Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 211 - Dua Silang


__ADS_3

"Hahha! Lihatlah, kita kedatangan tamu yang cukup menarik malam ini!" Pria itu berseru, merendahkan tubuhnya dalam sikap siap bertarung. Dua pedang menyilang di depan dadanya, di kulit bahu pria itu menyilang silang berwarna merah. Persis seperti tanda yang dibuat dengan menggunakan logam panas, jari-jarinya kurus tapi cekatan mencengkram erat pedang, wajah tanpa ekspresinya berubah seringai sangar.


Pakaian mereka telah lama basah oleh hujan, di tengah cuaca buruk yang tak mendukung pertarungan pria itu datang. Mou Zhueyang tak yakin, jalanan begitu sempit dan dihimpit oleh rumah-rumah. Mereka tak bisa bertarung leluasa jika melawan pengguna dua pedang.


Seruan nada lancang terdengar menggema menantang angin badai, "Namaku Fang Xu, anggota inti ke-30 Empat Unit Pengintai. Menghebohkan, tidak?" Xin Chen bergeming, tak mengeluarkan sepatah kata pun dan tak menatapnya dalam keterkejutan. Lantas Fang Xu tertawa hambar.


"Hahha! Sepertinya kau sudah menebak kedatanganku? Mau apa datang kemari dengan membawa prajurit kelas teri? Mau mendonasikan nyawa?" Terbahak-bahak Fang Xu menertawai mereka hingga habis udara dalam paru-parunya.


"Sungguh orang-orang bodoh, kalian hanya menyia-nyiakan waktu dan nyawa kalian sendiri. Berpikir bisa menang melawan kami?"


Mou Zhueyang tak menyangkanya, Empat Unit Pengintai benar-benar mendatangkan anggota inti mereka. Sosok yang dijabarkan dapat mengambil nyawa mereka sekaligus dalam satu gerakan. Lutut prajurit di belakangnya bergetar, orang itu seram untuk disebut manusia.


Meskipun tubuhnya agak pendek dan kurus, tetapi Fang Xu dipenuhi oleh hawa kuat yang menekan. Mou Zhueyang mengokohkan pijakannya, enggan gentar ditatapi laki-laki itu.


"Sebab kalian, nyawa teman-temanku terbunuh. Binatang tidak berhati."


"Oh, hahha! Lucu sekali. Sangat-sangat lucu. Kau bermain peran menjadi korban, heh?" Fang Xu menghitung dengan jari.


"Pertama, kalian datang kemari sendiri. Seperti kataku, mendonasikan nyawa. Saat orang-orangmu dibunuh kau menangis seperti bayi! Bhahaha, sungguh keji Empat Unit Pengintai! Menindas prajurit dengan harga diri tinggi ini sampai ke hatinya yang suci! Pahlawan yang berlagak congkak sepertimu pantas menerimanya!"

__ADS_1


Fang Xu kembali menghitung, "Dan kedua-! Kau terlalu sombong membawa delapan orang keroco ini, pikirmu kau sanggup menahan dua ratus lima puluh dari kami? Oh ... Orang-orang hebat ini, benar-benar pemberani sekali. Bahkan satu Kekaisaran bisa kalian buat takut dengan keberanian kalian ...."


Fang Xu menghilang dan tiba-tiba saja sudah berada di depan Mou Zhueyang, mencekiknya dengan kuat. "Sayangnya, dalam pertarungan kau tidak bisa hanya mengandalkan keberanian, pengecut."


Fang Xu hendak menghabisi nyawa Mou Zhueyang namun langkahnya refleks termundur saat kekuatan misterius membuat sekujur tubuhnya menggigil tanpa sebab. Ada aura gelap pekat yang nyaris membunuh jiwanya, sesuatu yang tak bisa dijabarkan lewat kata-kata. Yang pasti 'sesuatu' itu adalah marabahaya sekaligus malapetaka yang menghancurkan dalam keheningan.


Fang Xu terdiam saat pedang dalam sebelah genggamannya jatuh.


Kelima jarinya pun berjatuhan di tanah, mata laki-laki terbelalak hampir keluar. Ditatapnya tangan sendiri dengan terkejut dan memandangi Mou Zhueyang dalam api kemurkaan yang membara.


"Bajing-!"


