Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 303 - Anak Kecil Bisu


__ADS_3

Pada suatu malam yang mencekam di mana jalur gang yang sempit seolah-olah menyembunyikan seorang pembunuh berdarah dingin, mengintai manusia yang berada di luar rumah saat tengah malam tiba. Kabut-kabut tipis muncul di perumahan kota yang kumuh dan jorok. Ada satu-dua mayat yang dibiarkan terbaring berulat di dalam gang sempit, mata mereka dipenuhi oleh ulat yang menggeliat. Sementara aroma busuknya menyebar sampai ke seluruh kota.


Palang dan kain-kain lusuh tergeletak begitu saja di atas tanah, berpuluh-puluh tahun kota mati itu ditelantarkan oleh pemerintah. Sementara itu, bunyi lonceng yang rusak terus terdengar mengisi malam yang panjang di kota tersebut. Lampu-lampu penerangan bersinar redup dan perlahan padam saat angin malam membawa badai dari selatan. Gonggongan anjin g terdengar bersahutan di sepanjang jalan kota, saling berebutan makanan dan bangkai-bangkai manusia yang telah membusuk. Binatang itu kurus selayaknya bangkai hidup. Beberapa dari mereka cacat akibat perseteruan dengan para manusia. Tak ada yang lebih berharga di kota itu daripada sebuah menara tinggi.


Kota tersebut tak seperti kota yang ditinggalkan sebab beberapa penerang di dalam rumah menyala. Ada rumah yang begitu besar bersebelahan dengan rumah kecil dan juga reyot. Perbedaan status terlihat jelas hanya dari susunan rumahnya. Selebih dari itu, cara berpakaian juga menggambarkan status sosial seseorang.


Dinginnya angin malam membekuk tubuh seorang anak kecil yang nyaris seperti tulang berjalan. Tulang pipinya menusuk ke dalam dan pakaian yang dikenakannya koyak di beberapa bagian. Siapa pun yang melihatnya pasti akan ketakutan sebab di perutnya kini mengalir darah kental, dia baru saja ditusuk. Matanya terlihat kosong namun instingnya untuk bertahan hidup terus memaksanya berlari. Berlari meskipun dia tahu kematian sudah ada di depan matanya.


Anak kecil itu berlari melewati jembatan merah kota, mengetuk satu demi satu rumah yang menyala dan tak mendapatkan jawaban apa pun; semua orang ketakutan pada malam hari. Hingga tak satu pun dari mereka mau mengorbankan keselamatan nyawa anak dan istri demi orang tak dikenal. Dia menarik napas cepat, sekarang dirinya bahkan bisa mendengar bunyi detak jantungnya sendiri.


Tangan kecilnya bergetar hebat, dia dapat mendengar sesuatu mengejarnya dari balik bayang-bayang kota.


Dia berlari kembali dan menemukan sekelompok manusia tengah berkumpul di ujung gang. Membakar makanan yang berhasil mereka curi dari rumah orang kaya. Tak satu pun dari mereka memperlihatkan kepedulian, karena hidup mereka sendiri memprihatinkan.


Anak kecil itu melambaikan kedua tangannya ke atas, beberapa kali sambil meloncat. Dia mencoba bersuara namun yang terdengar di telinga para laki-laki itu hanyalah ocehan tak jelas. Berulang kali dia menarik perhatian kelima orang muda tersebut. Mereka juga sama sepertinya, tak memiliki harapan hidup di kota yang korup dan kotor ini. Rasa kepedulian pada orang hampir tidak ada, daripada memikirkan nasib orang lain, perut mereka saja sudah sangat sulit diisi. Jika bukan dengan mencuri mungkin nasib mereka akan berakhir sama seperti mayat-mayat yang tergeletak kelaparan di kota tersebut.


Muak melihat tingkah laku anak laki-laki itu, salah satu dari mereka meninju dinding keras. Matanya yang merah keruh menyorot dingin si anak kecil, tetapi sikap itu tak membuat anak kecil mengerti dan menghentikan tingkahnya yang membuat laki-laki muda naik darah.


"Ada apa dengan bocah ini? Aku tak peduli siapa kau, tapi jika dalam hitungan tiga kau tidak menyingkir ku habisi nyawamu!"


Anak kecil itu tak peduli dan terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Matanya terlihat begitu putus asa, dia melakukannya agar kelima orang ini mau mengerti, bahwa dirinya sedang diincar oleh pembunuh dan sekarang ibunya di rumah sedang menghadapi sekelompok orang bejat yang akan membunuh wanita itu juga.


