
Sedang sibuk menghitung-hitung uang dia dikejutkan oleh teriakan Wei Feng, "Aaaa! Iblis Kecil, bantu aku!" suara Wei Feng membuat serangga-serangga pun ikut kabur ketakutan.
Xin Chen memasang wajah seperti ingin mengeluh, "Tadi Kecambah sekarang menjadi Iblis Kecil. Aku heran, sebenarnya apa ada yang salah dengan otak orang dari Kekaisaran Wei?"
Puas mengoceh dan tidak ada yang mendengarkan, Xin Chen mendekati Wei Feng. Penasaran dengan apa yang mengganggunya sampai sehisteris tadi.
"Ada apa?" Setelah memperpendek jarak akhirnya Wei Feng menoleh pada Xin Chen, tangannya bersiap-siap melepaskan anak panah jika sewaktu-waktu muncul siluman dari depannya.
"Ada sesuatu di balik pohon itu! Kau lihat, dia sangat mengerikan!"
Penasaran dengan sosok yang dimaksud Wei Feng akhirnya Xin Chen memutuskan untuk mendekat, membuka semak-semak di dekat pohon tersebut dan sedikit terkejut setelahnya.
"Hei... Apa-apaan ini? Kukang?"
Panah Wei Feng turun perlahan sambil menyusul Xin Chen, mendapati seekor anak Kukang dengan binar mata lebar di dalam semak-semak tersebut.
"Lucu sekali... Aih, andai bisa kubawa pulang ke rumah!" seru Wei Feng, cahaya pada bola mata Kukang itu bersinar terang saat dia memperhatikannya selain itu Kukang tersebut bergerak sangat lamban. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan membahayakan nyawa mereka.
Sementara itu langit sore mulai ditutup oleh awan malam, dalam waktu sebentar saja sekitar mereka mulai menggelap. Wei Feng masih terpana oleh anak Kukang itu, berniat membawanya pulang ke rumah dia menyingkirkan dedaunan liar dan hendak menggendongnya pulang.
"Tahan!" Xin Chen menahan dadanya, tepat sebelum tangan Wei Feng menyentuh kukang kecil itu induknya datang dengan kecepatan tak diduga, melintas tepat di depan muka Wei Feng hingga membuat pipinya tergores oleh cakaran tajam.
Wei Feng lantas sadar dan segera melihat ke sekelilingnya, mata-mata bercahaya merah mengintai mereka dari balik hutan-hutan gelap. "Sial... Aku pernah dengar kalau malam hari, hutan seperti ini sama saja seperti kuburan. Apa menurutmu kita lanjutkan besok saja?"
"Memangnya kau pikir kita bisa meninggalkan hutan ini sebelum mengalahkan mereka semua?"
Seekor kukang yang ukurannya lumayan besar menerjang, membuat beberapa dahan pohon patah menimpa Wei Feng dan Xin Chen. Beruntung mereka menyadarinya dan segera berpindah dengan cepat.
__ADS_1
Sementara itu Wei Feng merasa pertarungan ini takkan berimbang, sebab dalam situasi serba gelap dan minim pencahayaan ini kemampuan membidiknya akan menurun drastis.
"Kukang aneh ini... Bagaimana mereka bisa berlari secepat itu? Dan... Arrghh lepaskan kakiku!" Seketika pria itu terkaget-kaget saat melihat anak Kukang tadi malah mengunyah kakinya, seperti seekor tikus hama.
"Sudah tidak imut lagi! Lepaskan aku Kukang jelek!"
"Hahahaha rasakan itu! Kau lihat, penampilan memang sering membohongimu."
Satu demi satu Kukang keluar, deru napas kasar mereka terdengar berat. Beberapa merupakan Kukang jantan menampakkan diri dengan ukuran tubuh besar, bulu-bulu runcing sekaligus taring gigi yang tajam. Tergores sedikit saja kulit akan langsung koyak oleh bulu tersebut.
"Aku yakin Kukang ini bermutasi, ah, di Kekaisaran Wei juga kejadian seperti ini sudah sering sekali kulihat. Banyak sekali ilmuwan gila yang lahir di san–" Wei Feng membulatkan matanya saat sebuah cakar melintas tepat di atas kepalanya, menghujam tajam ke bawah tak sempat dielakkannya.
"Pedang Petir!"
Sekelebat cahaya petir melintas, menangkis serangan Kukang jantan tersebut.
