
Tengah sibuk berpikir Rubah Petir menarik tubuh Xin Chen ke atas bangunan, menyuruhnya melihat ke bawah di mana sekumpulan manusia berpakaian serba tertutup sedang bekerja di sana. Mengumpulkan jasad beberapa penduduk yang masih segar dan mengambil organ-organ vitalnya.
"Apa yang mereka lakukan?" Xin Chen mencuri pandangan ke bawah agar bisa melihat lebih jelas.
"Kurasa ini hal yang lebih keji dari yang kau lakukan tadi..."
Xin Chen menelan ludahnya, agak mual saat melihat ke bawah. Bagaimana tidak, usus dan jantung berhamburan di sana. Entah untuk percobaan apa mereka melakukan hal semengerikan ini.
"Mereka membiarkan wanita itu berjaga di luar sendirian, mungkin berpikir dia bisa mengatasi orang-orang yang ingin masuk. Tampaknya yang kau hadapi tadi bukan pemimpin mereka." Rubah Petir menalar cepat.
Di antara beberapa orang tersebut tampaknya mereka membawa pendekar dari Kekaisaran Wei juga. Terlihat dari senjata yang mereka bawa. Sekitar dua sampai tiga puluhan pendekar ini berjaga di titik-titik berbeda. Saling berpencar dan mengawasi sekitar.
"Paman Lan bilang, mereka yang menyerang di balik bayangan adalah seorang pengecut."
"Di balik bayangan?"
"Orang yang membunuh lawannya secara diam-diam, itu bukan jalan sejati seorang petarung." Xin Chen melanjutkan. "Kupikir aku lebih memilih jalan menjadi pengecut daripada membiarkan mereka membunuh seenaknya."
Xin Chen turun diam-diam, menargetkan satu pendekar yang berjaga paling jauh dari teman-temannya. Dengan kekuatan Topeng Hantu Darah yang masih berfungsi meskipun roh penghuni telah menghilang, dia berhasil menancapkan mata pedang di jantung pria itu dan membekapnya agar tak mengeluarkan suara.
Rubah Petir semakin tak habis pikir dengan Iblis licik ini, bagaimana dia bisa sangat berani membunuh sendirian di kumpulan musuh seperti itu saja sudah sulit dipikirkan.
"Dia lebih gila daripada Ayahnya..." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Rubah Petir. Dia tak berniat membantu seperti biasa, Xin Chen harus bisa menangani ini semua dengan tangannya sendiri agar bisa berkembang. Karena dibanding itu semua, ke depan dia masih harus membereskan banyak hal yang lebih besar.
Satu per satu pendekar Kekaisaran Wei tumbang tanpa sebab, kini tersisa mereka yang berjaga di tengah tempat di mana organ-organ tubuh sedang dipindahkan. Xin Chen mengeluarkan bom asap dan masuk ke tengah-tengah formasi pendekar tersebut, membuat mereka mulai merasa terancam.
Beberapa pendekar masih dapat mengendus keberadaan Xin Chen di mana, tiga orang bergerak mendekat seraya menebaskan pedang.
__ADS_1
Sayatan melintang membelah tubuh orang pertama dari balik asap tebal dan berlanjut ke orang kedua dan ketiga, mereka meninggal dengan cepat tanpa bisa melihat jelas siapa dan kapan musuh menggerakkan pedangnya.
Ketika sisa pendekar menunggu bom asap menghilang agar bisa melihat siapa yang berada di dalamnya, mereka dibuat heran karena tak dapat melihat siapapun. Tidak ada sama sekali. Sedangkan tak ada tempat untuk bersembunyi di dekat sana, kecuali memang jika yang sedang mengacaukan pekerjaan mereka tadi adalah hantu.
Kabut tebal juga menjadi alasan mengapa mereka tak bisa melihat dengan jelas, selain itu berkat Topeng Hantu Darah hawa keberadaan Xin Chen menurun drastis. Dengan mudah saja dua lelaki dewasa mati di tangannya tanpa suara, tanpa jejak, semua mati mengenaskan dengan cara diam-diam.
Xin Chen kembali masuk ke mode hantu, mendekati lawannya diam-diam dan muncul di tempat tak diduga. Namun sebuah tangan mencegalnya dan membanting tubuh Xin Chen ke dinding. Membuat perhatian mereka teralihkan ke arahnya.
