
Xin Chen menahan dada Wei Feng agar tak menyahuti lelaki tua itu lagi, memang tak selamanya penampilan menggambarkan watak seseorang. Contohnya saja Gu Long ini, di luar dia terlihat seperti sosok pemimpin yang baik, ramah dan beretika tapi ujung-ujungnya mereka tertipu.
Pria itu justru membodohi mereka. Menyuruh keduanya berburu siluman roh di hutan berbahaya dengan iming-iming hadiah lima ribu keping emas. Semuanya hanya omong kosong belaka, baik Xin Chen maupun Wei Feng sama-sama tertipu olehnya. Tak mau mempermalukan diri lagi di depan Gu Long, Xin Chen segera memundurkan diri.
"Aku tidak peduli dengan uang itu, yang penting sekarang keselamatan para penduduk di sekitar hutan siluman roh. Setidaknya kita berhasil menyingkirkan mereka, Kak Wei."
"Chen, kau itu senang dibodoh-bodohi atau bagaimana? Jelas-jelas dia sedang mempermainkan kita! Kau tidak merasa terhina diperlakukan seperti itu oleh si tua keladi ini?! Aku ingin sekali menghajar wajahnya!"
Wei Feng menarik lengan bajunya kesal, tiga tombak runcing diacungkan ke arah Wei Feng seketika itu pula. Para murid dari sekte Bukit Tawon Emas melindungi pria bernama Gu Long ini. Tidak peduli mau yang dilakukannya baik atau tidak. Gu Long tampaknya memiliki kuasa yang besar di sekte ini.
"Pendekar Muda, tampaknya kau memiliki hati yang baik. Kuakui kau cukup lapang dada saat tahu uangmu kuambil."
Urat-urat di kening Wei Feng semakin terlihat, lengannya masih ditarik-tarik Xin Chen ke belakang. Khawatir pria itu memulai pertarungan terhadap Gu Long, dia melirik ke arah Gu Long sabar.
"Sebenarnya aku juga menemukan beberapa binatang lain di hutan, setahuku kalau dijual juga hasilnya lumayan..." ujarnya sembari mengamati wajah Gu Long, benar saja binar matanya langsung cerah. Sepertinya pria itu sangat gila dengan uang. "Kau boleh perlihatkan itu padaku sekarang?"
Xin Chen mengangguk pelan, tak memedulikan Wei Feng sudah kesal setengah mati padanya. Tak berapa lama keluar kumbang yang disimpan dalam cincin ruang.
Kumbang dengan corak kuning keemasan ini memiliki suara sayap yang unik, membuat Gu Long yakin kumbang-kumbang yang dibawa Xin Chen memang termasuk spesies langka.
"Hm... Mungkin kalau kau mau menjualnya ke kami, aku bisa menghargai semua kumbang ini seratus keping emas. Setidaknya lebih baik daripada kalian pulang dengan tangan kosong."
Gu Long mengelus jenggotnya, menebak-nebak keputusan seperti apa yang akan diambil Xin Chen. Dalam membaca pikiran Gu Long memang sangat ahli, maka dari itu sudah banyak sekali orang yang tertipu oleh dirinya. Dan mereka sendiri tak memiliki bukti apapun untuk menunjukkan bentuk kejahatannya selama ini.
"Aku tak membutuhkan kumbang ini juga, sebenarnya tadi aku ingin memberinya sekalian dengan mayat siluman itu..."
"Aku akan dengan senang hati menerimanya," sela Gu Long. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan jika sewaktu-waktu Xin Chen akan berubah pikiran. Terdengar gerutuan kecil di sebelah Xin Chen, tampaknya Wei Feng masih tak terima atas sikap baiknya terhadap Gu Long.
__ADS_1
Benar saja, Xin Chen menyerahkan kumbang emas itu kepada Gu Long, membuat kedua sudut bibir pria itu mengembang lebar sangat bahagia. Tak menyangka hari ini dia akan mendapatkan uang sebanyak ini dengan cuma-cuma.
"Baguslah, dengan uang-uang ini aku bisa meningkatkan kekuatanku dengan sumber daya itu..." Gu Long tak bisa membayangkan bagaimana dia bisa menghabiskan ribuan keping emas ini sendirian. Apalagi kini tubuhnya telah memasuki tingkat Pendekar Agung tahap 2 akhir.
Dengan bantuan sumber daya, setidaknya dia bisa mempercepat kemajuan tersebut. Senyum licik tertera di wajahnya, membuat Xin Chen sedikit memalingkan muka dengan muak.
