
Jalanan yang agak sepi membuat Xin Chen dapat terlihat dengan jelas oleh sang siluman, dia menautkan kedua alisnya melihat siluman itu seperti sedang mengincarnya. Tak berapa lama juga sang pemilik mulai menyadari ada yang salah dan melirikkan arah mata ke arah perliharaannya.
“Tunggu, kenapa siluman mu …”
Sang siluman ular membuka mulutnya sehinga menampilkan deretan gigi-gigi tajam, sebuah kekuatan misterius keluar dari tubuhnya bersama hawa siluman yang semakin pekat.
Xin Chen menyadari ada yang aneh dari perilaku ini dan dia mencoba mencari letak kesalahannya. Saat melihat arah pandang siluman itu tertuju pada Pedang Baja Phoenix satu tebakan muncul di kepalanya.
“Sepertinya peliharaanku mendeteksi sebuah kekuatan dari senjata Pusaka Langit?”
Xin Chen terdiam, tidak mungkin pria ini mengetahuinya. Senjata Baja Phoenix ini sama halnya seperti Topeng Hantu Darah yang saat ini dia simpan pada cincin ruang. Mereka memiliki kemampuan untuk menyembunyikan kekuatan asli saat dalam keadaan tak digunakan oleh pemiliknya.
“ Tunggu... Kau sepertinya salah orang?”
“Hm? Jelas-jelas siluman ini menunjukmu. Aku sudah berputar ke seluruh penjuru desa ini dan tak mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Armor Dewa Perang. Asal kau tahu, siluman ini memiliki kelebihan untuk mendeteksi kekuatan tak biasa yang dia rasakan."
"Setiap Pusaka Langit memiliki energi kekuatan yang kuat meskipun bisa menyembunyikan kekuatan itu dengan sangat baik, tapi… dengan siluman ini tidak ada satupun pusaka yang dilewatkan olehnya.”
Xin Chen berpikir maksudnya, jika benar dia sudah mengitari seluruh desa ini dan tak menemukan apapun sementara Baja Phoenix miliknya terdeteksi, berarti Armor Dewa Perang memang tidak ada di sini.
Sambaran mematikan datang ke arahnya secara tiba-tiba, Xin Chen merespon cepat dengan menangkis tebasan ekor tersebut dengan Pedang Baja Phoenix. Hal tak diduga terjadi, siluman ular itu melilit pedang Baja Phoenix dan menariknya paksa.
Pemilik siluman itu tertawa girang, dia senang peliharannya sangat agresif dan bisa diandalkan dalam pertarungan. Sudah berapa banyak ular naga itu mengambil kepala siluman dan membunuh manusia untuk mencuri pusaka-pusaka mereka. Kepintarannya pun tak bisa diragukan lagi, bahkan setelah berhasil mencuri Pedang Baja Phoenix dia langsung menghilangkan diri.
__ADS_1
“Selain bisa mendeteksi kekuatan, dia juga bisa menghilang dan merayap secepat kilat. Hahahah! Kau pasti baru pertama kali datang ke sini melihatnya? Kalau begitu selamat tinggal. Jangan harap bisa mendapatkan pedang itu kemba-“
“Kembalikan!”
Pipi pemuda tersebut tergores dan mengeluarkan darah, dia mengelapnya dengan ujung jari sembari menertawakan Xin Chen yang baru saja melepaskan serangan ke arah mukanya. Dia segera berlari kencang.
Xin chen mengejarnya dengan sangat cepat, namun tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah petasan untuk memanggil rekan-rekannya sedangkan dia sendiri melarikan diri dari tempat tersebut.
Langkah xin chen tertahan saat melihat empat orang datang menyelamatkan pemuda tersebut, mereka semua berseragam sama.
Dalam detik itu salah satu penduduk mengintip apa yang terjadi dari balik tirai jendelanya usai mendengar suara tangkisan pedang, satu hal yang didapatinya pada lorong jalan desa yang berdebu adalah seorang anak kecil dan empat orang dari Empat Unit Pengintai hendak bertarung.
“Anak yang malang, kepalanya akan dipenggal begitu saja oleh mereka.” Ujarnya menggelengkan kepala kasihan, dia melihat Xin Chen menggemerutukkan giginya geram. Bagaimana bisa dia bisa tak menyadari ular itu akan merebut Baja Phoenixnya tadi.