Di dalam gelapnya perkampungan tanpa penerangan itu, Fang Xu melihat ribuan roh bertandang menyerbunya. Seringai halus dan bisik-bisik memenuhi pikirannya. Jiwa laki-laki itu seketika terganggu oleh sesuatu yang bahkan tidak dilihatnya. Pikiran. Semua itu hanya menyerang pikirannya, tapi Fang Xu merasa sesuatu dipaksa ditarik keluar dari tubuhnya. Jiwa Fang Xu hampir gila. Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


Fang Xu tak pernah mengetahui, di Kekaisarannya dulu memang hidup seorang pengendali roh yang membunuh ribuan nyawa dalam satu malam. Mereka adalah manusia tak berhati yang menggila oleh kutukan setan. Orang yang bahkan ditakuti masyarakat melebihi ketakutan mereka kepada Kaisar. Pembunuh tanpa tangan yang mematikan jiwa tanpa menyentuhnya.


Sayang, orang itu telah lama mati delapan atau tujuh tahun lalu. Fang Xu tahu betul, tidak ada pengendali roh yang berhasil hidup setelah berurusan dengan mahluk halus. Mereka ditelan kekuatan sendiri dan mati tanpa menyisakan mayat dan abu. Maka dari itu banyak pendekar kekaisaran Qing berhenti mempelajari ilmu pengendalian roh sehingga kekuatan itu hanya menjadi kisah suram yang dilupakan banyak orang.


Namun, di Kekaisaran ini, Fang Xu menemukan satu pembunuh tanpa tangan itu dalam keadaan hidup. Tidak-roh itu yang membuatnya tetap bertahan hidup.

__ADS_1


"Bencana ... Bencana telah dilahirkan kembali. Malapetaka-" Fang Xu jatuh terjerembap ketakutan. Dia hendak melarikan diri karena tahu melawan hanya akan mendatangkan kesialan bagi nyawanya. Tapi tak semudah itu, Xin Chen mendekati perlahan-lahan. Persis seperti hantu pembunuh dari Kekaisarannya dulu.


Fang Xu tak bisa membohongi bahwa keluarganya dulu dibantai habis dalam satu malam oleh pengguna roh, mereka adalah kebencian sekaligus ketakutan dalam diri Fang Xu. Nasib buruk dia dipertemukan dengan orang ini. Gurunya pernah berkata bahwa saat sang pengendali roh telah mencapai tingkat akhir dari kekuatannya, maka ratusan ribu roh bahkan bisa dikerahkannya untuk menghancurkan satu kekaisaran.


"MALAPETAKA! MANUSIA AKAN BINASA-!"


Leher Fang Xu ditikam oleh bilah pedang yang menghujam tenggorokannya hingga menembus tanah, laki-laki itu berbaring dengan mata melotot kuat. Dia mencengkram pedang Xin Chen, berniat melepaskan diri. Berhasil kabur dengan leher bercucuran darah, Fang Xu menerabas semak hutan dengan membabi-buta.


Tidak ada yang mengetahui di dalam gelapnya hutan itu Fang Xu meregang nyawa sepuluh kali lebih mengerikan.


Mou Zhueyang merinding, tidak ada yang aneh. Xin Chen hanya seperti pendekar biasa. Dia memotong jari Fang Xu kemudian menikam lehernya dengan pedang, pria itu hanya terlalu takut. Mungkin, oleh roh-roh penghuni tempat ini yang membalaskan kematian mereka. Kata-kata terakhir itu, malapetaka. Mou Zhueyang menatapi Xin Chen, dia hanya pemuda yang terlalu sulit diartikan sebagai Sang Malapetaka.


"Jangan terlalu dibawa ke hati."


"Aku tidak merasa terganggu. Perhatikan langkah anda, anggota inti sedang berkeliaran mencari kita."


"Baik."


Mereka berjalan ke dalam sebuah rumah kosong yang dipenuhi bercak darah, hujan belum juga reda. Di dalam keremangan itu Xin Chen menghidupkan lilin kecil, sekadar memperlihatkan peta yang baru saja dibuatnya. Merangkai ulang strategi. Saat sekiranya semua sudah siap, mereka berdiri. Di antara badai hujan yang menggelegar, sembilan orang itu memecah arah dan menghilang dalam kegelapan malam.

__ADS_1


__ADS_2