
Pertarungan yang terjadi di Lembah Para Dewa diiringi teriakan-teriakan menggema, sisa prajurit yang datang bersama Xin Chen jatuh berdarah-darah. Bertempur untuk darah penghabisan. Tidak ada yang tersisa dari prajurit Benteng Fugi, meninggalkan nama mereka di medan laga dengan terhormat.
Hanya tersisa Xin Chen yang dikerubungi 180 prajurit, berebutan menghajarnya di tengah hujan yang semakin deras. Xin Chen membuka matanya, mengeluarkan pedang dengan tiba-tiba. Mereka sempat terhenti sejenak sebelum akhirnya berbalik menyerbu semakin ganas.
Sudah begitu lama semenjak terakhir kali dirinya membunuh dan tangannya ternoda oleh darah. Xin Chen tak dapat merasakan apa pun lagi, termasuk saat melawan anggota inti Empat Unit Pengintai sebelumnya.
'Ada yang hilang ...' batinnya. Sementara tangannya terus menebas kawanan musuh di depannya, saat menghindar satu pukulan telak menghantam perutnya. Xin Chen mundur beberapa langkah, dia terpojokkan oleh ratusan pendekar di depannya.
Seandainya memakai wujud roh mungkin dia takkan terkena imbas serangan para prajurit itu, namun dirinya sendiri tidak bisa menyentuh lawannya menggunakan senjata. Termasuk pedang. Dan hanya dapat melukai lawannya dengan kekuatan roh itu pula.
Pertarungan melawan seratus pendekar mulai berakhir tak imbang, Xin Chen semakin termundur beberapa langkah. Dia terkepung, di belakangnya hanya ada pagar pembatas yang tinggi dan sulit dilewati. Sementara itu pendekar di hadapannya masih mengikuti, siap membunuhnya bergerombolan.
Langkah-langkah pria itu mendekati Xin Chen, hanya tersisa sepuluh meter dari tempat pemuda itu berdiri saat ini. Mereka waspada sebelum menggencarkan senjata, memperhatikan gerak-gerik Xin Chen dan bertindak saat jarak mereka semakin menipis.
Dua puluh dari mereka terjebak dalam lingkaran Api Keabadian yang tiba-tiba saja muncul di atas permukaan tanah. Mengurung mereka dalam penjara api sehingga teman mereka yang lain tidak bisa membantu. Xin Chen mengakui 180 orang yang menjadi lawannya ini bukanlah orang sembarangan. Mereka telah dilatih dan ditempa untuk menjadi bawahan yang kuat. Melindungi markas yang kini ditinggalkan oleh atasan mereka tentu bukanlah tugas mudah.
Dua puluh orang itu tidak terlihat gentar, namun panasnya Api Keabadian membuat kulit mereka perlahan meleleh. Xin Chen muncul di tengah-tengah bayangan api, tak menyadari seseorang tengah berada di belakang mereka, para pendekar itu justru mencari cara untuk bisa keluar hidup-hidup dari sana.
Para pendekar lain yang berada di luar api saling bertanya-tanya, tidak ada yang berani menerobos ke dalam. Dari jarak yang cukup jauh saja mereka sudah dapat merasakan panasnya api dari sana.
Tanpa ketahui sosok lainnya telah berdiri di belakang mereka dengan menenteng pedang. Salah satu dari mereka menyadari kehadiran tersebut, membuat yang lainnya ikut teralihkan ke arah pandangannya.
"Siapa kau?"
"Jangan-jangan dia musuh?"
"Langsung habisi saja!"
__ADS_1
Lan Zhuxian memulai tarungnya yang lincah, membuat sekawan pendekar itu bubar saat dirinya menerjang masuk. Adu pedang berat terjadi, Lan Zhuxian memperlebar jarak dan menyerang lawan yang terpisah oleh temannya.
Tiga orang tumbang, Lan Zhuxian hendak menyerang musuh yang lain hanya saja satu dari mereka menahan kaki Lan Zhuxian dan hampir menancapkan senjata tajam ke kakinya.
Lan Zhuxian terkesiap saat pria yang hendak menyerangnya mengejang, mata laki-laki itu melotot dan mulutnya memuntahkan darah. Seseorang baru saja menusuknya hingga pria itu menelungkup tak bernyawa.
"Mereka memang harus dihabisi sampai ke akar-akarnya."
Lan Zhuxian terperangah, melihat Xin Chen berlumuran darah. Api Keabadian menghilang dan menampakkan dua puluh pria terbunuh di belakang sana. Jari pemuda itu bergetar, dia tidak bisa membunuh. Ketakutan menguasai wajahnya yang masih terkejut.
"Tuan Muda, saya ..."
"Pulanglah jika kau tidak bisa berperang. Kita sedang menempuh jalan berdarah. Angkat pedangmu saat lawanmu mengacungkan senjata atau kau hanya akan mati menjadi pengecut yang berlari ketakutan."
