
Angin pantai berdesir pelan memasuki jendela-jendela rumah, aroma tanaman herbal di pekarangan rumah Ren Yuan tercium kuat setiap harinya. Meski pun wanita itu sudah jarang turun tangan menjaganya, anak tertuanya itu tak pernah putus mengambil alih pekerjaan ibunya. Banyak gadis menaruh rasa kagum besar pada pemuda itu, meskipun dia telah dipilih sebagai Pilar Pertama, dia tetap menyempatkan diri mengurusi ibu dan halaman rumahnya.
Saat Xin Zhan sedang sibuk memetik daun-daun layu di halaman, para gadis mengintipnya sambil berbisik-bisik. Xin Zhan tiba-tiba mengangkat wajah, merasakan sesuatu yang tak asing walau sepersekian detik. Ditatap balik oleh pemuda itu membuat para gadis tersipu, Xin Zhan kembali dengan pekerjaannya. Dia harus buru-buru untuk menghadiri rapat bersama pilar lain siang ini.
**
Tirai-tirai kamar yang dihiasi dengan kerang berbunyi kecil oleh angin sejuk yang masuk. Terdapat satu kamar berukuran besar di mana seseorang terbaring pucat. Nyaris tak ada darah yang mengalir di wajahnya, bibirnya kering. Tubuhnya semakin kurus. Sementara di sisi ranjang ramuan obat-obatan tergeletak rapi. Pasti Xin Zhan yang selalu mengobatinya. Tak peduli sesibuk apa pun dirinya. yang Ren Yuan tahu kini, dirinya hanya memiliki Xin Zhan seorang.
"Aku memang anak yang tak berguna." Ucapan itu lolos dari mulutnya begitu saja. Bagaimana bisa dirinya sibuk dengan perkara lain sementara ibu yang melahirkan kini jatuh sakit tanpa pernah dilihatnya. Air muka Ren Yuan yang dulunya begitu cerah kini meredup oleh penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Keegoisannya untuk memilih tak memberi tahu Ren Yuan akan keberadaannya berakibat buruk seperti ini. Ren Yuan akan lebih tenang jika pernah melihat mayat anaknya walau hanya sekali. Dibandingkan menerima kenyataan putranya telah tiada tanpa pernah mengunjungi makamnya. Lagi dan lagi, dirinya membuat Ren Yuan terluka.
Xin Chen duduk di kursi yang tersedia di sisi ranjang, tempat di mana Xin Zhan selalu duduk untuk membasuh wajah ibunya. Tempat di mana saudara kembarnya itu menahan tangis saat ibunya tertidur. Dia mencoba meraih tangan Ren Yuan yang begitu dingin, seperti mayat yang diletakkan di atas peti es. Xin Chen mencoba menghangatkannya, dia mengusap tangan dan memegang kembali tangan Ren Yuan.
Tampaknya Ren Yuan sedang tak sadarkan diri, mata Xin Chen beralih ke atas meja. Kalung kerang itu masih di sana, di mana terakhir kali dirinya meletakkan benda tersebut. Dia sempat mendengar Xin Zhan mengatakan itu adalah hadiah ulang tahun mereka yang dibuatkan oleh Ren Yuan.
Xin Chen melipat lengan bajunya, memakaikan benda itu di pergelangan tangan. Ada rasa bahagia yang telah lama dilupakannya ketika berada di dekat ibunya. Dia memegang tangan itu, lalu menyandarkan kepalanya di sisi kamar dengan tangan Ren Yuan di kepalanya. Ingatan tentang masa lalu ketika dia baru saja pulang dari mencari kumbang, sekujur tubuh terluka karena bermain di hutan lalu Ren Yuan mengobatinya. Xin Chen kecil tidur di pangkuan ibunya sampai malam tiba, lalu mereka akan makan malam bersama. Seolah-olah hari buruk tak akan pernah terjadi.
Kedamaian beberapa menit itu membuat Xin Chen nyaris tertidur, sudah lama dia tak tidur karena mimpi buruk. Detik itu Xin Chen tak ingin beranjak dari sana, dia ingin menunggu Ren Yuan bangun sekalipun orang-orang Fanlu akan datang dan mengetahui identitasnya.
Dia ingin mengatakan pada Ren Yuan, bahwa dirinya masih ada. Dan meminta ibunya itu untuk tidak melupakannya. Xin Chen tak ingin melihat Ren Yuan sakit hanya karena memikirkannya. Lama menunggu, Ren Yuan tak kunjung bangun. Xin Chen pergi ke dapur untuk memasak sesuatu yang hangat.