"Oh... Ho! Ada satu tikus kecil yang nakal!" Pria bergaya nyentrik menyahut kemudian, pakaiannya yang aneh serta kumis tebal panjang membuat kesan terhadapnya tidak terlalu kuat, tapi di balik itu kekuatan pendekar tersebut sudah memasuki tingkat pendekar agung tahap 2.
Mengerikan. Hanya itu satu kata yang pantas, Xin Chen dapat merasakan beberapa tulang rusuknya patah akibat serangan mendadak tadi. Belum sempat menarik napas musuhnya telah lebih dulu mengambil langkah, pria itu menyerang menggunakan sikut dan menghujam tepat di tulang leher Xin Chen.
Xin Chen memundurkan dirinya sejenak, langkahnya mulai terlihat tak seimbang. Kini musuh-musuh lain pun dapat melihatnya berdiri di tengah mereka. Senjata mulai diangkat bersiap membunuhnya dalam satu serangan.
"Memasuki kawasan kami hingga senekat ini, kau pikir kau sangat hebat, bocah?"
"Bagus... Bagus, nyalimu besar juga rupanya." Pria itu hanya bisa bertepuk tangan dengan memasang wajah mengejek. Tak bisa membalikkan kata-kata Xin Chen karena apa yang dia katakan adalah benar.
"Untuk menghadapi ********-******** licik seperti kalian apa aku harus takuti? Justru aku lebih takut tidak mau mempertahankan apa yang kuanggap benar dan malah bersembunyi ketakutan di rumahku."
Tanpa berniat mendengar celotehan musuhnya, tubuh Xin Chen menghilang bersama kabut. Menggentayangi mereka yang berada di sana dalam perasaan was-was.
"Perhatikan sekitar kalian, dia akan menyerang dalam waktu dekat." Pria tersebut mengelilingi sekitarnya curiga, tapi dugaannya itu tak kunjung terbukti. Xin Chen seperti menghilang begitu saja dan pergi dari tempat mereka berdiri.
Lima menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda apapun pria itu berceloteh sinis, "Jangan-jangan dia sudah melarikan diri karena terlalu takut? Aish, harusnya aku tidak terlalu memedulikan tikus kecil seperti itu."
"Tapi Ketua, dia pasti berhadapan dengan si Dewi Alkemis. Apa aku perlu mengecek keadaannya di sana?"
__ADS_1
Ketua mereka mencebik kecil, "Kau berpikir anak itu berhasil mengalahkan Dewi Alkemis? Itu artinya kau juga mengatakan dirimu kalah dari anak kecil itu." Jawaban sarkas tersebut membuat anak buahnya menjadi segan, "Bu-bukan begitu Ketua.... Hanya saja–"
"Hanya saja apa?"
"Di belakangmu ada seseorang."
Pria itu melebarkan matanya saat mendengar malah orang lain yang menjawab, dia segera berbalik badan secepat mungkin. Tak sadar Xin Chen sedang menipunya, justru anak itu muncul tepat di depannya.
"Mengorek isi perut korbanmu dan menjualnya demi keuntungan sendiri, kupikir kalian juga harus merasakan apa yang sedang dirasakan oleh mereka."
Baru saja kembali mengarahkan pandangannya ke depan pria itu mendapati sebuah pedang telah menancap di perutnya, Xin Chen berubah dari mode hantu membuat wujud nyata dari pedang di tangannya menembus ke tubuh lawan.
Tak berniat memberi belas kasih pedang yang kini telah menancap di tariknya ke atas. Membelah tubuh lawannya seketika itu juga.
"Kau-"
"Jangan-jangan dia anaknya si Pedang Iblis itu-!?"
"Y-ya... Xin Zhan, sepertinya itu dia..."
Xin Chen mendengus kesal, bagaimana malah nama Xin Zhan yang mereka sebutkan. Memang wajah mereka memiliki banyak kemiripan. Tapi tetap saja mereka orang yang sama sekali berbeda.
"Namaku Xin Chen, ingatlah namaku sebelum kalian menjadi hantu di tempat ini."
***
maap ya agak telat, faktor sibuk malmingan nih
__ADS_1
iya malmingan sama tugas😂