Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 44 - Air, Api dan Angin


__ADS_3

Tangan Xin Chen berhenti menyuap, "Apa orang yang menyerangku dengan Zhan Gege adalah orang yang sama dengan Liu Fengying?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Satu pertanyaan besar itu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.


"Fokus dulu dengan tujuan awal kita, lama-kelamaan juga rencana mereka akan terungkap dengan sendirinya." Rubah Petir menyahutinya, menyuruh Xin Chen menghabiskan makanannya agar mereka bisa melanjutkan perjalanan kembali.


"Ngomong-ngomong semalam kau memang mengerjaiku atau bagaimana?" Xin Chen mengalihkan topik, membuat Rubah Petir mau tak mau menoleh ke arahnya.


"Keluarkan pedangmu."


Xin Chen mengikuti perintahnya, kini sebuah pedang berada dalam genggaman tangannya. "Lalu?" ucapnya serius.


"Lalu pikirkan saja sendiri." Rubah Petir berbalik badan tak peduli, keseriusan Xin Chen seketika hancur dibuatnya.


"Apa-apaan? Mana bisa aku-"


"Kalau begitu selamanya kau tak akan bisa menjadi orang yang kuat." Cekal Rubah Petir kemudian, tak lama terdengar desahan napas di belakangnya. Tak memiliki daya untuk berdebat lagi dengan Rubah Petir.


"Baiklah, baiklah... Kalau begitu berikan aku waktu untuk berlatih pedang."


Rubah mengangguk pelan, selagi menunggu Xin Chen melatih kemampuan berpedangnya dia pun bermeditasi. Mengumpulkan energi alam ke dalam batu kehidupan. Sesekali dia mengintip latihan Xin Chen, merasa ada sedikit kesamaan dari teknik berpedang tersebut dengan Xin Fai.


"Sepertinya Ayahmu mengajarkan teknik yang sama dengan yang dia miliki."


Xin Chen berhenti menebaskan pedangnya, "Ah iya, gaya berpedang ini... Ayah mengajarkannya padaku. Hanya saja waktu itu aku tak terlalu serius mempelajarinya."


Dia melanjutkan kembali latihan, setengah jam terlewatkan begitu saja tanpa dia sadari. Melampaui batas yang dikatakan Xin Chen di awal. Akan tetapi Rubah Petir tak mempermasalahkannya jika memang Xin Chen ingin berlatih, dia juga memperbolehkan. Tapi yang menjadi permasalahannya hanya satu.

__ADS_1


"Sudah dua jam kau berlatih terus dan sama sekali tak bisa mengeluarkan kekuatan petir dalam tubuhmu?!" Emosi besar mulai menguasai Rubah Petir, bahu Xin Chen naik ketakutan. Sejak awal mungkin keringat yang bercucuran di wajahnya bukan akibat kelelahan, lebih ke rasa takut oleh omelan Rubah Petir.


"Heheh... Belajar itu butuh waktu, Guru."


Xin Chen hampir saja mengumpati dirinya sendiri, kata-kata tersebut malah membakar emosi Rubah Petir semakin tinggi.


"Aku tak memiliki toleransi seperti yang kau harapkan. Jika kau masih ingin menjadi muridku cepat selesaikan latihanmu ini dan kuasai perubahan energi petir dalam sepuluh menit. Kalau tidak..." Tatapan marah tersebut mulai berubah mengancam, dipenuhi dengan aura mencekam serta gemuruh di atas langit.


"Jangan pernah sebut aku sebagai gurumu lagi."


Napas Xin Chen seakan terhenti setelah mendengarkan ancaman Rubah Petir, pedang dalam cengkeramannya semakin erat seiring dengan menjauhnya langkah kaki Rubah Petir saat ini.


"Chen, kuingatkan sejak awal. Kau sama sekali tidak memiliki waktu untuk bermain-main. Bisa saja suatu saat akan terjadi hal yang tak kau inginkan. Di saat itu tiba, dengan kekuatanmu yang hanya segitu, memangnya kau bisa berbuat apa?"


Tahu posisinya saat ini bagaimana Xin Chen tak mau membuang waktu, sepuluh menit terlalu singkat hanya untuk menemukan cara agar perubahan energi dalam tubuhnya terbentuk.


