Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 221 - Rencana Perang


__ADS_3

Saat ini mereka sudah berada di dalam rumah yang tidak terurus dan gelap, diterangi oleh lilin kecil yang hampir habis. Pria itu mengusap tangannya gelisah, bingung harus menjelaskan dari mana. Sementara Xin Chen dan Shui hanya duduk di depannya sambil melihat gerak-gerik orang tersebut.


Terdengar helaan napas panjang sebelum sosok di depan mereka mengeluarkan kata-kata.


"Aliansi Pedang Suci sudah lama dibubarkan."


Xin Chen dan Shui tidak memberi tanggapan, lalu pria itu melanjutkan. "Kami semua sudah berbeda arah. Yang muda di antara kami banyak memilih menikah dan menjadi petani biasa. Sisanya bekerja sampingan. Menjadi pendekar sekarang ini sulit, kami jarang menerima tawaran kerja. Hanya sesekali kami saling bertemu. Tapi ... Ada sekelompok penjahat yang ingin menghancurkan kami tanpa sebab, terakhir kali kami kecolongan. Senjata yang dulu kami pakai, kuda-kuda dan baju tempur dicuri tanpa sisa."


Seseorang tiba-tiba saja muncul dari lorong-lorong rumah, memakai pakaian besar yang menyapu lantai. Terlihat lebih sopan dari terakhir kali Xin Chen melihatnya, dan bedanya sekarang pria itu sudah tak memiliki rambut. Dia berubah menjadi biksu.


"Tunggu ... Kau?"


"Kau mengenalku?" Chang Wei yang tak memiliki rambut itu masih terlihat sama walau pun air mukanya jauh lebih tenang. Dia sudah mendapatkan jalannya sendiri. Melupakan jalan berdarah dan mengabdikan dirinya sendiri.


"Kita sempat bertemu. Walaupun saat itu aku masih bocah." Xin Chen membuka penutup kepalanya, detik itu membuat Chang Wei terkesima.


"Kau ... Tuan Muda Xin kedua, kau masih hidup? Ini benar-benar kau, atau roh yang bergentayangan?"


Di belakangnya Ho Xiuhan muncul sambil menguap, menggaruk-garuk belakang kepala dan perut. Baru dia mendapati Xin Chen dan seseorang misterius telah bertamu ke rumahnya, laki-laki itu melonjak kaget.


"Siapa orang ini? Hoi, jangan membawa orang sembarangan ke rumah!"


"Pelankan suaramu, Ho Xiuhan." Mendapat peringatan dari Chang Wei laki-laki itu menurunkan intonasi suara, "Memang siapa dia? Mengapa tiba-tiba ada tamu yang datang ke sini?" Jujur Ho Xiuhan tak mengerti, mereka juga tak punya kenalan seperti mereka , nama Aliansi Pedang Suci tak lagi bersama mereka. Paling-paling yang sering datang hanyalah penagih hutang.


Chang Wei berdeham kecil, "Tuan Muda Xin Kedua, dia masih hidup, Ho Xiuhan. Anak dari mantan ketua kita ini masih hidup," ujarnya, lalu sambil melebarkan senyuman dia menatap Xin Chen. "Apa gerangan Tuan Muda datang ke rumah bobrok kami? Suruh anak-anak lain menyiapkan minuman!"


Ho Xiuhan melirik Xin Chen tak percaya, karena kepalanya ditutupi diia tak bisa melihat jelas wajahnya. Laki-laki itu menawarkan, "Mau minum apa Tuan Muda? Teh, arak, atau susu sapi?"


Shui mengangkat tangan, "Tidak perlu repot-repot, air hujan juga boleh."


Chang Wei dan Ho Xiuhan tertawa sedangkan Xin Chen memalingkan wajah malu. "Eh kenapa? Kalian tidak suka ar hujan?" Shui betul-betul kebingungan, selama menjadi siluman rasanya meminum air hujan lebih baik daripada meminum air laut. Ho Xiuhan salah menangkap dan menganggapnya becandaan.

__ADS_1


"Khusus untukmu air jemuran. Sudahlah, lagipula kami hanya punya air putih, semoga Tuan-Tuan tida keberatan."


Chang Wei melirik Shui penasaran, "Aku tidak pernah bertemu denganmu. Namamu siapa?"


"Shui."


"Nama depan?"


Shui terdiam tidak paham, dia menyenggol lengan Xin Chen. "Maksudnya apa?" bisiknya kecil.


"Nama keluarga."


