
Pengumpulan anggota kelompok berlangsung begitu cepat, Xin Chen tak bisa menghitung lagi berapa jumlah mereka yang pastinya angkanya melebihi 300 orang. Delapan unit satu lain berdiri di atas benteng markas yang tak begitu tinggi, di tengah mereka Xin Chen berdiri sembari menatap tajam pasukan di dpannya.
"Dong Ye sudah kusingkirkan. Untuk siapa pun yang berani mengambil tindakan tanpa sepengetahuan ku. Bersiaplah untuk pembantaian kedua di tempat ini, aku tak mengenal toleransi untuk seorang pengkhianat. Mungkin di tempat lain, orang-orang sepertinya akan hidup sesuai rencananya ..." Pandangannya menyapu segala arah, "Tapi di tempat ini hukum dan rencanaku berjalan. Perhatikan langkah kalian. Kita memiliki tujuan besar, menambah masalah hanya akan mendatangkan sengsara. Untuk itu, aku tidak akan mencari pengganti untuk Dong Ye."
Xin Chen menjeda kalimatnya, dia sadar anggota baru begitu ketakutan saat dia yang berbicara. Dihembuskan napasnya perlahan-lahan. "Lan Zhuxian, kau ambil alih."
Lan Zhuxian mengangguk, mengalihkan perhatian yang lain padanya.
Xin Chen mencari tempat yang lebih sepi, menenangkan pikirannya yang kacau beberapa hari terakhir. Ada begitu banyak hal yang membuatnya frustrasi. Bagaimana cara menyelamatkan Rubah Petir dan ayahnya.
Detik itu Xin Chen menyesal sedalam-dalamnya, dia membuang segala hal dan saat kehilangan hanya penyesalan yang dirasakannya. Ditatapnya langit malam pekat yang ditutupi oleh para kelelawar yang berkelebatan. Sayap hitam, ingatannya tertuju pada Ye Long.
Pemuda itu segera berdiri, terlihat buru-buru. Namun kedelapan anggota unit satu menghentikan langkahnya. Xin Chen menatap ke delapan dari mereka cukup lama.
"Apa Tuan Muda hendak pergi lagi?" Lan Zhuxian bertanya sopan, tak mendapatkan jawaban dia menunduk, "Sebelum itu izinkan saya bertanya, bagaimana dengan sisa komplotan Dong Ye? Saya ragu mengambil tindakan atas mereka."
"Mereka hanya dibayar, orangnya sudah mati. Tidak ada yang perlu mereka patuhi lagi."
"Lalu bagaimana, Tuan Muda?"
"Bunuh saja." jawabnya enteng, Shui melontarkan teriakan. "Mereka hampir seratus orang!"
"Kalau begitu kuserahkan pada Shui. Terserah mau diapakan, aku tidak peduli."
Saat Xin Chen kembali meneruskan langkahnya, mereka tampak tak terima. Menjaga markas ini sendirian berdelapan tanpa adanya sosok pemimpin adalah sesuatu yang mustahil. Kejadian yang disebabkan Dong Ye membuat sebagian dari mereka trauma, terutama Nan Yin yang pingsan saat pembantaian terjadi. Gadis itu sampai bertanya-tanya mengapa Lan Zhuxian mau mengikuti orang itu. Terlalu berbahaya.
__ADS_1
"Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan anda. Tapi meninggalkan markas sesuka hati seperti ini, membuatku benar-benar muak."
"Tidak ada yang melarangmu untuk tinggal."
Nan Yin berjengkit kesal, ingin di tamparnya wajah itu keras-keras. Tapi dia cukup sadar diri di mana posisinya saat ini. Tanpa markas ini sudah pasti dirinya, Tian Xi, Nan Ran juga Lan Zhuxian akan tidur di jalanan seperti gelandangan.
Xin Chen mengangkat tangannya, seekor burung gagak muncul dari perubahan wujud roh dan bertengger di lengannya. Xin Chen menatap ke delapan orang tersebut. "Kabarkan aku jika terjadi sesuatu, kali ini aku tidak akan lama. Pastikan untuk menjaga tempat ini, kita memiliki rumah yang harus dijaga bersama. Jangan sampai tercerai berai lagi."
"Hahahha, omong-omong Tuan Hiu tampaknya terganggu dengan anggotanya sendiri." Tian Xi melipat kedua tangan di belakang leher, senyum seringainya mencairkan suasana. "Mereka segan padamu."
"Mereka takut," ralat Xin Chen. Nada bicaranya tersirat kegelisahan.