Sembari mengingat-ingat lagi ilmu yang pernah diajarkan Ayahnya Xin Chen juga mengeluarkan kekuatan yang dia punya, pedang dalam genggamannya terasa gemetar. Pegangannya yang terlalu kuat membuat emosinya semakin buyar di waktu-waktu penting itu.


"Aku tidak boleh gagal, jika tidak..." Xin Chen sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah Rubah Petir saat kembali nanti, pastinya dia akan kehilangan kepercayaan dari si rubah.


Waktu lima menit berselang dengan begitu cepat, sama cepatnya seperti detak jantung Xin Chen saat ini.


Giginya merapat sembari berusaha mengeluarkan kekuatan yang dia punya, tapi di dua menit kemudian tetap tidak terjadi apa-apa pada pedang tersebut. Tidak ada hal seperti perubahan energi atau wujud elemen petir muncul di pedangnya.


Yang terlihat di mata Xin Chen saat ini hanya pedangnya yang bergerak tak karuan sedangkan dirinya sudah putus asa. Satu menit lagi Rubah Petir akan kembali, lalu pergi sendirian meninggalkannya, takkan membantunya lagi mencari Baja Phoenix.

__ADS_1


"Sial... Sial... Ayolah!" Xin Chen berteriak tertahan, walaupun tahu takkan berefek apa-apa pada pedangnya. Dia menelan ludah kasar, waktu semakin menipis tiap detiknya. Dan kini, dari kejauhan derap langkah Rubah Petir mulai terdengar.


"Aku tidak boleh gagal lagi... Ayolah, menuju tanpa batas dan melampauinya!" Dia mengacungkan pedang tinggi-tinggi, wajahnya terlihat semakin buruk. Sekuat apapun dia memaksa dirinya tetap saja tidak akan terjadi apa-apa.


Harapan Xin Chen mulai pupus saat tahu Rubah Petir hanya berjarak puluhan meter darinya. Angin bertiup lembut, menenangkan kepanikan Xin Chen kala itu.


"Sepertinya aku melupakan sesuatu.." Xin Chen tersadar akan kesalahannya, justru dari semua arahan yang diberikan Ayahnya tak satupun bisa dia pahami sepenuhnya. Xin Chen teringat saat-saat dia dan Xin Zhan diajak untuk pertama kalinya ke jembatan penghubung Lembah Kabut Putih dengan rumahnya. Tempat yang dipenuhi kenangan lama.


Di sore itu Xin Fai pernah menanyakan sesuatu yang tak bisa dia pahami, sama sekali tidak. Hanya Xin Zhan yang mampu menjawab pertanyaan itu dengan pasti.


"Saat kalian sudah dewasa, jalan menjadi seorang pendekar sangat sulit. Jika harus memilih antara menjadi Air, Api, atau Angin. Kalian akan memilih yang mana?" tanya Ayahnya sore itu.


Xin Zhan menjawab lantang. "Aku ingin menjadi seperti air. Dengan mengendalikan emosi dan menunjukkan sikap tenang seperti air, aku yakin pertarungan akan sepenuhnya dalam genggamanku."


"Air adalah bentuk dari ketenangan, dia tidak memiliki nama, namun dengan kelembutannya bisa mengikiskan batu dan menghidupi ribuan nyawa. Zhan'er, kau memiliki pilihan yang bagus." Xin Fai beralih pada Xin Chen.


Di satu waktu yang sama Xin Chen hanya menunduk terdiam, tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Hari itu, dia sama sekali tak mengatakan sepatah katapun sebagai jawaban.


Dan di hari ini, hari di mana dia dilatih dengan sangat tidak masuk akal oleh Rubah Petir akhirnya Xin Chen mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang sangat sederhana namun sulit untuk dia temukan tanpa jati diri.


"Aku ingin menjadi seperti Api, membakar dan mengabukan semua bentuk keserakahan manusia," ucapnya dengan keyakinan penuh. Seolah kini Ayahnya dapat mendengarkan jawaban tersebut. Lama-kelamaan lambang bunga api kembali menyala di dahinya seiring dengan bertambahnya kekuatan mengalir dalam pedangnya.


"Aku ingin seperti Air, menyelamatkan ribuan nyawa dengan kedua tanganku. Menjadi seperti Angin, terbang bebas tanpa kekangan dan hambatan dari orang-orang. Aku ingin menjadi semuanya Ayah, itu jawaban yang kupunya saat ini!"


**

__ADS_1


__ADS_2