"Ho, tidak punya."


Chang Wei mengerutkan dahi.


"Bagaimana bisa? Kau dari keluarga mana?"


Chang Wei berdeham canggung, tersenyum melihat perangai Shui yang aneh.


"Jadi, apa yang membawa tuan kemari? Seharusnya berita tentang masih hidupnya anda harus dirayakan lebih dahulu. Kau tahu begitu banyak rakyat yang menunggumu saat pilar diganti dengan para pendekar busuk."


"Untuk hal satu itu, aku mohon senior jangan mengatakannya pada siapa pun. Termasuk pada ibu dan Kakak Zhan," pinta Xin Chen sedikit membungkukkan badan. "Tolong."


Chang Wei benar-benar tertegun, "Jangan merendahkan kepala anda di depan saya, Tuan. Saya tak pantas."


"Senior Chang berubah jauh semenjak trakhir kali kita bertemu."


Chang Wei tertawa singkat, "Aku hanya ingin berdamai dengan diriku sendiri. Jaman ini, banyak orang tertekan oleh pekerjaan. Sudah tak sama lagi seperti dulu."


"Apakah Aliansi Pedang Suci akan kembali diturunkan ke medan perang jika terjadi satu-dua hal yang mendesak?"

__ADS_1


Chang Wei terdiam, menatap lurus ke arah Xin Chen yang sejak awal hanya memejamkan mata. Dia tak mempermasalahkan hal itu, hanya saja perkataannya tadi trdengar tidak mungkin.


"Kami tidak memiliki hak lagi dalam pertarungan, bahkan untuk Kekaisaran ini. Aku sudah mengundurkan diri, pun dengan teman-teman aliansi lainnya. Tidak ada yang bisa kami lakukan, sembarangan kami hanya akan terkena sanksi daan denda."


"Denda?"


Chang Wei membenarkan jubahnya, diam-diam menarik napas kecewa. "Para bangsawan sibuk mengorek harta rakyatnya untuk dimasukkan dalam lumbung harta mereka. Mengambil tindakan sepihak kini sudah tidak bisa lagi, hukum mengikat kita. Kecuali mereka kelompok yang takkan bisa ditangani oleh bawahan mereka, tidak ada sanksi. Sederhana. Permainan politik ini hanya menguntungkan pihak tertentu."


Chang Wei berdiri saat sekiranya Ho Xiuhan akan kembali menemani merekea, "Saya harus kembali ke kuil. Semoga Tuan Muda dan Tuan Shui diberikan kesehatan."


"Aku berpikir untuk menggulingkan Pilar Kekaisaran yang sekarang."


Mendengar ucapan Xin Chen, Chang Wei mendadak memberhentikan langkah dan kembali ke tempat semula, bola mata laki-laki itu penuh harap saat berkata, "Benarkah itu, Tuan?"


"Tapi untuk mewujudkannya aku membutuhkan banyak hal, termasuk orang-orang yang berdiri di belakangku."


Ho Xiuhan membawakan air dan menyerahkannya di depan mereka, tertarik dengan pembahasan itu. Dia duduk sambil memajukan muka. "Sudah sepantasnya orang-orang itu disepak, mereka hanya penjilat Kaisar. Tidak ada gunanya mempelihara parasit."


"Lalu apa rencana Tuan?"


"Mudah. Mengumpulkan 500 prajurit. Bagaimana? Mau bergabung?"


Ho Xiuhan dan Chang Wei saling bertukar pandang dengan raut wajah tak yakin, "Yang benar saja!" mereka berseru kompak.


"Itu tidak mungkin, kau hendak berperang?" kali ini Shui yang menimbrungi obrolan mereka, dia dapat melihat Xin Chen bersungguh-sungguh akan hal ini. Di satu titik, Shui tak mengerti dengan rencana apa yang dibuat pemuda itu.


"Aku sedang mempertaruhkan tempat Lembah Para Dewa dan nama Empat Unit Pengintai."


"Ba-bagaimana bisa?" Chang Wei menahan napas, dia sering mendengar dari biksu senior jika saat ini memang sedang trjadi perang di selatan. Tepatnya di Lembah Para Dewa di mana Empat Unit Pengintai sedang melakukan operasi perluasan wilayah,


"Apa kah tuan yang dikabarkan telah menghancurkan 250 pendekar kelas atas Empat Unit Pengintai sendirian?"

__ADS_1


Seseorang dari luar menyahut dengan takut-takut.


__ADS_2