
"Tanpa banyak basa-basi, aku akan menjelaskan latihan terakhir dari seleksi ini. Selamat untuk kalian yang berhasil menempuh perjuangan hingga di titik ini. Tapi kami membutuhkan ksatria yang benar-benar tangguh untuk maju ke medan perang yang sesungguhnya. Karena itu malam ini kalian akan berperang satu sama lain. Bersungguh-sungguhlah untuk hari terakhir ini. Bunuh siapa pun lawanmu tanpa rasa takut. Kami tidak akan memberitahu peraturan."
Keributan terjadi di barisan peserta, mereka merasa tak adil dengan cara ini. Tanpa tahu peraturan yang ada dan hanya dikatakan membunuh lawan masing-masing. Itu artinya salah satu kelompok harus gugur. Entah mematok dari jumlah yang bertahan atau seberapa banyak total yang dibunuh dari setiap anggota kelompok.
Instruksi lainnya diberikan oleh bawahan Jenderal-18, tidak ada yang boleh melawan atau memprotes karena pengawas di sekitar mereka akan langsung mengangkat senjata sebagai peringatan. Di seberang Yu Xiong mulai mengkhawatirkan Wei Feng. Walaupun mereka tak mungkin membunuhnya sebagai lawan tetapi tidak menutup kemungkinan anggota kelompok yang lain akan mengincar Wei Feng. Mereka harus mempertahankan kelompok masing-masing. Kenyataan bahwa hanya satu kelompok yang bertahan terasa sangat menyakitkan bagi Yu Xiong. Dia yakin Wei Feng lebih merasakan ketidakadilan ini.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan satu sama lain ..." Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya. Sekarang Yu Xiong hanya bisa melihat bagaimana Wei Feng menyengir di barisan terakhir. Memberi semangat pada kelompoknya.
"Kenapa orang seperti dia terlihat menyebalkan di situasi seperti ini?" Xin Chen menggumam kecil, tentu saja yang lain dapat mendengar suaranya. Baik Yu Xiong atau pun Youji tidak dapat menjawab. Semangat yang menggebu-gebu semenjak siang tadi seketika lenyap. Jika ada pilihan m maka keduanya lebih memilih untuk mundur.
"Sebentar lagi akan dimulai. Aku sepertinya tidak sanggup mengikuti pertarungan ini." Yu Xiong berbicara sangat kecil, lebih seperti berbisik pada dirinya sendiri. Pandangannya jatuh ke bawah, pasir yang semula bersih ini sebentar lagi akan berubah menjadi genangan darah. Meskipun dia sudah melihat banyak orang mati, tetapi kali ini jika diharuskan untuk membunuh temannya sendiri rasanya Yu Xiong tak akan berani. Andaipun dia tidak membunuh, temannya yang lain akan membunuh Wei Feng.
"Kak Chen, bagaimana ini?"
"Bertarung saja seperti kata mereka."
Youji agak tertegun dengan jawaban Xin Chen, sepertinya dia memang tak menganggap serius peperangan ini. Nyawa Wei Feng berada dalam bahaya, atau mungkin Xin Chen berniat untuk membunuh temannya juga, Youji memperhatikan sekitarnya seperti tidak habis pikir.
__ADS_1
"Aku melupakannya. Seharusnya kami tidak mengganggu jalanmu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Wei Feng berjuang sendirian." Youji pelan-pelan menarik napasnya tanpa melirik ke arah Xin Chen. "Tetap pada jalanmu. Kami akan terus mendukung sesulit apa pun keadaannya nanti."
"Jangan terlalu cepat menarik kesimpulan."
Youji dan Yu Xiong tidak mendengarnya, mereka langsung bergerak mengikuti arahan dan mengambil baju perang masing-masing. Lengkap dengan senjata dan juga perisai. Wajah-wajah gugup tampak begitu jelas di antara mereka semua. Kali ini bukan prajurit lagi yang akan membunuh mereka, tetapi mereka sendirilah yang harus membunuh satu sama lainnya.
