluarganya dengan alasan tersebut.


Xin Chen membolak-balik isi laporan di dalamnya, tampak di kertas yang usang tersebut Xu Ming tengah mengharapkan orang-orang dari lembaga untuk menanggapi masalah ini dengan serius.


Di surat yang paling terakhir Xu Ming menjelaskan dengan tegas, bahwa akhir-akhir ini dia menemukan sebuah kawasan anti pemerintah yang telah dibangun oleh Kekaisaran Qing. Daerah ini meliputi dua desa sekaligus dan jaraknya hanya berkisar beberapa meter dari perbatasan.


Yang menjadi titik teranehnya adalah mereka bekerja sangat tertutup, tidak ada kejelasan bagaimana kelompok ini bisa berdiri amat cepat hingga meluas kedua desa sekaligus.


Lalu Xu Ming juga mengatakan dalam suratnya, dia bertemu dengan sosok pria mencurigakan. Saat Xu Ming dalam perjalanan jauh, sebuah desa terbakar habis hanya dalam beberapa menit, tidak ada siapapun yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Kecuali ada satu orang dari desa tersebut yang keluar hidup-hidup tanpa terluka sedikitpun. Dia menggambarkan sosok tersebut mengenakan jubah dengan lambang ukiran yang persis sama dengan yang berada di saku Xin Chen.


"Sampai di sini sudah jelas, siapa yang musuh dan darimana asalnya. Guru, kita harus segera pergi ke desa Huaxi, dari berkas ini Xu Ming mengatakan mereka membangun markasnya di sana."


Rubah Petir mengangguk pelan, mereka segera melanjutkan perjalanan secepat mungkin.


Meskipun dapat berlari dengan kecepatan tinggi Rubah Petir tak menggunakannya untuk saat ini, dia sadar kaki Xin Chen masih terlalu pendek dan penguasaannya dalam ilmu meringankan tubuh masih amatiran. Sebab itu selagi dalam perjalanan dia menyampaikan beberapa teknik pernapasan pada anak itu


Xin Chen tertawa kecil, sebenarnya dia sudah mengetahui bagaimana caranya. Dengan mengunjungi perpustakaan di Lembah Kabut Putih setiap sore dan latihan keras sepanjang hari.


Hanya saja walaupun sudah bekerja keras Xin Chen tak dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya, membuat jarak antara kekuatannya dengan Xin Zhan semakin terpaut jauh.


"Kau sudah mengetahuinya, bukan? Kenapa tidak mencobanya sedikit lebih keras lagi?" Rubah Petir bercelutuk, kecepatan Xin Chen tetap tak berubah


"Tu-tunggu kakiku rasanya tidak bisa berhenti berlari lagi..."

__ADS_1


Daripada membalas Rubah Petir, Xin Chen malah menggerutu sendiri.


"Sepertinya anak ini memang perlu latihan keras, kau tahu setelah ini bisa saja kau akan dibunuh oleh Pendekar dari Lembah Para Dewa?"


"Y-ya?" Xin Chen tetap tidak bisa fokus, napasnya terdengar mulai ngos-ngosan.


Rubah Petir menggulirkan bola matanya malas, tangan rubah itu terangkat ke atas menciptakan sesuatu dengan energi petirnya.


"Kalau begitu berlarilah lebih kencang lagi atau kau akan disengat oleh mereka."


Xin Chen menaikkan sebelah alisnya, mulai melihat Rubah Petir kebingungan. Tak berapa lama terdengar bunyi lebah dari arah belakang, ketika Xin Chen menoleh wajahnya langsung berubah buruk.


"Apa-apaan-!? Lebah petir?!" Teriakannya terdengar ketakutan. "Wuahh mati aku, Ayah!!"


Rubah Petir menggeleng lagi dan lagi, benar saja, hanya dengan sedikit tekanan kecepatan lari Xin Chen bertambah setidaknya tiga kali lipat. Rubah Petir menyeimbangkan derap kaki mereka, menyusulnya sembari menatap gelapnya langit malam.


Dia berhenti sejenak, memanggil Xin Chen yang sudah berlari jauh darinya.


