Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 47 - Pola Pikir


__ADS_3

Sedang berada dalam situasi genting akhirnya Xin Chen terbangun, memegang kepalanya kesakitan kemudian memperhatikan sekitar. Masih belum memahami apa yang sedang terjadi kini dan mengapa terdapat banyak pendekar yang mengelilinginya.


Saat melihat Rubah Petir di hadapan sedang diinterogasi oleh mereka, akhirnya Xin Chen mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia menantang Rubah Petir untuk menunjukkan wujud aslinya yang luar biasa besar serta mengerikan dan berakhir dengan dia yang terluka. Dilihat dari gelagat yang mereka tunjukkan, para pendekar ini menaruh curiga besar terhadap Rubah Petir akan kejadian tadi.


Tidak mungkin mereka tidak merasakan energi siluman yang besar secara tiba-tiba dan dalam waktu bersamaan pula langit seakan hampir runtuh dibuatnya. Perbuatan seperti kemungkinan besar hanya bisa dilakukan oleh Siluman Penguasa Bumi saja.


Melihat Xin Chen telah sadarkan diri beberapa orang menopang tubuhnya, membantu anak itu untuk berdiri.


"Apa yang terjadi denganmu dan kau kenal siapa dia? Karena sudah kutanya tadi dan dia tidak menjawab apapun selain berdiri mematung di sana."


Salah seorang dari mereka berbisik kecil padanya, sambil sesekali menoleh ke sosok yang dia bicarakan. Takut suaranya didengar, padahal Rubah Petir sendiri dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan oleh pria itu.


Rubah Petir tak tahu harus berbuat apa lagi, semuanya kini bergantung pada Xin Chen. Jika dia gagal berbohong kemungkinan masalah besar akan datang. Berita tentang Rubah Petir keluar dari Hutan Kabut terdengar dan dia menjadi buruan berharga mahal.


Meskipun menaklukkan Siluman Penguasa Bumi sepertinya bukan hal yang mudah, tapi jika saja lima sekte besar bergabung untuk menangkapnya kemungkinan dia selamat juga sedikit. Dengan alasan itulah selama ini Rubah Petir menyembunyikan kekuatannya saat berada di luar Hutan Kabut. Jika berada dalam Hutan Kabut saja kepalanya sudah diburu apalagi saat dia keluar seperti ini.


Xin Chen menatap kedua tangannya, mengalirkan kekuatan di sana hingga muncul rantai-rantai petir. Membuat beberapa pria mundur dalam kebingungan, sedikit tak percaya dan tentu saja mempertanyakan apakah umur Xin Chen sesuai dengan ukuran badannya.


Untuk seukuran anak kecil, bisa menggunakan perubahan energi seperti itu sangatlah tidak mungkin. Dibutuhkan kekuatan yang cukup besar serta pengalaman bertarung yang lama agar bisa mengasah teknik perubahan energi tersebut.


Merasa Xin Chen adalah orang tua yang menggunakan ilmu agar selalu terlihat muda membuat mereka tidak memperlakukannya seperti anak kecil lagi.


"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi di tempat ini tadi? Tidak ada orang lain selain kalian berdua yang bisa menjelaskan. Aku merasakan ada sebuah kekuatan besar datang, kemungkinan akan menjadi malapetaka jika kau tak segera memberitahukannya pada kami."

__ADS_1


"Ah, itu. Tidak perlu khawatir. Aku hanya sedang latihan saja tadi." Xin Chen menjawab datar, jawaban yang membuat dahi pria itu seketika berlipat tiga. Sangat tidak masuk akal jika Xin Chen secara tak langsung mengatakan kekuatan besar tadi adalah miliknya.


Tak mau melepaskan Xin Chen begitu saja dia melemparkan pertanyaan lain. "Mohon maaf, terus terang saja aku tak mempercayai perkataanmu tadi. Level kekuatan setingkat dewa tadi membuat badai secara tiba-tiba di tempat ini dan juga air gelombang sempat naik walau sesaat. Kau tidak sedang bercanda, bukan?"


Lantas Xin Chen menampakkan wajah sebal, "Lalu kau menuduhku sebagai monster atau apalah itu?"


"Tidak, bukan kau. Tapi..." Dia menunjuk ke arah Rubah Petir takut-takut. Biar hanya sedikit dia dapat merasakan sesuatu yang aneh datang dari sosok tersebut.


"Memangnya kenapa dengannya?"