"Kau sangatlah baik hati, pendekar muda. Aku akan benar-benar mengingat kebaikan hatimu ini."
"Kalau begitu kami pergi dari sini."
Keduanya beranjak pergi begitu saja, Gu Long memerhatikan kumbang-kumbang di tangannya dengan bahagia. Keindahan dari kumbang tersebut akan mendatangkan lebih banyak uang lagi untuk Gu Long.
Sementara itu ketika mereka sudah agak jauh dari Gu Long, Wei Feng kembali menyerocos, "Kau ini-! Apa-apaan malah memberikan kumbang dan siluman secara gratis! Kau pikir mudah menangkap binatang-binatang itu?!"
Xin Chen menaikkan sebelah alisnya, menganggap ucapan Wei Feng sedikit keliru.
"Kak Wei," suara Xin Chen kemudian.
"Apa?" Wei Feng menyahut ketus, memalingkan pandangannya ke arah lain karena muak pada Xin Chen.
"Menurutmu aku benar-benar baik seperti yang si tua Gu Long itu katakan?"
Bola mata Wei Feng bergulir ke arah belakang, agak terkejut saat mendapati kekacauan kecil sedang terjadi saat mereka sudah agak jauh dari tempat Gu Long berdiri.
Pria itu jatuh pingsan begitu saja setelah menghirup racun dari sayap kumbang yang dipegangnya. Membuat para murid di belakangnya panik dan segera membawa dia masuk ke dalam aula.
"Itu sebagai balasan karena menipu kami berdua," ucap Xin Chen. Dia tersenyum sebentar sembari memperlihatkan tatapan iblis. Hampir membuat Wei Feng melonjak dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya Wei Feng refleks. Menelusuri sekitarnya dengan aneh dan tak menemukan jawaban mengapa Xin Chen memasang wajah yang sedemikian mengerikan.
"Tunggu sebentar di sini, aku akan kembali dalam tiga menit."
Xin Chen menghilang begitu saja dari mata Wei Feng, seperti hantu yang berkeliaran tanpa bisa dilihat.
Seandainya Wei Feng tidak sadar dia sedang berada di wilayah orang mungkin sekarang juga dia ingin berteriak. Sudah sejak kemarin lagi, dia tak habis pikir dengan pemuda kecil bernama Xin Chen ini.
Wei Feng sendiri tak terlalu peduli darimana Xin Chen berasal, bahkan dia juga tak mengetahui bahwa anak itu adalah anak dari seorang pendekar yang namanya sudah terkenal di seluruh penjuru. Di Kekaisaran Wei dulu, dia tak pernah menemukan anak seperti Xin Chen.
Di umur yang sangat muda dia telah menunjukkan sifatnya sebagai petarung alami, tak memperhitungkan setiap gerakan dalam permainan pedangnya dan bertarung mengikuti insting saja.
Setelah tahu Xin Chen dapat mengendalikan perubahan energi dan juga memiliki seekor naga sebagai peliharaan kali ini Wei Feng kembali terkejut saat tahu Xin Chen juga memiliki kemampuan menghilang.
"Ah... Anak itu, dia sangat tidak masuk akal." Wei Feng mengembuskan napas kecil, meski tak pernah memuji Xin Chen secara terang-terangan namun dalam hati dia cukup terkesan dengan kemampuannya. Sempat terpikirkan juga Wei Feng seandainya dia memiliki jurus menghilang seperti itu, lumayan juga bisa menghindari orang-orang yang sering datang menagih hutangnya.
Tak begitu lama, ekspresi Wei Feng kembali berubah saat melihat Xin Chen kembali dengan sekarung emas.
"Kurasa otakmu bermasalah Iblis Kecil, sudah membalasnya dengan membuat Gu Long pingsan dan kau malah mengambil uang-uangnya..."
Xin Chen menahan senyumnya, mengeluarkan beberapa batu giok yang harganya cukup mahal. Dia juga berhasil mengambil beberapa harta berharga milik Gu Long sebelum meninggalkan aula. Wei Feng menelan ludah pasrah. Dia menambahkan. "Dan batu-batu berharganya juga."
Baru saja Wei Feng memijit kepalanya sakit, Xin Chen kini tertawa saat menunjukkan beberapa sumber daya seperti pil dan tanaman herbal yang ikut masuk ke dalam kantong sakunya.
"Dan sumber dayanya juga?!" Wajah Wei Feng memerah murka, sudah kehabisan akal melihat kelakuan Xin Chen ini. Menurutnya ini sudah terlalu usil mengerjai sebuah sekte kecil seperti mereka.
***
__ADS_1