
"Hah... Andai aku tahu dari awal..." sesalnya kecewa berat, namun Rubah Petir tampaknya tak begitu mempermasalahkan hal ini.
"Keputusanmu tak sepenuhnya salah, karena pada dasarnya jika dibiarkan dalam wujud asli semua orang pasti akan memperebutkan Baja Phoenix."
"Tapi tetap saja... Kalau Han Zilong tahu apa yang ku perbuat pada senjatanya mungkin dia akan marah."
"Tidak akan."
"Benarkah?"
"Daripada memarahi bocah tak bisa diatur sepertimu lebih baik dia menggantungmu di pohon." Xin Chen mendengus pelan mendengar jawabannya.
Selagi itu saat melihat sebuah tempat yang ditumbuhi oleh bambu Xin Chen segera berlari ke sana dan mengambil beberapa lalu meminta Rubah Petir berhenti sebentar, tak jauh darinya Xin Chen dapat melihat sebuah sungai jernih yang dipenuhi oleh akar pohon besar. Xin Chen duduk di salah satu batang pohon yang tumbuh menjalar ke atas air dangkal.
"Kau ingin mempelajari jurus aliran hitam itu?" Rubah Petir melompat tinggi ke atas dahan pohon. Dia melihat ke bawahnya di mana Xin Chen sedang mempelajari kitab yang diberikan oleh roh penghuni Baja Phoenix.
"Bukan, hanya saja aku menyadari sesuatu. Intonasi dan petikan nada dari Senandung Air dan Irama Kematian memiliki beberapa kesamaan."
"Lalu kau menganggap ini hanya kebetulan atau sesuatu yang saling berkaitan?" tanya Rubah Petir kemudian.
"Pada dasarnya menenangkan dan mengacaukan adalah dua hal yang sama sekali berkebalikan. Seperti Yin dan Yang. Aku masih belum memahami mengapa Senandung Air hampir mirip dengan Irama Kematian dan sebaliknya. Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan ini kurasa adalah Patriark sekte Kuil Teratai."
Usai membuat seruling sederhana menggunakan bambu Xin Chen mulai meniupkannya, sedikit meringis ngilu saat mendengar suara sumbang yang keluar dari seruling tersebut.
"Berhenti memainkannya jika kau tidak pandai, Chen. Kau hanya akan mengganggu Naga malang itu." Rubah Petir menunjuk ke arah Ye Long kasihan. Naga itu memang mengikuti mereka sejak di Desa Pelarian. Dan sekarang dia sangat terganggu oleh suara seruling Xin Chen.
"Ye Long, kau pasti ingin mendengarkannya lagi bukan? Dekat kemari, kau harus mendengarkan irama indah ini." ajak Xin Chen namun Ye Long melibaskan ekornya hingga membuat beberapa batu terlempar ke arah Xin Chen.
Dia menangkis batu itu dengan seruling, tahu Ye Long tak begitu suka jika dirinya memainkan Irama Kematian.
__ADS_1
"Dibandingkan dengan irama indah lebih seperti suara kambing terjepit." Rubah Petir mendengus sembari memejamkan matanya pelan, duduk seimbang di atas dahan untuk bermeditasi.
"Hm? Suara kambing terjepit?" Dia menukikan alis tersinggung, merasa tidak terlalu buruk dalam memainkan alat musik Xin Chen mencoba meniup lebih keras lagi.
"Groaarggh!" Ye Long mengaung keras hingga membuat Xin Chen memberhentikan tiupan seruling tersebut. "Apa ada yang salah dengan suaranya?"
"Irama kacau itu mungkin terlalu sensitif jika terdengar di telinga Naga Hitam sepertinya."
"Benar juga. Pendengarannya terlalu tajam." Xin Chen menyahut kecil, "Ngomong-ngomong Guru Rubah, apa kau tahu sesuatu tentang Ye Long? Kenapa aku merasa dia seperti pernah mengenalku?" Pertanyaan itu secara tiba-tiba muncul di benak Xin Chen, sedari awal sudah sangat tak masuk akal Ye Long datang dan sama sekali tak mengeluarkan hawa pembunuh kepadanya. Bahkan Ye Long melindunginya saat diserang Wei Feng yang saat itu dirasuki oleh para roh.