“Hais, seharusnya anak itu mundur saja sebelum orang-orang bertangan besi itu membunuhnya,” dia mendengus malas setelah menutup tirai jendela. Entah sudah berapa kalinya dia melihat situasi seperti ini dan selalu berakhir dengan gugurnya para pendekar Kekaisaran Shang.
Kembali di tempat xin chen bertarung, dia dapat merasakan sendiri seberapa kuatnya orang-orang dari Empat Unit Pengintai.
“Hm? Sepertinya aku sempat melihatmu di dekat gerbang desa. Orang-orang di sini menyebutnya dengan Tuan Muda Xin kedua.” Salah satunya bercelutuk, membuat yang lainnya berpikir untuk mengingat sejenak hingga akhirnya menyahut.
“Anak dari Pedang Iblis ternyata memiliki Pusaka Langit juga? Aku tak yakin ayahnya mau memberikan dua pedang legendaris itu secara sembarangan. Jika anak ini menemukan senjata itu sendirian, kemungkinan besar dia memiliki petunjuk atas pusaka langit yang lainnya.”
“Benar. Kita membutuhkan informasi darinya, sebaiknya jangan buat dia mati. Setidaknya buat lumpuh saja agar tak bisa memberontak.”
__ADS_1
Posisi Xin Chen mulai terancam, empat tebasan serangan masuk menyambar tubuhnya begitu saja. Xin Chen tak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti tadi dan memilih bertarung tanpa menggunakan Topeng Hantu Darah.
Baru beberapa detik dirinya terpukul mundur semakin ke belakang, empat orang inii terlalu lincah dalam pertarungan. Setiap satu luka yang mereka timbulkan membuat tubuhnya terluka parah.
Petarung wanita dari empat unit pengintai berlari kencang dan menjadikan tombak temannya untuk meloncat dan menebaskan pedang panjangnya ke bawah hampir membelah kepala Xin Chen.
Kekompakan mereka di dalam pertarungan tak bisa diragukan, belum semenit saja Xin Chen terpukul mundur sangat jauh, dia sadar level kekuatan 4 orang ini sama seperti melawan 3 orang seperti Zhang Ziyi.
Dan juga dia tidak bisa fokus bertarung mengingat Baja Phoenix telah diambil alih, jika dirinya tak cepat mengejar bisa-bisa pedang tersebut sudah disalah gunakan seperti kepingan Baja Phoenix lain.
Untuk sementara Xin Chen memilih mundur, karena dirinya tak memiliki pedang untuk membela diri Xin Chen hanya bisa mengangkat tangannya sejajar ke atas. Menimbulkan api bercampur petir di tangannya hingga membuat keempat orang itu saling menatap.
“Semuanya, siap-siap untuk formasi bertahan!” teriak salah satunya, ketika Xin Chen menyerang formasi depan mereka sang petarung wanita menggagalkan serangannya dan justru melepaskan serangan balik.
Dia mendarat ke tanah setelah berhasil menendang dada Xin Chen. Setidaknya kekuatan yang dikeluarkannya tadi sudah cukup untuk membuat lawannya jatuh pingsan selama satu hari.
Xin Chen yang sudah terseret ke belakang dalam posisi membungkuk terbatuk kecil, darah mengalir pelan dari sudut bibirnya. Melihat gaya bertarung orang Kekaisaran Qing yang sangat berbeda serta sulit ditebak ini membuat Xin Chen hampir putus asa.
Dia merasa latihannya satu bulan selama di Desa Pelarian sia-sia jika dalam pertarungan ini dikalahkan. Dia telah gagal melindungi Baja Phoenix dan juga gagal menepati janjinya pada sang roh penjaga pusaka tersebut.
“Hm? Kau sepertinya sudah kelelahan? Tidak berpikir untuk menyerahkan diri dengan cara damai? Dengan begitu kau tak harus merasakan rasa sakit seperti ini.”
Satu-satunya wanita dalam empat unit pengintai menambahkan, “Kami bisa menjamin kau bisa kembali hidup-hidup ke rumahmu tanpa harus mengalami cedera berat.”
__ADS_1
Xin Chen menopang tangannya pda lutut agar bisa berdiri seraya mengangkat wajahnya berani, dia mendecih kesal, “Aku belum bisa kembali ke rumah kalau orang seperti kalian masih berkeliaran.”
“Tch, ku akui keberanianmu. Baiklah jika kau menginginkan cara kasar, jangan salahkan kami jika salah satu anggota tubuhmu hilang. Kupastikan kau akan cacat atau lebih baik mati saja, Tuan Muda Xin Kedua.”