Lan Zhuxian masih terpaku dengan kata-kata Xin Chen yang kini membalikkan badan menghadap para musuh yang mengepung mereka dari segala sisi. Lan Zhuxian mengamati sekitarnya dan sadar tidak ada jalan keluar selain pertumpahan darah.
Mereka berdiri saling membelakangi, memperhatikan langkah musuh yang makin lama makin menghimpit mereka. Xin Chen bersiap dengan pedangnya yang meneteskan aliran darah, sementara Lan Zhuxian ragu untuk mengeluarkan pedangnya kembali.
"Perang ada untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi. Dan kadang untuk melindungi mereka kita harus mengorbankan nyawa orang lain."
Detik itu Lan Zhuxian masih tak mengerti apa-apa tentang pengorbanan dan peperangan. Yang diketahuinya adalah semua itu sama sekali tidak baik untuk dilakukan.
Manusia melakukannya, bahkan di Kekaisaran Qing, perebutan kekuasaan para pemimpin sering kali menciptakan perang saudara. Untuk hal seperti uang, kehormatan dan kedudukan.
"Tuan Muda, apakah dengan menghabisi mereka tanah ini akan damai?"
Tidak terdengar jawaban cukup lama, musuh sebentar lagi akan berbondong-bondong mengepung mereka.
__ADS_1
Xin Chen tersenyum tidak yakin, "Akan lebih baik jika kita memastikan semua daratan tidak akan saling berperang. Dengan itu kedamaian akan datang. Kita hanya membutuhkan satu penguasa."
Lan Zhuxian mengeluarkan pedangnya, menangkis serangan yang masuk hendak menancap di dadanya. Tangkisan dan elakan sontak terjadi, Xin Chen mengayunkan pedang di kaki musuh. Membuat mereka mundur ketakutan lalu kembali maju menyerang.
"Mereka sudah kehilangan pemimpin dan masih begitu semangat untuk melanjutkan pertarungan. Saya heran apa yang ditanamkan pada mereka hingga menjadi seperti ini." Lan Zhuxian bercelutuk di sela-sela pertarungan, dia mulai terpisah jauh oleh Xin Chen yang kini lebih banyak dikerubungi musuh.
"Aih, untuk apa juga saya bertanya. Tuan Muda berani menantang dua ratus orang ini saja sudah tidak masuk akal." Lan Zhuxian menggeleng tak mengerti, dia sebenarnya cukup terkejut saat mendengar dari penduduk Kota Fugi kalau sekelompok prajurit dan seorang yang tidak memiliki identitas pergi berperang ke tanah ini.
Usai mengantarkan anak-anak itu Lan Zhuxian langsung mengejar dan mendapati keadaan sekacau ini. Dia sampai mengkhawatirkan keselamatan nyawa Xin Chen.
"Tuan Muda, sebaiknya kita mundur dan mengumpulkan bala bantu-"
Pendekar di sebelah Lan Zhuxian tumbang dan ambruk di bawah kakinya. Angin kencang berdatangan, begitu tajam hingga membuat rambutnya beterbangan. Lan Zhuxian baru menyadari musuh-musuhnya telah jatuh dan tak bersisa sedikit pun ketika api misterius membakar mereka menjadi abu hitam.
Sisa Empat Unit Pengintai mulai gentar, hanya tersisa enam puluh orang yang berdiri. Sebagian maju melawan dan sisanya mulai kabur melarikan diri. Harus ada di antara mereka yang kembali ke atasan untuk memberitahukan keadaan ini.
"Tangkap yang kabur, jangan biarkan satu pun hidup!" teriak Xin Chen. Lan Zhuxian menghadang lawannya dan melayangkan tendangan keras. Membuat pria itu jatuh menelungkup agak jauh.
Tapi belum sempat mengejar, pria itu bangun dan lari secepat kilat. Tak memedulikan kawan-kawannya yang sedang berjuang. Dia berhasil kabur melalui rute rahasia yang hanya diketahui kelompok Empat Unit Pengintai.
***
**Nah, akhirnyaaa dapat juga nama Akak, Abang, Bapack, Ibu, Mamang, Tante, Adek dan jones yang budiman🥰 terhura banget sama kalian, lope2 hehehe💗💗
terima kasih banyak selalu mendukung, bahkan komen dan baca cerita PPI-ku walau begitu banyak kurangnya. aku bakal memperbaiki diri agar ceritaku terus berkembang. Terima kasih untuk Satya, Yezza, Hendro, Agus, Ronaldy, Ronny, Achmad, Indrawan, Asrytabhow, Ady, Kak Riska, Bang Joen, Ayuna dan Ilyas😘
Untuk kalian yang belum sempet ikutan, nnti bakal buka open PO, ya. hehe ditunggu aja, tunggu novelnya siap dicetak, ngeeeeeng🚴🏻♀️**
__ADS_1