__ADS_1
Tak ada pelayan di rumah besar ini, hanya ada Ren Yuan dan Xin Zhan. Sama seperti rumah mereka dulu di Kota Renwu. Dulu, Ren Yuan dan Xin Xia sama-sama membersihkan rumah, menyiapkan makan malam dan mencuci pakaian. Lebih seperti rumah orang biasa tanpa pengawal ataupun penjaga. Sayangnya, Ren Yuan yang sekarang tak bisa seperti dulu. Dia tak dapat mengerjakan pekerjaan rumah lagi dan hanya terbaring lemah. Sekali-kali tamu berkunjung untuk mengobati Ren Yuan saat Xin Zhan tidak ada. Itu pun hanya orang-orang yang terpercaya.
Sup hangat mengepulkan asap tipis, Xin Chen membawa semangkuk sup itu ke kamar Ren Yuan. Tidak yakin apakah masakan itu layak di makan atau tidak, tapi di lidahnya tidak ada yang salah dengan sup itu.
Xin Chen kembali memasuki kamar, meletakkan sup di atas meja.
"Ibu, makan."
"Xin Zhan ...." Terdengar jawaban samar, Xin Chen diam. Namun tatapannya terlihat terluka. Ibunya bahkan tak mengingatnya dan justru memanggil nama Xin Zhan. Xin Chen memakluminya, selama bertahun-tahun dirinya tak ada di sini untuk Ren Yuan dan hanya kakaknya yang berjuang untuk menjaga Ren Yuan. Andai Xin Zhan melihatnya hari ini, mungkin kakaknya itu hanya akan menyumpah serapahnya dan menyuruhnya pergi dari rumah ini.
"Ibu akan baik-baik saja. Makanlah. Jangan sampai sakit."
Terlihat air mata mengalir di mata Ren Yuan yang tertutup. Bibirnya bergetar menahan tangis yang tak bisa dia tahan lagi.
Hening.
"Dia sudah pulang," ucap Xin Chen lembut.
Ren Yuan tersenyum. Lalu kembali tidur. Beberapa detik kemudian seseorang masuk ke dalam dengan pakaian yang kotor dengan tanah. Dia mencium aroma sup dan mengira ibunya memasak sendirian karena lapar. Tapi apa yang dilihatnya kini membuat Xin Zhan mendadak berhenti.
Dia melihat Xin Chen jelas-jelas sedang merawat ibu mereka. Dan semangkuk sup yang diletakkan di atas meja, dia sulit mempercayai apa yang sedang dilihatnya kini. Butuh waktu beberapa detik sampai Xin Zhan berbicara.
__ADS_1
"Kau ...." Xin Zhan tiba-tiba tak tahu apa yang hendak dikatakannya. Dia terlalu terkejut.
"Ada apa Zhan'er?" Ren Yuan berkata lemah, masih menutup matanya.
"Ibu ... Xin Chen ...,"
"Xin Chen sudah pulang, bukan?"
Meski bilang begitu Ren Yuan terlihat sedih, "Kau selalu mengatakannya setiap kali ibu sakit. Tenang saja, ibu akan sembuh. Kau tidak perlu khawatir."
Xin Zhan menggeleng walaupun Ren Yuan tak dapat melihatnya.
"Ibu, kali ini aku tidak berbohong."
Xin Zhan menatap adiknya itu, antara senang dan marah. Namun yang terpenting saat ini adalah ibunya, dia yakin Xin Chen lah yang bertamu ke rumah mereka sekarang. Wajahnya tetap bisa dikenali, namun adiknya itu tak membuka mata. Dia menaruh curiga terhadap sesuatu pada adiknya. Hanya ada satu dugaan mengapa Xin Chen menutup mata. Mungkin api di Kota Renwu telah merenggut penglihatannya.
Ren Yuan perlahan membuka matanya, susah payah demi memastikan apakah kali ini Xin Zhan berbohong atau tidak.
*
Iklan dulu
__ADS_1
ada sisa 2 chapter lagi, tp besok aja ya updatenya, pas banget malam Minggu. Kesian noh, jomblo2 kga ada yang nemenin. Paling mentok bicara sama tembok wkwk
Biar sekalian greget juga kalian nungguin wkwk