Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 297 - Tiga Tamu


__ADS_3

Ye Long mengikuti irama seruling dari kejauhan, melihat Xin Chen tengah duduk di pinggir pantai menunggunya.


Xin Chen membuka matanya saat melihat Ye Long telah kembali, naga itu begitu bahagia sampai-sampai dia melompat tinggi ke arahnya. Untung saja Xin Chen bisa menyelamatkan hidupnya dengan tubuh roh, atau sekarang dia akan penyet dibuat Naga Hitam itu.


"Jangan ceroboh lain kali. Kau tahu bahwa naga adalah mahkluk yang langka."


"Kau sudah tahu aku tertangkap dan tak datang menyelamatkanku?"


Ye Long juga teringat, saat di penginapan dia juga pernah tertangkap dan dibawa ke markas musuh. Saat itu dia berpikir Xin Chen akan mengejarnya, tapi pemuda itu bahkan sudah lebih dulu ada di tempat musuh jauh sebelumnya datang.


Ye Long mulai merasa tak dianggap.


Dia melibas ekornya ke kanan kiri, sikap terganggu yang begitu mencolok bagi Xin Chen. Pemuda itu mengambil ranting kecil, lalu mulai menggambar di atas pasir.


Rupanya lukisannya juga sama jeleknya dengan Ye Long. Xin Chen menggambarkan sebaik mungkin agar Ye Long mengerti apa yang tengah dibuatnya.


Xin Chen menggambar satu per satu manusia. Ada seorang wanita dan laki-laki dewasa. Ye Long tak mengerti, "Majikan ingin menikah?"


Xin Chen menggetok kepalanya, menyuruh naga itu minggir dari atas gambarnya.


Dia menggambarkan dua orang lagi, laki-laki yang lebih pendek dari dua orang pertama. Kini empat orang itu terlihat seperti sebuah keluarga yang harmonis.


"Keluargamu?"


"Ya, masih ada dua lagi."


Xin Chen berusaha keras untuk menggambarnya, dia mendecak beberapa kali dan menghapus gambarnya sampai terlihat bagus di matanya.


Ye Long melihat dua gambar lagi di atas pasir, dia mencoba menebak-nebak bentuk apa yang dibuat di sana.


"Seekor serigala? Dan ..." Ye Long beralih ke sisi kiri keluarga manusia itu. Melihat seekor naga yang dua kali lebih tinggi daripada si serigala."

__ADS_1


"Dan kau." Xin Chen langsung memberi tahu, takut Ye Long keliru. Lagipula sudah begitu lama dia tak pernah menggambar sesuatu.


Ye Long menyentuh permukaan pasir dengan tangannya, begitu hati-hati. Dia mendekatkan wajahnya ke pasir.


"Ini serigala yang katamu galak itu?"


"Ya, dia Lang. Aku tak tahu dia ada di mana. Mungkin ikut bersama Ayah."


Ye Long melihat lukisan di pasir itu sekali lagi. Tampak begitu berarti bagi majikannya.


"Ini keluarga?"


"Ya."


"..." Ye Long menatapi lukisan itu, matanya semakin berbinar.


"Pasti menyenangkan!" seru naga itu, meskipun tak tahu arti keluarga sebenarnya seperti apa.


"Tapi ini tak akan begitu lama. Dan juga, kau tak berjuang sendirian."


Xin Chen memilih bangun, Ye Long mengikutinya dari belakang.


"Kita ke mana?" Tanya naga itu.


"Ke Lembah Para Dewa."


**


Selama kepergiannya, Lembah Para Dewa mengalami peningkatan yang signifikan. Jalan-jalan besar mulai dibuat, rumah dan bangunan besar bersusun rapi di pinggiran jalan. Lebih terlihat seperti kota kecil, itu juga berkat kepandaian Tian Xi dalam memainkan keuangan. Kerja sama dengan beberapa pihak juga mendorong perkembangan markas. Yang semula hanya seperti markas tertutup menjadi tempat berlatih berperang, ada beberapa rumah hiburan dan juga tempat yang menjual makanan.