Meski tak membunuh secara langsung setidaknya Pedang Petir cukup untuk sekedar membuat Kukang itu tumbang, Wei Feng mendongak pada Xin Chen masih dalam keterkejutan.
Wei Feng mengangguk secara sadar tak sadar, dia mengedarkan pandangan menangkap suatu hal lainnya. "Iblis Kecil, lihat, Kukang itu melambat saat terkena cahaya!"
"Ya... Baguslah, kita bisa menyelesaikan mereka secepat mungkin sebelum yang lainnya datang." Xin Chen mengarahkan pedang petir miliknya pada anak Kukang di dekat Wei Feng, memang terlihat lucu apalagi dengan binar mata besar seperti itu.
"Kak Wei, sepertinya dia menyukaimu. Bagaimana jika kau membawanya pulang saja?"
"Tidak mau!"
***
__ADS_1
Esok paginya Wei Feng dan Xin Chen masih sibuk memindahkan tubuh-tubuh Kukang yang berhasil dibunuh. Meskipun sangat disayangkan membunuh sebanyak ini tapi jika dibiarkan lama-kelamaan akan menambah masalah bagi penduduk desa.
Kehidupan antara manusia dan siluman memang sudah tidak bisa dipisahkan lagi, hal ini sudah berlangsung sangat lama. Beberapa dari mereka bahkan bisa diajak untuk bertarung bersama-sama, akan tetapi sisanya masih sangat sulit dikendalikan.
Kelompok siluman yang kerap kali merugikan manusia ini bertindak berdasarkan naluri membunuh. Mereka sejatinya adalah pemangsa berdarah dingin, sebab itu tak jarang terdengar kabar kematian karena penyerangan siluman seperti ini.
"Aroma darah membusuk ini... Pasti darah yang sudah mengeras selama bertahun-tahun." Wei Feng menyingkirkan bebatuan yang menghalangi jalannya. Sembari melihat-lihat ke sekitar. Takut tiba-tiba serangan datang menyerang.
"Ya, mungkin aku pernah membaca sejarah tentang desa ini. Para Pejuang bertarung mati-matian untuk mempertahankan rumah mereka dari serangan Manusia Darah Iblis, sayangnya mereka tak bisa bertahan lama, makanan mereka telah dirampas dan wabah penyakit ditularkan. Untuk mendapatkan akses ke luar desa saja sudah sangat tidak mungkin."
"Benar, kau bisa merasakan kesedihan di tempat ini, bukan? Roh-roh di desa ini sepertinya sedang menunggu untuk sebuah pembalasan."
"Pembalasan apa maksudmu? Bukannya pembunuh mereka sudah meninggal?"
Sejenak hanya desahan Wei Feng terdengar, dibandingkan Xin Chen agaknya dia lebih tahu tentang masalah seperti ini. "Kau tahu, saat kau telah menjadi roh hanya kemungkinan kecil kau bisa mengingat siapa jati dirimu. Beberapa dari mereka tak mengerti apa penyesalan yang masih mereka sesalkan hingga tak bisa pindah ke alamnya karena hal tersebut."
"Lalu mereka berubah menjadi roh jahat dan membunuh siapapun?"
"Kurang lebihnya seperti itu, jika kau masuk ke Kekaisaran Wei, kau akan menemukan Pengendali Roh terhebat sepanjang sejarah. Dia... Ah, jika dihadapkan dengannya mungkin aku akan memilih bunuh diri saja."
Xin Chen tidak dapat membayangkan sosok Pengendali Roh tersebut. Dari gambaran yang telah Wei Feng katakan tentang roh saja dia yakin mahkluk itu termasuk berbahaya. Bisa menjadi ancaman besar jika dibiarkan begitu saja. Kaki Xin Chen tertahan oleh sebuah batu, dia menundukkan kepala melihat sebuah makam tua.
"Iblis Kecil, angkat kakimu bodoh!"
"I-iya."
Keduanya berlutut, memerhatikan makam tersebut dalam diam. Wei Feng menyentuh tanah di sekitarnya. "Mungkin... Saat desa ini diserang hanya satu-satunya orang ini yang dikuburkan."
__ADS_1
Makam tanpa nama itu adalah makam seorang kakek tua, orang terakhir yang masih bisa bertahan akibat penyiksaan Manusia Darah Iblis. Hari itu, Xin Fai memenggal kepalanya dan menguburkannya secara terhormat. Kematian yang lebih baik daripada harus mati di tangan pendekar aliran hitam itu sendiri.
***