Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 356 - Penyamaran yang Terbongkar


__ADS_3

Xin Chen melepas pegangan kakaknya begitu saja. Matanya tertuju pada bangunan di depan yang hanya berdiri beberapa meter dan sama sekali telah kosong tanpa ada satu pun penjagaan. Dia berjalan pelan menuju tempat itu tak menghiraukan peringatan yang dilemparkan Xin Zhan.


"Kembali ke sini, musuh akan datang sebentar lagi!"


Jalan Xin Chen semakin menjauh, dia tiba di depan pintu dan melihat seisi ruangan yang dipenuhi dengan perlengkapan serta senjata.


"Dengarkan aku, kita harus pergi-"


"Aku harus kembali ke markas pusat setelah ini. Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan mereka di sini."


Xin Zhan refleks menyingkir dari hadapannya, dia tidak tahu apakah tindakan Xin Chen berbahaya atau tidak. Namun andai keadaan tidak mendesak seperti ini, Xin Zhan juga ingin mengetahui di tempat apa sebenarnya Ren Yuan dibawa.


Ren Yuan mengejar keduanya, Xin Chen terburu-buru memasuki satu per satu ruangan. Dia terus memeriksa hingga tiba di lorong paling ujung. Tempat ini serupa labirin yang menyimpan teka-teki. Xin Chen kembali ke jalan sebelumnya dan masih mencari-cari ujung yang sebenarnya dari tempat tersebut. Karena melihat dari luar saja, Xin Chen sudah bisa memastikan tempat ini masuk ke dalam tebing tinggi. Terdapat jalur bawah tanah yang seharusnya dibangun untuk menyembunyikan sesuatu yang rahasia.


Dugaannya benar. Terdapat satu ruangan dengan pintu terbuka. Xin Chen segera masuk ke dalamnya dan memeriksa sekitar cepat.


"Kita terlambat."


Baik Ren Yuan maupun Xin Zhan sama-sama terkejut, mereka menemukan suatu tempat yang lebih terlihat seperti tempat pengurungan yang dijaga ketat. Beberapa alat dan juga besi berat mengungkung satu penjara yang terletak di tengah-tengah ruangan. Rantai dan juga perangkap beracun mengunci bagian tengah tersebut yang kini telah terbuka.


"Jangan katakan di sini tempatnya ...?" Xin Zhan hahya bisa menduga-duga, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Satu-satunya tempat yang sejak dulu ingin didatanginya. Dan banyak orang kehilangan nyawa demi mencari tahu lokasi tempat ini.


"Apa maksudnya ini?" Ren Yuan masuk ke dalam perangkap itu, Xin Zhan hendak menahannya tapi dia mengurungkannya karena perangkap di tempat itu sudah tidak berfungsi. Wanita cantik itu menoleh pada kedua anaknya, Xin Zhan memalingkan muka tak tega. Sementara Xin Chen langsung menjawabnya dengan jujur.


"Ini hanya kemungkinan saja. Ayah ditahan di sini. Dan mereka ingin menggunakan ibu agar ayah menyerahkan dua pusaka itu."


"Kenapa ... Kenapa kau menghentikan mereka, Chen?" Ren Yuan bersuara kecil. Andai anaknya membiarkan musuh membawanya pada Xin Fai, entah akan ada kesempatan bagi dirinya dan suaminya pergi dari tempat itu. Ren Yuan ingin sekali bertemu dengannya, sekali lagi.


"Aku tidak ingin ibu celaka oleh tangan-tangan kotor itu."

__ADS_1


"Hanya itu kesempatan untuk menyelamatkannya."


"Aku tidak mau mempertaruhkan nyawa ibu untuk itu. Lagipula dengan ini kita bisa memastikan ayah masih hidup." Di kata-kata terakhir bicaranya sedikit tertahan. Tangannya terkepal erat.


"Sampai ayah kembali, aku akan terus mengejar jejak mereka. Ibu, aku pernah bersumpah padamu untuk membawa ayah kembali bukan?"


Ren Yuan tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Aku pernah gagal sekali." Saat itu masih terlihat sedikit harapan di matanya, "Sekarang aku hanya ingin hidup demi sumpah itu."


*


Berpisah dengan Ren Yuan dan Xin Zhan di perbatasan memakan waktu yang sangat lama. Mereka berhasil keluar dari Kekaisaran Qing meski ada beberapa hambatan yang menghalangi. Sekali lagi, Xin Zhan mengalihkan topik.


