Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 61 - Sosok Di Balik Kegelapan


__ADS_3

"Kita punya waktu berapa lama hingga jiwanya benar-benar padam?" tanya Xin Chen tak ingin mendengar pendapat si rubah, tak bisa memenangkan perdebatan ini akhirnya Rubah Petir mengalah.


"Dua jam, kau harus menguasai Irama Kematian dalam kurun waktu dua jam. Aku tidak yakin kau bisa melakukannya, jika bisa pun mungkin takkan sempurna dan malah akan memperburuk keadaan."


Jelas Rubah Petir kemudian, tapi di balik itu ide Xin Chen ini agak masuk akal juga. Dia yakin tujuan Xin Chen adalah untuk memadamkan jiwa roh-roh yang merasuki Wei Feng. Namun hal itu tidaklah mudah dilakukan, salah-salah akan membunuh Wei Feng sendiri nantinya.


"Kita harus mencobanya dulu, kalau memang perkiraanku ini tidak meleset mungkin masalah kemunculan roh jahat akhir-akhir ini memiliki solusinya dengan Irama Kematian ini."


"Terserah kau saja."


Xin Chen ingat tadi saat di perjalanan dia sempat melihat bambu tumbuh di sekitar ini, tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri dia sudah bisa mendapatkannya dengan mudah.


Tapi bambu itu sendiri masih memiliki kekuatan roh yang begitu kuat, karena tanah tempatnya tumbuh juga dipengaruhi oleh kekuatan spiritual yang jahat.


Xin Chen memotongnya dan melubangi di beberapa bagian hingga akhirnya membentuk sebuah seruling, sebelum berlatih Irama Kematian Xin Chen menatap Rubah Petir sebentar.


"Boleh minta tolong?"


Rubah Petir memandangnya curiga, pasti permintaan Xin Chen ini akan merepotkannya lagi.


"Apa?"


"Bisa kau bereskan siluman berbahaya di hutan ini? Mereka dirasuki oleh roh, kemungkinan bisa membahayakan nyawa penduduk desa seberang."


"Lakukan saja sendiri," jawab Rubah Petir malas. Xin Chen mendecak kecil dan segera berceloteh lagi. "Kalau tidak kau saja yang mempelajari Irama Kematian ini biar aku bereskan silumannya."

__ADS_1


"Kau gila? Sejak kapan siluman bermain alat musik tiup seperti itu? Kau yakin saat bertarung tadi kepalamu tidak terbentur sesuatu sampai tidak bisa berpikir jernih?"


"Makanya aku memintamu," tanggapnya cepat. Memang dalam hal berargumen Xin Chen terbilang lihai, sudah berapa kali dia harus mengalah pada anak kecil itu.


Rubah petir tak berkata banyak lagi, dia segera pergi menelusuri hutan sendirian. Tampaknya sejak bertemu dengan Naga Hitam, Rubah Petir merasa sedikit terganggu akan sesuatu atau itu hanya perasaan Xin Chen saja.


Mengenai Naga Hitam tadi juga Xin Chen tak begitu paham mengapa baru kali ini dia menemukan siluman naga berukuran seperti itu, di sekte Lembah Kabut Putih sendiri Naga dikatakan sebagai bentuk dari kekuasaan. Di dunia ini Naga adalah mahkluk yang terkuat selain iblis.


Dibanding itu yang Xin Chen tahu hanya di dunia ini naga berukuran raksasa yang mana mereka dijuluki sebagai Siluman Penguasa Bumi. Tak heran, siluman terkuat adalah seekor Naga dan masih ada naga lain yang menjadi Siluman Penguasa Bumi juga. Keberadaan mereka masih tidak diketahui, sepuluh Siluman Penguasa Bumi saja yang diketahui hanya segelintir.


"Itu artinya... Bisa jadi ada lebih banyak naga yang hidup di dunia ini. Dan Naga Hitam tadi, akan masuk akal jika dia adalah anak dari naga Siluman Penguasa Bumi."


Merasa pikirannya mulai kacau Xin Chen mengalihkan fokus ke tempat lain, dia menoleh ke arah Wei Feng sejenak. Tidak yakin Irama Kematian benar-benar akan bekerja atau malah memperparah keadaan seperti kata Rubah Petir. Selama ini Xin Chen hanya mengikuti nalurinya berpikir. Entah itu benar atau tidak dia tak pernah memikirkannya dua kali.


