
Amukan prajurit itu mendadak membuat kacau suasana, dia berusaha mengejar Xin Chen yang malah pergi ke balik bangunan gelap. Sampai di sana ada lima prajurit lainnya yang tidak tahu ada ap dan langsung mendapatkan tinju di wajahnya. Salah satu yang paling sial di antara mereka ditarik dan dihukum berdiri satu malam.
**
Di dalam asrama, semua orang terbangun tanpa terkecuali. Menyaksikan Wei Feng yang sebentar lagi harus meregang nyawa akibat kebohongannya. Tidak ada seorang pun di kamar mandi paling ujung. Dan dia menempatkan diri sendiri dalam situasi sulit. Dua temannya Yu Xiong dan juga Youji berusaha membela tetapi tidak ada yang mau mendengar mereka.
"Cari satu orang yang melarikan diri itu dan bunuh di tempat. Tidak ada pengampunan bagi seorang penyusup!" serunya menggelegar di seisi ruangan. "Dan kau-" Dia memajukan ujung pedang hingga menggores leher Wei Feng. "Matilah sampai tak seujung kuku pun tersisa darimu."
Wei Feng diseret di tengah ruangan, sontak membuat laki-laki itu berontak. Dia terhantam ke atas ranjang besi, Wei Feng tertelungkup dan mencoba merangkak lari.
"Lepaskan aku!" mata Wei Feng sekilas menangkap sesosok bayangan di bawah kasur Xin Chen.
"Kau-" Wei Feng sampai gondok setengah mati melihat Xin Chen sedang tidur-tiduran di sana, pemuda itu menoleh dan membuka matanya pelan. "Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya. Makin membuat darah Wei Feng mendidih. "Seharusnya aku yang bertanya begitu! Tidakkah kau lihat aku hampir dibunuh oleh mereka?!"
Xin Chen keluar dari kolong kasurnya, melihat para prajurit tengah menghadap ke arahnya.
"Ada apa ini?" Dia bersikap bodoh, Wei Feng tahu dia sedang berpura-pura tetapi yang membuat kemarahannya semakin besar adaah wajah tak bersalah Xin Chen. Padahal dia hampir mati dibuat prajurit tersebut.
"Kenapa kau tidur di sana? Apa menunggu temanmu disiksa dulu baru kau mau keluar?"
__ADS_1
"Aku memang punya kebiasaan aneh. Tadi terbangun saat melihat temanku berteriak."
Para prajurit itu bahkan tak meminta maaf setelah membuat Wei Feng ketakutan setengah mati, mereka menganggap Xin Chen hanyaah orang aneh yang memiliki kebiasaan buruk; pertama, tidur di bawah kolong kasur dan kedua, tidur seperti mayat. Karena harus memeriksa asrama lainnya mereka segera pergi dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Hoi, Kecambah. Gila saja! Jika aku tak mengulur waktu tadi entah apa yang akan terjadi padamu!"
Yu Xiong meletakkan telunjuk di depan mulutnya, menyuruh Weii Feng memelankan suaranya karena sampai sekarang orang lain masih menatap mereka sambil berbisik-bisik. Timbul rasa curiga terhadap mereka akibat kejadian tadi. Namun mereka tak mengatakan apa-apa. Satu jam berlalu hingga situasi kembali tenang seperti semula. Xin Chen membangun mereka bertiga.
"Besok seleksi langsung dimulai dengan latihan memanah. Kalau Kak Wei aku yakin bisa lolos."
Di antara mereka hanya Yu Xiong yang pucat pasi, dia mengulang kata-kata Xin Chen. "Latihan memanah? Jika tidak bisa membidik dengan benar, apa yang akan terjadi padaku?"
"Siapa pun yang tidak masuk ke dalam seleksi akan mati. Mereka sudah mengatakannya sejak awal. Hanya mayat yang akan dipulangkan ke keluarga."
"Yu Xiong, Yu Xiong, apa kau takut? Ayolah, kau tak akan menjadi sosok terkuat jika dengan prajurit kelas teri saja mundur. Apalagi hanya latihan panah biasa."
