
Merasa perdebatan ini tak akan memiliki ujung Xin Chen tak menyahut lagi, dia melayangkan beberapa kali serangan yang seharusnya dapat mengenai Roh Elemen Api dengan telak tapi sayangnya mau sebesar apapun usahanya mencoba, dia tidak akan berhasil.
Roh Elemen Api menyunggingkan senyuman remeh sembari melihat lawannya. "Jangan menatapku seolah kemenangan ada di tanganmu, manusia bodoh."
"Aku tak mengatakan kemenangan ada di tanganku, kau sendiri yang mengakuinya barusan."
Puas membalas balik omongannya, Xin Chen tak menunggu lama lagi untuk mengulur waktu. Dirinya harus segera membereskan permasalahan ini dan meminta penjelasan Rubah Petir soal Roh Elemen Api tersebut.
Pertarungan sengit tak terelakkan, bahkan di dunia alam bawah sadarnya sendiri pun Xin Chen masih tidak takut mati karena terbiasa menantang mautnya sendiri. Walaupun Roh Elemen Api terus mengeluarkan seribu jurus mematikan yang seharusnya membuatnya gentar, yang namanya Xin Chen memang akan selama-lamanya keras kepala.
Dua jam pertarungan berjalan dengan tanpa jeda, membuat Roh Elemen Api mulai kesal di tempatnya berdiri. Bukannya dia tak mampu melawan musuhnya itu, hanya saja pertarungan ini lebih seperti tak memiliki akhir. Sampai mati pun Xin Chen takkan berhenti menyerangnya meski itu sia-sia, sementara Roh Elemen Api tak memiliki cara untuk membunuhnya kecuali dia menghancurkan tubuh asli anak tersebut.
"Ck kalau seperti ini aku malah membuang-buang waktuku yang berharga."
Umpatan tersebut masih tertangkap di telinga Xin Chen.
"Hahaha membayangkan seorang Roh Elemen sepertimu, siang-siang bolong malah bermain dengan bocah nakal. Hei apa kata guru rubah nanti, mungkin dia yang tertawa sangat keras saat mendengarnya. Yah... Berhubung roh-roh sepertimu memiliki kesan garang dan berkekuatan dewa..."
"Jadi di sini kau sedang mengolok-olokku?" cibirnya mencengkram tongkatnya amat kesal.
"Ya, aku sedang menertawakanmu. Bahkan jika nenek moyangku mendengar cerita menyedihkan ini mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak di alam kuburnya."
"Meskipun tahu setelah ini aku benar-benar akan murka dan menjahit mulutmu yang menyebalkan itu?!" geramnya kesal sampai ke ujung kaki.
"Meskipun tahu setelah ini kau benar-benar akan murka dan menjahit mulutku yang menyebalkan ini." Dia mengulangi kata-kata tersebut dengan yakin.
__ADS_1
Di situasi seperti ini dirinya dibuat frustrasi, sejak awal Roh Elemen Api hanya ingin memperingati Xin Chen tapi apa daya, anak itu tidak akan mendengarkan.
Terlebih lagi seperti katanya di awal, Xin Chen adalah perusak hukum alam. Dirinya sebagai salah satu Roh Elemen tak bisa tinggal diam menyaksikan kekuatan tersebut jatuh ke tangan manusia serakah.
"Baiklah, kau sendiri yang menggali kuburan mu."
Ruang hampa yang semula hanya dipenuhi dengan kegelapan tak berujung berganti dengan sebuah tempat yang sangat-sangat tak masuk akal. Ruang alam bawah sadarnya berganti dengan sebuah aula berwarna biru bening, senada dengan warna kobaran api abadi dari tubuh Roh Elemen tersebut.
Xin Chen mengitari sekitarnya dalam tanda tanya, ini seperti ruangan penghakiman di mana tepat di titiknya berdiri sepuluh patung berukuran sebuah pagoda dengan mata merah melotot seram padanya. Mereka mengitarinya seperti sedang memangsa. Patung-patung tersebut memegang senjata berbeda satu sama lain, tidak seperti benda mati pada umumnya patung-patung itu sekali-kali menimbulkan suara derak yang membuat kaki siapapun akan gemetar.
Xin Chen mundur sedikit dan patung yang membawa palu besar merespon, dia menyambar Xin Chen tanpa ampun. Membuat anak itu kembali ke tempat semula. Dirinya harus berdiri persis di tengah-tengah para patung mengerikan itu atau jika tidak sepuluh patung akan datang menyerang.
Menyadari posisi Xin Chen sama sekali tak menguntungkan, maju dibabat mundur pun disayat, Roh Elemen Api menertawainya.
