
Pemuda itu nyaris tak percaya, baginya ini adalah kesempatan untuk Xin Chen mengambil apa yang dia mau. Semua pendekar yang datang berburu ke YuangXe pasti hanya menginginkan Armor Dewa Perang, dan itu benar adanya. Pusaka tersebut disembunyikan di tanah mereka.
Tak menunggu waktu lebih lama Xin Chen mengikat pemuda itu di sebuah pohon lalu membuatnya pingsan. Dikejarnya Hantu dari YuangXe dengan cepat, melewati hutan besar yang seperti tak memiliki ujung. Meski jalur yang ditempuhnya cukup rumit Xin Chen dapat membaui darah manusia. Dia terus mengikuti arah pelarian Hantu dari YuangXe hingga akhirnya mereka bertemu di sungai. Hantu dari YuangXe yang berada di seberang sudah mengetahui kehadirannya.
Dia membalikkan badan sempoyongan. Darah laki-laki itu terus keluar saat air sungai setinggi dada itu membawa darahnya ke dalam arus air.
"Kenapa kau membunuh mereka?" Xin Chen masih berusaha untuk bicara baik-baik, tetapi justru balasan disertai emosi yang dia dapat.
"Manusia sepertimu itu menjijikkan. Mencampuri urusan orang lain seperti kau adalah penyelamat. Padahal ketika kami dibantai satu pun orang sepertimu tak muncul."
Dia berjalan terseok-seok lalu ambruk di atas bebatuan besar.
Hantu dari YuangXe mengeluarkan darah banyak yang sedari tadi ditampungnya dalam mulut. Tubuhnya hampir mati rasa namun pikirannya tetap menyuruh untuk berjalan.
"Kau ingin membunuh saudaramu. Apa maksudnya semua itu?" Tak mendengar jawaban dari laki-laki itu, Xin Chen mengangkat pedang ke samping. "Jika kau ingin mengakhiri nyawa mereka aku bisa dengan mudah melakukannya. Tanpa harus mengotori tanganmu."
"Lakukanlah." Sahutan yang dia dengar lebih terdengar seperti erangan putus asa. "Mereka tak berarti lagi bagiku. Mereka bukan saudaraku lagi."
"Jangan karena satu perbuatan buruk kau melupakan semua kebaikan mereka."
"Aku tidak peduli!" Hantu dari YuangXe menaikkan suaranya tinggi-tinggi. "Sudah jadi peraturan jika ada pengkhianat di antara kami maka orang itu akan dihukum mati! Dan orang itu ... Orang itu-!" Tenggorokannya sakit, darah terus memaksa keluar.
__ADS_1
"Anakku ... Aku tak menyangka dia yang melakukannya ..."
Berselang setelah itu Hantu dari YuangXe mengerang sembari meremas rambutnya frustrasi. Xin Chen sendiri tak menyangka bahwa Hantu dari YuangXe memiliki keluarga, atau memang informasi dari kakek di kedai teh itu hanya dugaan-dugaan semata. Dia tak bisa mengatakan apa pun selagi laki-laki itu mengamuk.
"Jika benda itu jatuh ke tangan orang lain maka tamat sudah riwayat kami! Kaisar akan mengambil kembali tanah ini demi menghindari perang, Yuhao akan membawa lari pusaka yang kami jaga. Aku tak bisa mempercayai wanita licik itu, sedetik pun tak akan pernah!"
"Lalu pimpinan kalian? Perlukah membunuhnya saat semua orang di sini kehilangan harapan?"
"Dia mengatakan ... Kami memang harus menyerahkan pusaka itu pada Yuhao. Dia tak percaya jika Yuhao lah yang membunuh anak perempuanku, hanya Yuhao yang bisa keluar dari YuangXe selama ini. Dan dia membunuh anak gadisku karena kekuatannya yang begitu besar. Dia takut akan lahir pengendali roh yang lebih kuat daripadanya."