Kelompok Xin Chen diwakili dengan bendera merah sementara kelompok Wei Feng dilambangkan dengan bendera biru. Mereka memasang persiapan masing-masing, menunggu Peperangan dimulai sambil mencermati lawan dengan teliti. Detik itu suasana seketika hening, hingga akhirnya genderang perang bertabuh menandakan pertarungan besar dimulai.
Teriakan Jenderal-18 menggema kencang disertai dengan bunyi senjata yang saling beradu. Kekacauan terjadi seketika, kedua kubu saling bertarung demi kelompok masing-masing. Dengan senjata tajam pertumpahan darah tak dapat dihindari lagi. Belum satu menit, preman yang menguasai kelompok biru telah menumbangkan salah satu musuh. Dia menikam lawannya di leher, lalu menginjak orang yang tengah sekarat itu hingga tewas. Teman-temannya sedang mengincar Wei Feng yang langsung menghindar ketika perang baru saja dimulai.
Pertarungan itu semakin mencekam oleh jeritan dan juga darah yang mulai menggenang di bawah mayat. Satu per satu nyawa melayang, sebagian mati dengan mengenaskan hasil perbuatan kelompok biru.
Berkali-kali dia maju mundur, tidak bisa memutuskan ke sisi mana dirinya harus berlari. Di depannya musuh kelompok tengah bertarung. Jika dia memasuki tempat itu, nasibnya tak beda dengan kawan satu kelompoknya yang kini terbaring tak bernyawa. Kembali ke tempat semula juga tidak ada beda, lima orang tadi betul-betul serius ingin membunuhnya.
Wei Feng menangkis serangan yang masuk dengan perisai di kirinya. Laki-laki itu menyalip ke sana kemari. Membuang perisai dan pedangnya dan meloncat hendak mengambil panah yang tergeletak di samping mayat.
Baru saja menarik anak panah, seseorang telah menyilangkan pedang di batang lehernya. Sontak Wei Feng terkejut dan segera berhenti bergerak.
__ADS_1
"Kau pikir kau bisa lolos?"
"Jangan besar kepala dulu, aku akan membunuhmu setelah ini."
"Kau sama sekali tidak melihat posisimu."
Orang yang berdiri di belakangnya adalah ketua kelompok preman tersebut, dia tertawa keras-keras hingga membuat orang lain terfokus ke arahnya. Di dekat leher Wei Feng pedang lawannya meneteskan darah milik korban sebelumnya. Laki-laki itu telah mengambil setidaknya tiga nyawa sebelum menangkap Wei Feng.
"Rupanya kau bukan orang pertama yang ku bunuh. Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu. Belum dimulai perang saja kau sudah lari luntang-lantung. Takut mati, ya?"
"Aku lebih prihatin melihat sekumpulan pecundang yang beraninya main keroyokan."
Wajah laki-laki itu berubah kesal, tetapi dia masih bisa tersenyum licik seperti sebelumnya. "Kalau begitu kasihanilah dirimu. Mati di tangan lima pecundang, hahaha!"
Tangan Wei Feng berusaha menyingkirkan pedang itu dari tangannya, laki-laki itu semakin mempererat pegangannya. Tangan Wei Feng yang menahan benda tajam itu tertusuk dalam. Darah mengalir melalui celah-celah jarinya, hingga Wei Feng bisa merasakan tulangnya seperti akan terpotong oleh benda itu.
Tertawaan di belakangnya semakin mengeras, semakin mengejek kesialannya yang menyedihkan ini. Wei Feng tidak bisa melihat seorang pun peduli saat nyawanya berada di ujung tanduk. Lebih tepatnya, semua orang terlalu sibuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tetesan darah menetes deras dari tangannya, Wei Feng tahu jelas hari itu adalah hari kematiannya dan dia sendiri sudah menerima kenyataan itu. Jauh sebelum perang dimulai.
__ADS_1
"Sekarang aku tahu apa bagaimana rasa putus asa yang sebenarnya ..."
Kesadarannya menipis. Dia hampir kehabisan darah. Sementara nyawanya akan melayang dalam hitungan detik lagi.