Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 286 - Perpisahan yang Tertunda


__ADS_3

"Kami tak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa ..."


Wanita itu berlinangan air mata, meskipun di situasi yang begitu menekannya, dia terlihat tetap kuat. Mungkin hal itulah yang tetap membuat orang-orang YuangXe bertahan sekali pun tanah mereka diinjak-injak.


"Tapi seluruh tanah ini sudah terbakar. Ini memang terlambat."


"Ada begitu banyak pohon di tempat ini. Anda tak perlu mengkhawatirkan kami. Hanya butuh beberapa bulan untuk memulihkan YuangXe. Hanya saja, hari ini aku lebih lega."


Wanita itu merasa batu besar yang sedari dulu ditimpakan pada pundaknya dan suaminya telah menghilang. Menjaga Armor dewa perang dengan mengorbankan nyawa sendiri adalah tugas yang sulit, dia sempat ragu untuk memberikan pusaka itu kepada Xin Chen hingga orang-orang YuangXe mengecamnya.


Namun melihat yang terjadi sekarang, di saat mereka bahkan tak mampu mempertahankan diri sendiri, pemuda itu datang untuk menyelamatkan mereka. "Aku akan mengingat ini selamanya. Kebaikanmu ku harap akan seperti air terjun yang tak henti-hentinya mengalir. Beruntung hari ini aku bertemu dengan orang sepertimu."


"Tidak perlu segan begitu-" Xin Chen teringat akan sesuatu, dia agak ragu untuk mengutarakannya pada wanita ini.


"Kau hendak mengatakan apa?" kata wanita itu seolah-olah membaca pikirannya.


"Kalian punya persediaan makanan?"


Wanita itu agak tak yakin tetapi dia menjawabnya, "Kami punya."


"Kalian hanya punya sedikit. Aku tak bisa mengambilnya." Xin Chen menatap ke sekeliling, dia hanya melihat tumpukan mayat manusia yang tak ada habisnya. Jika dibiarkan berhari-hari akan membusuk dan mendatangkan penyakit bagi orang YuangXe.


"Tak apa, kalau hanya untuk Anda kami masih punya banyak sisa untuk menghidupi orang-orang kami."


"Ambil saja, hitung-hitung sebagai kata terima kasih." Laki-laki dewasa lain menanggapi ramah, hal itu membuat para orang YuangXe segera mengambil persediaan makan untuknya.


"Masalahnya makanan ini bukan untukku. Aku punya peliharaan rakus. Satu sapi pun tak akan membuatnya kenyang."

__ADS_1


Tepat setelah mengatakan itu kepakan tajam meluncur ke arahnya, tanah tempat naga itu berpijak bergetar hebat. Ye Long menggeram membuat orang-orang YuangXe mundur ketakutan.


"Makan!!!" teriaknya, "Perutku benar-benar bolong dua meter!"


Xin Chen melihat ke perutnya, hanya bekas tusuk biasa. Mungkin mereka sempat bertarung dan hanya Ye Long yang terluka. Pemuda di atas punggungnya sama sekali tak mengalami luka apa pun.


"Kami tak menemukannya. Satu pun tidak." Dia berkata lemas, merasa diriny tak berguna di hadapan Xin Chen.


"Tak apa. Baiklah, aku harus segera pergi. Aku tak tahu apa yang terjadi di Lembah Para Dewa setelah beredar kabar itu."


Pindahnya Armor Dewa Perang ke tangan Xin Chen secara langsung berdampak pada kedamaian di markas Empat Unit Pengintai. Apalagi unit satu yang berjaga di sana hanya setengah. Dia berharap Bai Huang melakukan tugasnya dengan baik, menjaga tempat itu sampai dirinya kembali.


Xin Chen mengirimkan surat lewat burung gagak yang kini terbang cepat, dia hanya perlu menunggu balasan Bai Huang terkait keadaan di Lembah Para Dewa.


Saat Xin Chen naik di atas Ye Long, pemuda itu berbicara terburu-buru, takut waktunya tak sempat jika terus berpikir ragu-ragu.


"Tuan, boleh aku ikut denganmu?"