"Dia terlihat sangat aneh, maksudku kekuatannya sangat asing. Apa dia manusia sungguhan atau..."


"Kau mengatakan adik kecil dan menggemaskanku ini sebagai siluman? Benar-benar..." Xin Chen melipat kedua tangannya kesal. "Dasar tak berhati!"


Rubah Petir hampir saja batuk di balik jubahnya, hal inilah yang membuat Xin Chen masih terlihat gila di matanya. Setelah melihat wujud raksasa Rubah Petir tadi dia masih bisa menganggap Siluman Penguasa Bumi sepertinya menggemaskan.


"Bisa kau buktikan kalau dia bukan seperti yang kami pikirkan?"


"Kalau begitu lihatlah, setelah ini kalian jangan mencurigai Adikku lagi atau kalian yang akan aku gentayangi."


Sepersekian detik kemudian Xin Chen mengulurkan tangan, menyuruh mereka untuk menyentuhnya. "Silakan kalau mau membuktikan. Sampai sini bukannya kalian sudah melihat sendiri kekuatan petir itu memang milikku. Dan masalah badai serta gelombang, bisa saja itu kebetulan terjadi."


Mereka ragu-ragu menyentuh Xin Chen, sesaat kemudian mata salah satu dari mereka membelalak. Dia mundur beberapa saat karena merasa Xin Chen memang bukan manusia, mungkin kekuatan aneh itu bukan karena Siluman Penguasa Bumi, tapi berasal dari kekuatan hantu yang masih berkeliaran sepertinya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu, aku lupa harus mengurus sesuatu. Sa-sampai jumpa lagi~!" Suara pendekar itu menggema dari kejauhan dan menghilang cepat dalam hutan, enggan menatap Xin Chen yang tembus begitu saja saat berusaha disentuhnya.


Xin Chen menatap yang lainnya, "Tunggu apa kalian? Mau kugentayangi ya?"


"Ti-tidak!! Terimakasih, kami pergi dulu!"


Rombongan tersebut bubar seketika, meninggalkan Xin Chen dan Rubah Petir di sana. Rubah Petir mendekati anak itu, menarik napas sedalam-dalamnya.


"Lain kali jangan bertingkah gila seperti tadi, kau tidak akan tahu tubuhmu itu sanggup menahan kekuatanku atau tidak."


Sudut bibir Xin Chen terangkat, memperlihatkan senyum saat dia berbalik hadap pada Rubah Petir. "Justru karena aku tak tahu maka aku mencobanya, kalau aku mati juga aku akan mencari segala cara agar bisa kembali ke bumi."


Sang rubah masih tak percaya mengapa dia bisa bertemu Xin Chen hingga saat ini, pola pikir yang nekad ini selalu saja memberi kejutan kecil dalam perjalanan mereka. Mengingat hari di mana dia dan Xin Chen tak sengaja dipertemukan pada satu malam, mungkin memang anak itu bergerak mengikuti takdirnya sendiri.


Sembari melanjutkan perjalanan Rubah Petir sedikit memberi tahu bagaimana menggunakan kekuatan miliknya itu, di mulai dari Lengan Petir. Dasar awal agar Xin Chen mengerti bagaimana membentuk kekuatan tersebut menjadi senjata mematikan secara garis besarnya.


Mempraktekkan Lengan Petir dan berlari dalam kecepatan tinggi dalam waktu bersamaan tentu menguras tenaganya sangat cepat, deru napas Xin Chen mulai terdengar terputus-putus. Beberapa kali langkahnya tertinggal oleh Rubah Petir yang masih terus menjelaskan jurus-jurus petir andalannya.


"Guru-! Tunggu! Bisa berhenti sebentar?"


Rubah Petir berhenti berlari, menoleh ke belakang dalam kebingungan. "Ada apa?"


"Ada apa? Kau tidak melihat napasku hampir habis? Setidaknya kurangi kecepatan berlarimu, atau tidak kita berhenti saja dulu agar aku bisa fokus berlatih Lengan Petir ini."

__ADS_1


"Tidak bisa!" Xin Chen terkejut dengan suara besar tersebut, dia mengelus dada sabar. Memang sampai saat ini dirinya takkan mati hanya karena berjalan dalam waktu lama sekaligus menggunakan separuh kekuatan untuk mempelajari Lengan Petir. Tapi yang namanya rasa lelah juga masih ada, dia masih tetap seperti manusia biasa.


***


__ADS_2