"Dan satu hal lainnya yang masih membingungkan, Naga itu mengetahui perihal Bunga Api dan cara membangkitkannya. Jika kau tanya padaku, jujur aku tak tahu menahu tentang naga itu."
"Benar juga," balas Xin Chen mengamati Ye Long lama. Naga itu sibuk menangkap ikan air tawar di aliran sungai yang dangkal. Saat Xin Chen mengeluarkan bunyi seruling Ye Long langsung mengamuk keras-keras
"Dia memiliki keluarga juga, sama sepertiku. Mungkin Ye Long sedang mencari keluarganya dan tersesat dalam perjalanan?"
"Menurutmu bagaimana?" tanya Xin Chen sekali lagi.
"Masalah keturunan naga seperti ini sebaiknya kau tanyakan pada sesama mereka."
"Hahaha jangan bercanda, tidak mungkin aku bisa menemukan naga lain di dunia ini selain Ye Long. Melihat dia saja aku hampir tak percaya."
"Lalu kutanyakan padamu, apa kau pernah dihadiahi sesuatu oleh Ayahmu?"
Mendengarnya Xin Chen berpikir sejenak, agak menebak menjawabnya. "Mungkin... Permata Cahaya Biru? Hah... Aku takkan mungkin menjual permata itu, pulang ke rumah bisa dikebiri oleh Ayah nanti."
Ye Long masuk ke dalam air hingga percikannya menyembur ke arah Xin Chen yang lagi-lagi hanya bisa mengumpat. Belum-belum dia sudah dibuat basah kuyup oleh Naga Hitam tersebut. Sementara Rubah Petir turun dari dahan pohon dan mendekati Ye Long.
"Pemilik Permata Cahaya Biru adalah Naga Air. Satu-satunya yang bisa kau tanyakan tentang naga itu, mungkin dia memiliki jawabannya."
__ADS_1
"Naga Air? Jadi dia benar-benar ada...?"
"Kau tak mempercayainya?"
"Aku percaya... tapi kalau belum melihatnya aku masih ragu."
"Sebaiknya kau mempersiapkan diri jika ingin bertemu dengan Naga itu."
"Hah.... Tak bisa kubayangkan, kurasa aku takkan bisa pulang bertahun-tahun dalam perjalanan ini." Xin Chen mendengus kecil.
"Sudah kukatakan dari awal padamu, Chen." Rubah Petir mengangkat kedua tangannya, membuat aliran air sungai dipenuhi oleh kekuatan listrik tinggi. Ikan-ikan dari air sungai tersebut mengapung di atas air dalam keadaan tak berdaya.
Ye Long sedikit mundur dari air listrik tersebut, hanya melihat Rubah Petir berjalan di atas air untuk mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapannya lalu menyodorkannya pada Ye Long agar dia membakarnya.
"Kalian berdua sangat kompak." Tanggap Xin Chen kemudian, satu bulan hidup bersama di hutan Desa Pelarian sepertinya membuat hubungan dua siluman ini sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ye Long memakan ikan yang telah dibakarnya lahap dan melemparkan salah satunya ke arah Xin Chen.
Xin Chen menangkapnya, terkejut merasakan tangannya terbakar oleh kepanasan ikan tersebut. Melihat Ye Long memakan ikan yang masih panas itu dengan sangat cepat membuat Xin Chen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka memilih menghabiskan ikan bakar tersebut tanpa banyak berbicara.
Namun tak begitu lama Xin Chen merasakan hawa keberadaan lain di sekitarnya, sama seperti Rubah Petir yang langsung menghentikan pergerakannya.
"Kau bisa merasakannya juga?"
"Hm, iya. Mereka sepertinya hanya lewat saja."
"Bukan itu, tetapi kekuatan keping Baja Phoenix lain... Aku bisa merasakannya sekilas," jelas Rubah Petir. Xin Chen mengelilingi sekitarnya dan memutuskan untuk mengejar dua orang tersebut secepat mungkin.
"Dua orang berjubah yang waktu itu... Seingatku hanya mereka yang memiliki kepingan Baja Phoenix lain."
***
__ADS_1