Walaupun Xin Chen mengatakannya tanpa berpikir dua kali, bagi mereka kata-kata itu lebih dari sekedar ucapan. Menjaga YuangXe, tanah di mana tak ada hak mereka di dalamnya.


"Aku merasa kami yang paling tak berdaya. Tak mampu membalas kebaikanmu dengan harta ataupun pengorbanan." Wanita YuangXe menyesali dirinya bahkan tak memiliki makanan untuk diberikan pada Xin Chen. Jika dia memberikannya, orang-orangnya tak akan mampu bertahan hidup. Mereka butuh tenaga untuk memperbaiki YuangXe, sementara makanan yang tersedia hanya sedikit.


Wanita itu melepas kain yang diikat di tangannya, lalu mendekat pada Ye Long.


"Izinkan aku memberikan ini. Kalau tidak aku akan merasa bersalah seumur hidup."


Ye Long mengendus benda itu, "Bukan makanan rupanya. Rarrgh!"

__ADS_1


Amukan Ye Long tiba-tiba saja berhenti ketika ekornya diinjak Xin Chen. "Pikirkan makanmu nanti. Kau bahkan tak menyelesaikan satu pun tugas dariku "


Ye Long menurut, walaupun wajahnya seperti sedang mengumpat Xin Chen. Kain putih pemberian wanita YuangXe itu sebenarnya adalah jimat yang sudah turun temurun diberikan untuk menjauhinya dari marabahaya. Meskipun tak tahu apakah benda itu akan berguna atau tidak, setidaknya dirinya mampu memberikan sesuatu pada mereka.


Xin Chen menatap pemuda YuangXe yang kini hanya menundukkan kepalanya, tak mampu berucap lagi. Dia tahu pemuda YuangXe yang bahkan tak memiliki nama itu ketakutan setengah mati, dia telah berkhianat. Hanya hukuman mati yang pantas untuknya. Mengikuti Xin Chen adalah dalih agar dirinya masih bisa hidup demi mencari adiknya yang kini entah di mana.


"Nyonya," panggil Xin Chen. Orang-orang kebingungan dengan siapa yang dia maksud.


"Maksudku, pemimpin YuangXe."


"Ada yang bisa aku bantu untukmu?"


"Jangan bunuh dia. Seingatnya, ingat apa yang pernah dilakukan Hantu dari YuangXe demi kalian."


Wanita itu menunduk, mengepakkan tangan tak rela. Di sisi lain dia tak mungkin melupakan apa saja yang dilakukan Hantu dari YuangXe demi memperjuangkan tanah YuangXe. Demi menjaga rahasia Armor Dewa Perang tetap terjaga. Dia mengotori tangannya dan menjadi pembunuh berdarah dingin.


Jika pun wanita itu mengiyakannya, dia tak yakin orang-orang YuangXe lain setuju dengan keputusan itu. Membaca situasi rumit, Xin Chen kembali berucap


"Anggap saja ini permintaan ku."


Pemuda YuangXe itu mengangkat wajahnya, terlihat jelas dia seperti ingin menangis. Di YuangXe dialah yang paling lemah dan tak bisa diandalkan. Membunuhnya adalah hal yang mudah bagi yang lain.


"Tuan ..." Dia mendekat, bersimpuh. "Ini salahku, membuat keberadaan Armor Dewa Perang menyebar di seluruh Kekaisaran. Aku mengaku aku benar-benar salah, aku dibutakan oleh sesuatu yang kuanggap benar. Aku menyesal, tapi aku juga tak ingin mati demi mencari adikku. Aku sudah bersumpah untuk mencarinya, meski pun harus mati di tanah orang ..." Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya kini berjatuhan.


"Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk hidup."


"Kau pantas untuk memperjuangkan hidupmu. Datanglah membawa ksatria kalian ke tempatku suatu saat nanti. Aku akan menunggunya."

__ADS_1


Kalimat itu menjadi kalimat perpisahan, orang-orang YuangXe menengadah ke langit sampai tak menyadari koin emas dan beberapa makanan kering bertumpuk di depan mereka.


**


__ADS_2