Ketika sedang berkonsentrasi mempelajari Irama Kematian secara cepat, Xin Chen dikejutkan oleh serangan mendadak yang dilakukan sekumpulan serigala, binatang buas yang sejak tadi memerhatikan Xin Chen dengan mulut dipenuhi air liur kembali datang. Mereka terlalu kelaparan.


"Grooaahh!!!"


Semburan api dari Naga Hitam tiba saat Xin Chen dalam situasi terpojok, serigala yang mengepungnya tidak langsung berlari. Mereka menggonggong memanggil kawanan lain hingga akhirnya jumlah mereka bertambah, Xin Chen tak pernah menyangka situasi akan menjadi seburuk ini.


Selain itu dia sedikit mengkhawatirkan Naga Hitam itu, dia kembali dengan bekas luka dalam di lehernya dan lagi sebuah anak panah menancap di antara tulang belakangnya. Membuat naga itu bergerak tak seimbang, mungkin karena hal itulah kawanan serigala ini merasa akan menang jika menghadapinya bersama-sama.


"Hai kawan, kau kembali lagi?" tanya Xin Chen kecil. "Baiklah, untuk yang kali ini aku berhutang nyawa padamu."


Naga Hitam tersebut tak mau mengalah, meski Xin Chen menyuruhnya mundur dia tetap bersikeras untuk mengalahkan semua serigala ini. Pertarungan pun tak terelakkan, Naga Hitam dan Xin Chen bertarung kompak. Satu per satu serigala buas terluka, beberapa masih sempat menyakar kulit Xin Chen.

__ADS_1


Naga Hitam menggigit seekor serigala, mengopernya pada Xin Chen yang langsung memenggalnya tanpa ampun. "Baiklah! Sekarang kita tim!"


Raungan Naga Hitam terdengar setelahnya, pertarungan ini lebih terlihat seperti permainan anak kecil di mata Rubah Petir yang kini memerhatikan mereka di atas dahan pohon tertinggi. Menarik napas dalam-dalam tak sanggup memikirkan apa yang terjadi di depan matanya ini.


"Sepertinya dua mahkluk keras kepala ini sulit dipisahkan," gerutunya. "Naga itu... Darimana dia muncul?"


Rubah Petir meninggalkan tempat itu sementara, setidaknya dia merasa tak perlu meresahkan Xin Chen saat ini. Sudah lebih dari dua puluh siluman ditemukannya dalam perjalanan.


Mayat-mayat mereka ditumpuk di satu tempat, ketika sedang sibuk mencari ke mana perginya para siluman ini melarikan diri, Rubah Petir dikejutkan akan sebuah kekuatan tak biasa.


Kepulan roh hitam mengerubungi sosok di balik asap tersebut, membuat seseorang di dalamnya tersembunyi dengan baik.


"Xin Fai, kau kah..." Rubah Petir refleks mengikuti arah terbangnya sosok tersebut hingga dia pergi meninggalkan hutan. Tanpa jejak atau apapun.


"Tidak, yang tadi itu bukan dirinya... Sosok lain yang bisa mengendalikan roh?"


Rubah Petir mengangkat kepalanya sebentar, "Tampaknya masalah ini sudah menjalar ke lebih banyak permasalahan yang lebih besar lagi."


*


Kicauan burung yang merdu berhenti saat Xin Chen mencoba meniup serulingnya, Naga Hitam menurunkan telinga. Tampaknya dia juga mengerti suara bising itu terlalu sumbang untuk didengarkan.


Secara tidak langsung Xin Chen tersinggung, jujur saja dia tidak pernah belajar memainkan alat musik seperti ini.


Hanya dengan beberapa petunjuk yang dibuat oleh kakek tersebut dan dibuat dengan sangat-sangat sederhana sampai sulit dimengerti.

__ADS_1


Ratusan kali mencoba sampai kehabisan napas Xin Chen sama sekali tak menunjukkan perkembangan dalam latihannya.


Waktu bergulir secepat kilat, tanpa disadari kini dia telah menghabiskan waktu satu setengah jam mempelajari kitab tersebut dan tetap tak menemukan irama yang benar. "Ini tidak masuk akal lagi, mana ada orang bisa belajar meniup seruling ini dengan cepat," gerutunya sembari menggaruk telinga, khawatir Rubah Petir sudah lebih dulu menyelesaikan tugasnya dan melihat Xin Chen duduk tanpa hasil di sini.


__ADS_2