"Kak Wei, kau tahu aku sama sekali tak pernah membidik dengan baik. Tak sekali pun aku pernah memanah tepat sasaran."
Tepukan di pundaknya membuat Yu Xiong sedikit tenang, Xin Chen tak mengatakan apa-apa. Sementara itu Youji melepaskan tangan buatannya. Menyingkirkan benda-benda tajam dari sana dengan paksa. Tapi hal itu justru membuat tangannya berdarah.
__ADS_1
Xin Chen menyerahkan sebuah belati yang dia dapat sebelumnya. mencongkel beberapa tempat untuk membongkar bagian-bagian yang tak dibutuhkan. Malam itu tak satu pun dari mereka yang tertidur. Wei Feng terus mengajari Yu Xiong tentang teknik dan cara memegang panah dan Youji bersama Xin Chen membuang senjata tajam di tangan buatan.
Cahaya matahari belum muncul tetapi keributan di depan pintu mulai terdengar. Pintu besi terbuka menimbulkan suara derit yang membuat ngilu. Beberapa dari mereka terbangun. Hingga akhirnya seruan menggelegar memecahkan keheningan.
"Berdiri semua! Dalam hitungan ketiga!"
Kontan yang lain membangunkan temannya yang masih tertidur. Xin Chen dan lainnya sudah berdiri di sisi ranjang masing-masing saat prajurit menyuruh mereka keluar mengikuti barisan. Hari masih pagi dan beberapa tempat tidur sudah dilumuri oleh darah. Dua orang tewas saat masih terlelap dalam tidur, tidak ada yang membangunkan mereka. Kekejaman ini membuat Youji Wei Feng sampai tak habis pikir.
Dia merasa Kekaisaran Wei yang paling kejam, tapi apa yang dilihatnya sekarang mematahkan anggapan itu.
"Berbaris yang rapi!" Yu Xiong didorong ke kanan dan hampir terjatuh karena sibuk melamun. Untung saja Xin Chen menahan tangannya agar dia tak keluar dari barisan. Karena tepat di samping mereka, seorang prajurit sudah bersiap memenggal kepala siapa pun yang keluar dari barisan.
"Sebenarnya tempat apa ini?" gumam Wei Feng yang kini menengadah melihat tempat mereka dibawa. Sebuah lapangan luas yang diisi dengan sepuluh tempat memanah. Di setiap deret hanya diberikan tiga anak panah dan satu busur. Itu artinya seperti kata Xin Chen semalam, mereka memang diharuskan memanah dan hanya memiliki tiga kesempatan untuk bisa lolos.
Wei Feng bisa dikatakan aman kali ini, termasuk Xin Chen dan Youji. Namun yang menjadi masalah adalah Yu Xiong yang bahkan tak diperbolehkan ibunya memegang panah. Karena biasanya Yu Xiong akan membidik ke arah yang salah dan membahayakan orang lain.
Sepuluh tempat memanah itu akan diisi oleh sepuluh orang pertama. Satu per satu nama dipanggil. Banyak dari mereka yang tak bisa lolos dan hanya berakhir menyedihkan. Karena mereka sendiri adalah para penduduk yang dipaksa bertarung. Hanya mereka yang beruntung dapat meneruskan seleksi. Sejauh ini baru tiga orang selamat dari sepuluh orang pertama.
Nama Wei Feng disebut di giliran kedua, laki-laki itu tampak percaya diri. Namun saat memegang panah kedua tangannya gemetar. Dia tak sengaja melepas anak panah pertama sembarangan dan berakhir dengan menancap ke tanah.
__ADS_1
Mungkin kalau urusan memanah Wei Feng memang bisa diandalkan, tetapi dia terlalu gugup karena di belakangnya, prajurit siap membunuhnya jika melakukan kesalahan sebanyak dua kali lagi.
Wei Feng menarik dua anak panah sekaligus. Karena busurnya sendiri memang bisa digunakan untuk menembakkan tiga anak panah. Dia melepasnya dengan lebih tenang dan keduanya berhasil mengenai sasaran.