Rupa-rupanya Roh Elemen Api telah merubah bentuk tubuhnya ke wujud asli sebagai Dewa Api. Pria itu layaknya seorang pemuda berumur 18tahun yang berasal dari negeri asing. Rambut berwarna pirang, bulu mata pun berwarna demikian disertai jubah indah. Meskipun wajahnya terlihat sangat muda, dari cerita yang dituturkan Rubah Petir sudah jelas roh tersebut berumur jutaan tahun. Jauh lebih tua dari Rubah Petir sendiri.
"Tempat ini..."
"Aula Penghakiman. Cocok untuk menghapuskan pemberontak alam sepertimu. Setelah kau kupastikan rubah itu juga akan menyusul jadi kau tak perlu sedih."
Gawat. Hanya satu kata itu yang berputar di kepala Xin Chen, jika kini jiwanya telah tertarik ke ruang alam bawah sadar Roh Elemen Api tersebut maka kemungkinan matinya jauh lebih besar. Jika tadi dirinya bebas menyerang tanpa takut terbunuh, maka kali ini sebaliknya. Sekeras apapun dia melukai roh tersebut, luka sekecil apapun takkan berarti apa-apa.
Namun kenyataan bahwa saat dirinya abadi pun, roh tersebut tak bisa dilukai barang seujung kuku pun membuat Xin Chen paham posisinya bagaimana. Dia sama sekali tak berdaya.
"Hm, kurasa aku sudah cukup muak bermain-main denganmu. Selebihnya kau ajak saja penjaga pintu neraka untuk bermain bersamamu di akhirat."
__ADS_1
Roh Elemen Api mengangkat jari telunjuk pada Xin Chen, tanah tempat berpijak mulai bergetar. Benar dugaannya semenjak tadi, bola mata patung-patung di sekitarnya memunculkan kilat warna merah. Roh Elemen Api tersenyum puas di singgasananya. Sepuluh patung penghakim tersebut cukup mudah membunuh anak tersebut, bahkan tanpa dirinya harus turun tangan sekalipun.
Segala macam senjata menyerbu Xin Chen beruntun, terlebih patung di hadapannya yang menggenggam godam. Patung tersebut sangatlah brutal, bahkan tempatnya berpijak rusak parah akibat hentakan kekuatan tersebut. Sedang jika dia memundurkan diri, sabit dan pedang besar bersiap membelah kepalanya.
"Hm? Kesal kau tak bisa menggunakan kekuatan dari tubuh aslimu di ruang alam bawah sadar ku?" Seolah mengejek Xin Chen, Roh Elemen Api tertawa sinis.
Akan tetapi senyuman sinis itu mulai mengendur selama beberapa menit berselang, Xin Chen tetap bertahan meskipun senjata-senjata dari Patung Penghakim tersebut menimpa tubuhnya yang kecil.
Mulai terpikirkan juga anak itu benar-benar gila atau bodoh, pertanyaan yang seharusnya sudah tidak perlu membuatnya risau lagi. Akan tetapi bahkan hingga lengannya tak berfungsi lagi dan darah membasahi sekujur tubuhnya, Xin Chen tetap tak gentar dan bertahan selama yang dia bisa.
Xin Chen memperhatikan tiap langkah demi langkah yang dipijaknya, memperkirakan segala hal dengan jeli bahkan sampai lupa Roh Elemen Api masih setia menontonnya dari kursi singgasananya.
'Sebenarnya apa yang sedang anak itu pikirkan?' batinnya merasa tak beres.
Benar saja, tak secara cuma-cuma Xin Chen membuat tubuhnya terluka oleh hantaman patung-patung besar tersebut. Setiap dirinya mundur ke belakang, maka patung dengan godam di tangannya akan maju setidaknya lima tapak kakinya begitupun dengan patung yang lainnya. Hanya butuh momentum yang tepat untuk melancarkan rencana dalam pikirannya.
Xin Chen memberanikan diri untuk maju, tak sampai sedetik palu besar bersiap membuat tubuhnya menyatu dengan lantai. Langsung mundur, Xin Chen berniat membuat patung bersenjatakan pedang di belakangnya untuk menyerang dan menyingkirkan diri seaman mungkin.
Mata Roh Elemen Api terbuka lebar. Pedang milik patung tersebut menghancurkan lengan milik patung dengan godam di depannya.
**
Tarik napas dulu... ok, i'm fine!
Semoga waktu, mood dan tenaga bisa selalu bekerjasama supaya author bisa menamatkan novel ini, aamiin. Pdhl tugas final dah bejibon astagfirulloh sabar sabar
__ADS_1
Kemungkinan author cuma update seminggu sekali ya munmaap
Btw jgn lupa follow kak Vi di ig: @kak.vi, atau klo mau follow di sini boleh uga, ntar klo pengikutnya nambah jd 1000 org deh author crazy up kwkwkwk #canda