"Bagaimana mau berhenti? Lebah-lebah ini mengincarku, Guru!" umpat Xin Chen. Salah satu dari lebah tersebut menyengatnya dan seperti yang Xin Chen duga, sengatan itu hampir saja membuat dirinya pingsan.


Rubah Petir menghilangkan lebah-lebah tersebut dan menyuruh Xin Chen beristirahat. Anak itu berjalan mendekat dengan napas putus-putus kemudian duduk sembarangan di sampingnya.


"Untuk situasi tak terduga, gerakan refleksmu terbilang bagus," ujar Rubah Petir. Xin Chen mendengus, melirik ke samping.


"Aku baru tahu tentang hal itu sekarang."


"Karena selama ini keselamatanmu terjamin?"

__ADS_1


"Ya... Baik Ayah, Ibu dan Zhan Gege, mereka selalu menyelamatkanku kalau sedang berada dalam kesulitan. Sebaliknya aku..." Nada bicaranya berubah murung. "Aku hanya menambah beban pada mereka, sama sekali tidak bisa membantu di saat-saat seperti ini."


Binar mata Xin Chen terpaku di tangannya sendiri, entah sudah ke berapa kalinya dia mengeluh seperti ini pada Rubah Petir.


Tak ada tanggapan, tampaknya Rubah Petir dapat memahami apa yang dirinya rasakan. Xin Chen akui selain Ibu dan Ayahnya, hanya Rubah Petir yang bersedia menerima kelemahannya.


Namun pemikiran itu terbantahkan, Xin Chen justru dibuat kaget tak main-main ketika Rubah Petir malah menciptakan berbagai binatang berbahaya dengan energi petirnya.


"Daripada mengeluh lebih baik kau gunakan waktumu itu untuk berlatih!"


Xin Chen bergidik ngeri sehabis menghindari serangan macan dari petir tersebut, salah bergerak saja dia akan hangus disengat olehnya.


"Tapi aku sudah berlatih keras, dari pagi sampai sore. Tidak ada bedanya dengan Zhan Gege, yang membedakan hanya... Hanya aku yang tak memiliki bakat untuk menjadi penerus Ayah."


"Kalau begitu jadilah pecundang selamanya! Kau sudah mengambil berapa nyawa sejak kau pergi? Sudah berapa musuh Ayahmu yang sanggup kau berantas, dan hari ini kau bertingkah seperti bocah balita."


Xin Chen menahan segala serangan dari berbagai penjuru dengan pedangnya, beberapa sengatan menyetrum tubuhnya tanpa ampun.


Akan tetapi dibanding luka luar kata-kata Rubah Petir jauh lebih menusuk, Xin Chen tak tahu entah mengapa justru jika Rubah Petir yang mengatakannya semua hal ini menjadi cambuk menyakitkan.


"Apa aku perlu merendahkan Ayahmu juga agar kau sadar?"


Mata Xin Chen berkilat marah, dia menatapi Rubah Petir. "Jangan sekali-kali membawanya, Guru. Aku masih sangat menghormatinya."


"Sadar tak sadar dengan kemampuanmu yang seperti itu, justru kaulah yang membuatnya malu. Meski aku tak yakin benar atau tidak, tapi dari anggapan orang-orang tentangmu, kau pikir bagaimana perasaannya saat mendengar anaknya dihina-hina?"


Xin Chen berhenti bergerak hingga binatang yang diciptakan Rubah Petir bebas menyerangnya tanpa perlawanan balik. Tubuh anak itu mulai goyah namun enggan untuk jatuh.

__ADS_1


Rubah Petir tak tahu menahu bagaimana respon Xin Chen, memang kata-katanya terlewat batas tapi mau bagaimana lagi. Xin Chen tak seharusnya hidup seperti sekarang, secara alami anak itu memang harus dilatih keras untuk melatih kekuatan sekaligus mentalnya.


Xin Chen menepis semua serangan yang datang ke arahnya, dia mulai fokus melancarkan perlawanan balik. Tanpa berniat menjawab kata-kata Rubah Petir, dari semua perkataan tadi memang baru kali ini Xin Chen tersadar. Bahwa dialah yang sebenarnya selalu mengecewakan Ayahnya.


__ADS_2