Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 219 - Bayang-Bayang Malam


__ADS_3

Xin Zhan menatap tajam ke seseorang yang menggunakan caping penutup kepala sehingga tidak terlihat keseluruhan wajahnya. Dia memakai jubah hitam dan hanya tampak seperti pengelana biasa, tetapi Xin Zhan yakin betul sosok itu sangat berbahaya. Instingnya tidak mungkin salah, Xin Zhan berucap dingin.


"Kau adalah utusan dari Kekaisaran Qing yang hendak membunuh Paman Lan, bukan? Jika benar demikian langkahi dulu mayatku."


Xin Chen hampir saja tertawa terbahak-bahak jika tidak melihat situasi, kata-kata Xin Zhan terdengar seperti pahlawan kesiangan yang hendak menyelamatkan orang-orang.


"Kalau ada yang ingin kau selamatkan, maka itu adalah kekaisaran ini."


Xin Zhan tak mengerti mengapa dia merasa tak asing dengan sosok ini, namun mendengar kata-kata tersebut seolah-olah menjadi peringatan baginya. "Kau hendak menghancurkan kami?"


"Kalian sudah lebih dulu hancur, tidak ada pilar lagi di istana ini. Hanya tersisa satu pilar yang hendak roboh."


Xin Zhan mengerti kata-kata itu ditujukan pada Lan An. Tidak ada yang bisa melakukan apa pun, menggeser Pilar Kekaisaran saat ini hanya sebuah tindakan bodoh. Sementara turunan bangsawan itu memiliki banyak sekali pendukung di belakang mereka, menurunkan mereka dari jabatan hanya akan mendatangkan masalah besar bagi keluarga Xin. Mereka bisa saja menyerang balik dan menghancurkan kedudukan klannya, dengan taktik busuk mereka. Suara mereka didengar oleh Kaisar. Tidak ada jalan untuk menghancurkan mereka, Xin Zhan tak akan sanggup jika apa yang dilakukannya nanti hanya akan membuat Ren Yuan sedih.


Keheningan di antara mereka tak berlangsung begitu lama, alis Xin Zhan saling tertemu, dia tidak bisa mempercayai siapa pun yang masuk tanpa izin ke Kota Fanlu. Selagi Lan An tak ada dialah yang menjaga kendali penuh atas keamanan ibu kota.


Xin Zhan terdengar mendengus, dikritik seperti itu oleh orang asing membuat Xin Zhan benar-benar terusik.


Belum sempat mengeluarkan suara dan baru saja tadi melihat orang itu masih duduk di tempat yang sama kini tidak ada siapa pun di tempat tersebut. Xin Zhan yakin dia tak salah lihat dan pendengarannya begitu tajam jika sosok tersebut bergerak pergi.


Kemustahilan itu membuat Xin Zhan sempat berpikir yang dilihatnya tadi adalah sesosok roh yang telah tiada. Xin Zhan mencoba mencari lagi ke segaa tempat dan memang tak menemukan siapa-siapa selain penduduk sekitar.

__ADS_1


Pagi hari datang dan benar seperti dugaan, mendung mengisi langit yang tampak abu-abu di Kota Fanlu. Ramainya ibu kota tersebut kembali dilingkupi oleh kesedihan mendalam yang datang dari keluarga kecil Lan An. Angin badai datang dari pelabuhan, membuat perahu-perahu yang ditambatkan bergerak mengikuti alur angin, hanya ada satu-dua perahu yang berlayar mencari ikan di cuaca hujan seperti ini.


Karena adanya badai mengerikan yang menanti para nelayan di lat lepas sana, seorang nelayan yang hendak berlayar sedang menyiapkan kail dan beberapa perlengkapan lainnya. Melihat seorang pengelanan sedang berdiri cukup lama di ujung jembatan, laki-laki berkulit sawo matang itu mendekat.


"Tuan, apa yang anda tunggu di sini? Apa hendak mencari kapal penumpang?" tanyanya sopan, Xin Chen teralihkan ke arahnya. "Ah, tidak. Aku hanya sedang melihat-lihat laut saja."