"Kau memakai jurus dari Kitab Tujuh Kunci tadi, bagaimana bisa?"


"Aku hanya menghafal gerakannya. Bukannya dulu kita sama-sama dilatih ayah gerakan dasarnya?"


Dia mencebik, "Sepertinya tujuh tahun sendirian di Kota Renwu membuatmu semakin kuat."


Pertama kalinya Xin Zhan jujur dan itu juga dia ucapkan dengan setengah hati. "Sepertinya kau ingin sekali cepat-cepat pergi dari sini."


"Aku harus kembali. Hanya ada waktu empat hari sebelum orang markas menyadari kepergianku."


"Berhati-hatilah, Chen'er." Ren Yuan memeluk putranya dengan erat, senyuman terlihat di kedua sudut bibirnya. "Ke mana pun jalan yang kau tempuh, berjanjilah untuk kembali pada kami."


Pelukan Ren Yuan mengakhiri perbincangan mereka. Selepas berpisah dengan keduanya Xin Chen segera kembali ke tempat di mana Wei Feng dan lainnya berada. Xin Chen tidak yakin apakah waktunya masih cukup untuk sampai ke sana tepat waktu.


Tiba di markas pusat Xin Chen mulai panik saat melihat barisan panjang tengah berbaris di halaman depan asrama prajurit. Ye Long tidak berani turun sembarangan, bisa-bisa keberadaan mereka diketahui karena kepakan sayapnya akan menarik perhatian musuh.

__ADS_1


Ye Long berganti menatap tingkat kedua asrama di mana seseorang tengah melambaikan tangan panik ke arah mereka. Dia adalah Wei Feng, raut wajah pucatnya semakin menjadi ketika gedoran di pintu kamar semakin kasar.


"Cepatlah, Kecambah!"


Ye Long terbang cepat ke bawah, ketika nyaris menabrak dinding Ye Long langsung menghilang. Membuat majikannya nyaris terhempas menghantam pintu. Wei Feng dan Yu Xiong segera berdiri di depan pintu sambil merangkul Xin Chen.


Wei Feng membuka pintu dengan tergesa-gesa, dia segera berujar.


"Temanku ini benar-benar sedang sakit parah. Sepertinya dia salah makan, dari kemarin lusa tidak bisa turun dari kasurnya."


"Kami tidak butuh alasanmu!" Mereka menarik Xin Chen paksa dan membawanya ke hadapan semua orang di depan asrama. Lantas semua perhatian tertuju padanya.


Xin Chen tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitar, tapi tampaknya sangat gawat melihat wajah Wei Feng saat ini. Dia meminta maaf berkali-kali tanpa suara.


"Kami menerima sebuah laporan bahwa selama tiga hari berturut-turut kau tidak mengikuti tes dan uji lainnya. Tidak ada yang melihatmu dalam barisan. Kawan-kawanmu menyembunyikan keberadaanmu tanpa jawaban yang jelas. Sekarang, jelaskan padaku apa yang sebenarnya kau perbuat selama tiga hari ini. Jelas-jelas kau sangat mencurigakan."


Diamnya Xin Chen menjadi pertanda amukan laki-laki itu. Dia memiliki perawakan keras, tetapi cara bicaranya halus, sangat menyindir dan mengintimidasi.


Terdengar bisik-bisik di dalam barisan. Mereka terlihat takut oleh laki-laki yang kini berjalan mengelilinginya dengan mata menyelidiki.


"Dia gila berurusan dengan Jenderal-1. Sungguh berani, aku yakin nyawanya tidak akan selamat hari ini."


"Salah temannya itu, jika memang sakit parah seharusnya dia membiarkan prajurit yang bertugas memastikan."


"Aku rasa dugaan itu benar. Apakah dia benar-benar penyusup, lihatlah wajahnya."


Mereka menatap Xin Chen yang masih diinterogasi oleh Jenderal-1. Xin Chen baru menyadari sekarang dirinya berada dalam situasi gawat.


Tidak pernah diduganya sebuah serangan besar tiba-tiba datang, Xin Chen merasa bahaya yang begitu besar ketika Jenderal-1 mengeluarkan kekuatan. Dia lantas mundur dan membuka matanya agar bisa melihat jenis kekuatan apa yang hampir saja mengenainya.

__ADS_1


"Mata itu ... Kau bukan orang Kekaisaran ini."


__ADS_2