Bai Huang menambahkan, "Bagus begitu, Tuan Muda. Mereka takkan berani macam-macam lagi, mengingat kami pun merahasiakan identitas anda dengan baik."
"Kerja bagus," ucapnya. Lalu dengan berat hati dia menatap ke delapan orang itu. Tampaknya dia terlalu payah jika dihadapkan tentang kerja sama kelompok. Xin Chen tak menyangka semua akan sekacau ini. Mereka menunduk serempak. "Hati-hati di jalan, Tuan Muda."
"Tuan Bai, kita kedatangan tamu penting!"
"Siapa? Mengapa tidak datang surat atau izin dulu?"
"Saya kurang tahu, Tuan. Yang pasti kami begitu mengenal orang tersebut ... D-dia ..." Nada bicara laki-laki itu sedikit gemetar.
"Dia Tuan Muda Xin pertama. Xin Zhan."
Bai Huang begitu terkejut begitu pun dengan yang lainnya, mereka sama sekali belum mempersiapkan diri. Tak memperhitungkan akan kedatangan tamu dari Kekaisaran secepat ini. Pelapor itu menambahkan, "Tapi Tuan Muda Xin pertama tak membawa pasukan. Hanya lima belas pengawal, tampaknya hendak berbicara dengan pemimpin kita. Mereka saat ini kami tahan di gerbang sampai dapat izin."
__ADS_1
Bai Huang mulai kalang kabut, dia mondar-mandir dengan gelisah. Mempertemukan Xin Chen dan Xin Zhan adalah ide yang buru, dia bisa memahami seberapa jauh usaha Xin Chen untuk menutupi identitasnya. "Ada baiknya kita merahasiakan hal ini dari Tuan Muda. Tamu itu, siapa yang hendak mengurusnya?"
Tidak ada yang mau menjawab, bahkan Lan Zhuxian sekali pun. Dia tak berani menghadapi orang tersebut karena pribadinya yang sulit berbohong. Sementara Xin Zhan adalah saudara kembarnya. Begitu pn dengan yang lain, mereka mundur hingga kini hanya Tian Xi yang berada di depan mereka.
"Baik, sudah ditentukan. Tian Xi akan maju menghadapi Tuan Muda Xin pertama."
"Oh-ho, seenak jidat anda, Senior Bai-"
"Tidak ada penolakan."
"Hai, aku sudah dibuat cukup stress dengan ikan-ikan sialan itu, Dan kalian menumbalkan aku sebagai umpan untuk saudara Tuan Hiu?"
"Sudahlah, jangan banyak protes. Langsung ke sana." Nan Ran berbisik kecil, "Semoga saat kembali tubuhmu masih utuh."
Tian Xi mendecak, menelan ludah saat mendatangi gerbang di mana di sana telah ramai oleh enam belas orang tamu termasuk Xin Zhan dan juga para penjaga gerbang markas.
Xin Zhan menundukkan kepala dengan hormat, "Saya diutus Kaisar Qin langsung untuk menemui ketua kalian. Nama saya Xin Zhan, kami mengharapkan kebaikan anda untuk menyambut penawaran kami ini."
"Ho? penawaran apa? Mau beternak ikan di sini?"
Xin Zhan tersenyum tipis melihat tanggapan aneh itu, sangat tidak formal. "Apakah anda pimpinannya?"
"Bukan. Tapi yang pasti, ketua kami sangat-sangat sibuk. Lebih baik anda pulang. Kami tidak menjalin kesepakatan dengan pihak mana pun."
"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?" Xin Zhan bersikeras, "Izinkan saya bertemu dengan pimpinan anda. Hanya beberapa menit, jika anda menolak mungkin Kaisar Qin akan menganggap sikap anda sebagai bentuk dari perang. Ini adalah tanah milik Kekaisaran Shang. Kalian tidak berhak untuk mengambil alihnya tanpa pengakuan secara hukum dari Kaisar."
__ADS_1
Tian Xi tertawa terbahak-bahak. "Hahahha kau memang pandai sekali melawak. Saat Empat Unit Pengintai membantai hingga ratusan orang desa seberang, tidak ada yang turun tangan. Sekarang sudah sibuk mengurusi sengketa tanah. Orang-orang bangsawan memang sangat busuk!" Lalu Tian Xi meludah ke sampingnya. Xin Zhan hampr tak percaya mendapat perlakuan seperti itu. Pedang di pinggangnya ditarik, secara tak langsung memang Tian Xi mengajak perang.