"Oh, begitu." Laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke arah Xin Chen menatap. Lurus ke depan perairan kota Fanlu terdapat sebuah kota tak berpenghuni yang seharusnya saat ini sudah hancur dilalap api biru. Dia berbicara hati-hati. "Sudah lama ini, badai hitam dari Kota Renwu sudah tak pernah muncul lagi."


"Badai hitam?" ulang Xin Chen penasaran, laki-laki itu mengembus napas perlahan. "Itu adalah sebutan untuk badai besar misterius yang telah banyak memakan korban. Terakhir kali korban dari badai itu adalah lima puluh prajurit yang pergi bersama Tuan Muda Xin pertama."


Xin Chen baru mengetahui perkara itu sebenarnya, memang dia sering melihat badai besar dari kejauhan kota renwu dan badai itu kerap kali muncul di tengah-tengah laut.


"Kami pikir sesuatu yang ada di Kota Renwu lah yang membuat itu semua terjadi." ucapnya, memikirkan untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia sedikt membungkuk sebelum pergi dari hadapan Xin Chen yang saat itu terdiam menatap laut bergelombang.


Badai hitam, para penduduk Kota Fanlu menyebutnya demikian. Xin Chen pikir itu hanyalah badai biasa. Di laut lepas memang sering terjadi gelombang tinggi sehingga tak heran banyak kapal hancur sebelum sampai ke daratan.


Ada yang aneh, Xin Chen menatap laut di depannya dengan bertanya-tanya hingga tepat di sebelahnya terdengar seseorang dengan penampakan sangat aneh berbicara dengan nada akrab.


"Lama tak bertemu, jagoan!"


Xin Chen terkesiap saat merasakan kekuatan tak biasa darinya, dia mundur ke samping jembatan dan mendapati seorang perempuan-bukan, laki-laki dengan rambut berwarna aneh dan mata yang seperti mata kucing tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Kerutan dalam di kening Xin Chen membuatnya tertawa. "Hahahha kau tambah besar saja, ku kira kau takkan pernah keluar dari sana selamanya." Tawa orang tersebut semakin menjadi saja, dia hanya mengenakan baju pendek sebatas lengan dan celana biasa. Matanya tampak berbinar ceria dan begitu berbeda dari manusia pada umumnya. Rambut biru muda, di penghujung bumi mana pun Xin Chen takkan bertemu dengan manusia seperti itu. Sementara di antara giginya terdapat dua gigi yang lebih tajam. Xin Chen sempat berpikir orang itu berasal dari kutub selatan di mana Naga Es pernah ditemukan.


Adu tatap terjadii hingga akhirnya sosok trsebut menjulurkan tangan, hendak berkenalan. Xin Chen hanya menatap tangan itu tanpa berniat menyambutnya. Mendapatkan respon seperti itu sosok berambut biru itu mengernyit heran, "Hei, apakah ada yang salah? Kalian berkenalan dengan cara seperti ini, 'kan? Atau karena perubahan jaman sekarang sudah berubah?" tanyanya sambil memperhatikan telapak tangan sendiri. Membolak-balikkan tangannya seperti orang kebingungan, takut ada kotoran atau sesuatu yang menempel di sana.


"Atau mungkin aku salah orang?" tanyanya kembali. Semua itu membuat dia kebingungan, sedangkan Xin Chen sama sekali belum berbicara dan hanya membuat dia semakin heran.


"Namamu Xin Chen, 'kan? Terakhir kali aku melihatmu pergi melewati tempat ini dan meninggalkan Kota Renwu. Aku hendak mengikutimu tapi sayangnya aku kehilangan jejamkmu."


"Sebenarnya siapa kau?"


Sosok tersebut menjentikkan jari, baru sadar dia belum sempat memperkenalkan diri.


"Namaku ...."


***


Kimi no namae wa udin!


Penggambaran tokoh si rambut biru itu kurang lebihnya kayak lord Rimuru Tempest. Karena apa? Karena dia wibu-


Eh canda bang๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿคฃ

__ADS_1


Hayo ... udah ada yang bisa nebak dia siapa?


__ADS_2