Permasalahan runyam itu tak serta-merta adalah kesalahan anaknya. Jika seandainya Yuhao tak mengatakan bahwa anak perempuannya yang sudah tewas disandera oleh prajurit Kekaisaran Shang, maka anak laki-lakinya tak akan berbuat nekat hingga memberikan informasi Armor Dewa Perang pada pendekar luar. Nasi sudah jadi bubur. Hantu dari YuangXe telanjur kecewa dengan semua yang hal yang membuat ikatan persaudaraan di Tanah Kehormatan YuangXe pecah.
"Yuhao pernah mengatakan akan membunuh satu YuangXe setelah membunuhmu. Aku harus membunuhnya sebelum itu terjadi dan memastikan pimpinan kami tidak akan mencoba menghidupkannya dengan cara apa pun."
Menghabisi rakyat desa dari rumah ke rumah. Menandai setiap tempat yang membicarakan pusaka tersebut dan juga tanah YuangXe.. Setiap orang yang menyebutnya harus mati dan itulah kutukan yang diberikan padanya dari para nenek moyang. Dia dipercaya sebagai penjaga YuangXe selama bertahun-tahun.
Maka dari itu menjaga YuangXe dari orang semacam Yuhao adalah tugasnya. Wanita itu membenci semua orang yang dapat menggunakan kekuatan roh. Termasuk para saudaranya dari YuangXe. Dia tak ingin ikatan yang telah lama terjalin selama ratusan itu hancur gara-gara satu orang.
Laki-laki itu perlahan merosot, tubuhnya tumbang menghantam batu besar. Tubuhnya seperti mati rasa selama beberapa detik, tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu ajal.
"Sampaikan ..."
__ADS_1
"Sampaikan sendiri."
"Sampaikan pada putriku jika dia masih hidup ... Aku sangat menyayanginya."
"Jangan mati semudah itu. Apa namamu sebagai Hantu dari YuangXe hanya sekedar omong kosong belaka? Bangun dan sampaikan pesan itu sendiri."
Terdengar kekehan bercampur sedih, Hantu dari YuangXe menatap Xin Chen yang hanya samar-samar di pandangannya. "Barat Pohon Suci, di dalam makam tetua nomor dua belas."
Lalu tak lama kemudian laki-laki itu mengembuskan napas terakhirnya, Xin Chen terdiam. Menyadari bekas luka di tubuh laki-laki itu cukup parah. Bukan hanya tikaman darinya yang sudah menusuk ke jantung laki-laki itu, ada bermacam-macam tulisan di tubuhnya. Tampak seperti Hantu dari YuangXe terkena sebuah kutukan yang membuat tubuhnya mati dari dalam.
"Aku tidak bisa pegang janji itu."
Tangannya mengepal, Hantu dari YuangXe jelas memberi tahu lokasi tersembunyi yang seharusnya tak diketahui oleh orang lain. Jika benar dia tak ingin ada perpecahan di antara orang-orang YuangXe dan mengkhawatirkan nasib Armor Dewa Perang, memberikan pusaka langit tanpa alasan yang jelas membuatnya kebingungan.
Mata Ilusi telah hilang. Semua kembali pada kesadaran masing-masing, ratusan orang berkerumun saat melihat mayat sosok yang begitu penting di tanah mereka kehilangan nyawa. Anak laki-laki Hantu dari YuangXe menjadi satu-satunya orang yang dicurigai. Tepat setelah dia terbangun, tinju melayang menghantam tulang pipinya.
Berkali-kali dihajar sampai babak belur, akhirnya pemuda itu mengatakan apa yang terjadi. Termasuk pengkhianatannya pada orang-orang YuangXe. Kebenaran yang tak bisa diterima itu mengakibatkan huru-hara tak berkesudahan. Terlebih lagi setelah mereka mendengar sosok yang paling mereka hindari telah berhasil memasuki YuangXe dan tengah mengejar ayahnya.
"Dengarkan aku-! Kita tak bisa mempercayai omongan wanita tua itu!"
"Tutup mulutmu, pengkhianat! Masih bisa bicara lagi kau setelah menimbulkan kehancuran YuangXe?!"
__ADS_1
Pandangan berapi-api dipenuhi amarah di setiap pasang bola mata penduduk YuangXe seolah-olah menghakimi perbuatannya. Pemuda itu memang merasa bersalah, namun ada sesuatu yang harus diluruskannya.