Tian Xi benar-benar pusing, dia baru saja merencanakan pembangunan kamp-kamp kuda. Tapi uang itu dipakai untuk membeli senjata dan baju perang oleh Bai Huang. Dan lebih lagi, ada sekumpulan orang aneh yang terus mendesak masuk, padahal Empat Unit Pengintai sudah menutup perekrutan. mereka mengatakan telat datang, tapi itu tak bisa menjadi dalih. Tanpa mendengar alasan lagi, Tian Xi menutup gerbang rapat-rapat dan menyuruh penjaga mengusir mereka pergi.

__ADS_1


"Ada apa?" Nan Yin datang dengan gaya khasnya, sebelah tangan berpangku di pinggang dan sebelah lainnya memainkan anak rambut. Tian Xi merotasikan bola matanya jengah. "Para ikan pendaftar datang telat, ku tahan di depan gerbang saja. Kita sudah kelebihan anggota." Begitu katanya, Tian Xi mencuri pandang ke belakang, merasa tak mengapa membiarkan tiga orang itu masuk. Lagipula tempat ini lebih dari muat untuk menampung tiga orang saja.


"Biarkan saja. Mereka pasti datang dari jauh. Kau bayangkan saja sendiri, kau sudah pamit pada keluargamu demi datang ke sini. Disuruh kembali ke rumah karena terlambat. Sungguh memalukan. Tian Xi, kau sungguh tak berhati."


"Sudahlah. Kalau mau kau urus sendiri ikan-ikan teri itu. Mana si Tinggi Besar? Ada yang mau ku bicarakan dengannya."


"Dia sedang membantu Senior Bai, membangun rumah induk untuk Tuan Muda."


"Sudah selesai?"


"Aku melihat," Nan Yin melipat kedua tangannya sembari melirik ke belakang. "Tapi aku yakin Tuan Muda pasti akan tersipu-sipu. Hahaha, ini ideku. Dia pasti akan jatuh cinta pada ketulusan-"


"Berhentilah mengoceh, kalau dia mendengarmu mungkin dia hanya akan jijik. Oh, atau kau mau aku mengatakan rasa cintamu itu langsung padanya?"


"Tian Xi bangs-"


Nan Yin berlari ricuh saat melihat sekelebat bayangan Naga Hitam di atas langit. Naga itu berhenti tepat di depan gerbang yang perlahan-lahan dibuka oleh para penjaga. Tian Xi segera merapat ke gerbang, menyambut Xin Chen yang kini dihadang oleh tiga orang yang dari beberapa hari lalu meneror gerbang markas Empat Unit Pengintai.


"Singkirkan tangan kalian dari Tuan Muda!" teriak Tian Xi. Namun dia tak benar-benar marah, karena dengan ikan-ikan tersayangnya dia tak berdaya. Jika bukan karena mereka, Empat Unit Pengintai tak akan bisa sebesar ini. Bahkan banyak dari anggota yang suka rela memberikan dana untuk pembangunan markas. Mereka yang merupakan keturunan bangsawan sultan pun ikut bergabung walaupun hanya menjadi prajurit rendahan.


Sejak datang ke markas Empat Unit Pengintai, tiga orang itu tak pernah mandi. Makan pun saling berbagi. Satu yang paling rewel, satunya lagi terlihat pendiam dan tangannya sangat aneh. Serta yang paling muda, anak itu baru berumur belasan tapi semangatnya membara layaknya api.


"Kak Chen!"


Xin Chen tertegun mendengar panggilan itu, dia baru saja turun dan tak melihat tiga orang serta beberapa penjaga markas berada di sana. Tampaknya para penjaga markas itu berusaha keras untuk mengusir mereka.


"Benar saja, kau tak akan mati semudah itu."


Xin Chen begitu mengenal suara yang selalu terdengar membentak itu, serta seekor kukang yang tampak begitu tua di atas bantalan berisi baju di pundaknya. "Selamat datang."


Xin Chen menatapi yang paling muda di antara mereka, dia mengeluarkan sebuah benda usang pemberian Xin Chen beberapa tahun lalu. Barang yang begitu berharga baginya dan dijaga hati-hati. Hanya sebuah kincir angin, dia menyerahkannya pada Xin Chen.

__ADS_1


"Aku selalu bermimpi menjadi orang sekeren kakak."


__ADS_2