Tak kehabisan ide, dia mengambil ranting-ranting kecil dari api unggun dan menggambarkan sesuatu menggunakan ujung kayu yang berasap. Karena tangannya begitu gemetaran, tidak ada yang dapat mengerti apa yang tengah digambarkannya. Dan itu membuat para laki-laki muda seperti diejek-ejek.


"Siapa pun, pukuli saja anak ini! Menyebalkan sekali. Ku harap dia mati dilindas kereta kuda si walikota busuk."


"Dia bisu?"

__ADS_1


"Habisi saja sudah! Untuk apa juga sampah terus melahirkan sampah di kota ini! Hanya menambah kotoran saja!"


Anak kecil itu mundur beberapa langkah, mendengar suara seruan yang membuatnya mengerti bahwa para laki-laki itu sedang marah. Dia menggigil ketakutan ketika wajah-wajah bengis mereka mengincarnya, malam ini adalah mimpi buruk yang seumur hidup tak akan ingin dilaluinya.


Satu kaki menginjaknya, lepas itu laki-laki lainnya menginjak dan menghajarnya dengan balok kayu. Tanpa ampun. Anak kecil itu berpikir jika dia dipukuli, maka orang itu mau membantunya.


Tapi ternyata tidak.


Dia sudah dibuat sekarat hingga kakinya tak mampu lagi bergerak, matanya berdarah karena dicolok oleh ranting kayu panas. Serta beberapa luka sayatan tajam yang membuat bahunya terkoyak. Anak kecil itu merangkak, di ujung gang dia sudah dapat melihat seorang laki-laki dengan tubuh tinggi besar tengah berjalan ke arahnya. Bunyi derap kaki yang perlahan mendekat itu mendengung di telinganya.


Dia mulai menangis ketakutan. Namun erangannya lebih terdengar seperti ocehan tak jelas. Pandangannya gelap saat itu juga. Malam yang dingin dan penuh dengan amis darah itu perlahan berubah menjadi hangat. Samar namun jelas, dia dapat mendengar suara asing di dekatnya.


"Anak yang malang."


"Pulanglah."


Mata anak itu terbuka lebar-lebar, dia terbangun di tempat yang sama hanya saja luka di perutnya telah diperban. Tangannya takut-takut meraih kantong kecil yang berisi koin-koin. Dia membaca tulisan pada dinding kayu di sebelahnya. Tak ada yang dapat dilakukannya selain menangis memeluk kantong tersebut.


*


"Apa-apaan tempat ini. Tak bisa dipercaya, kemarin kita memasuki tempat megah yang bahkan seekor kecoa saja enggan masuk di dalamnya. Dan sekarang, lebih jorok dari kandang binatang!"


Ocehan Shui tak berhenti sampai di sana, apa pun yang membuatnya jijik pasti dipersoalkan olehnya. Dia tak mengerti mengapa manusia kadang bisa begitu bersih dan juga sebaliknya. Matanya berubah kasihan saat melihat seorang ibu dan anak saling berpelukan dengan tubuh kurus. Mereka lusuh dan seperti tak pernah mandi bertahun-tahun.


Saat Shui mencoba mendekat, ibu itu mencoba mencuri sesuatu darinya. Namun Shui tak membawa harta apa-apa. Wanita itu pergi begitu saja bersama anaknya. Tanpa melirik sekali lagi pada Shui yang terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.


"Terlalu banyak orang yang harus dikasihani. Dan ini bukan salah mereka."

__ADS_1


Di perbatasan kota keduanya terdiam saat melihat tembok tinggi di mana terdapat kastil dan menara megah di dalamnya. Lebih seperti tempat militer perang yang pastinya dibangun dengan uang yang tidak main-main.


"Mungkin salah pemimpin mereka yang terlalu gila perang sehingga tak memikirkan bagaimana keadaan para perempuan dan anak-anak."


Shui terlihat miris di waktu itu, dia berujar tanpa melepaskan pandangan pada orang-orang kota yang seperti mayat hidup.


"Aku sekarang tahu alasanmu menyatukan tiga kekaisaran ini ..."


Shui memandang jauh, merasakan kesedihan mulai hadir dalam dirinya. "Untuk orang-orang seperti mereka yang ketakutan setengah mati."


"Aku tak semulia itu." Xin Chen menepisnya begitu saja.


"Kita harus segera ke tempat siluman itu, Shui. Jangan bilang kau lupa apa alasanku mengajakmu kemari."


Namun Shui tak dapat melepaskan pandangannya pada para penduduk kota yang begitu butuh pertolongan. Dia menggerakkan tangan pelan, mengisi sebuah tong besi yang kering dengan air. Seorang gelandangan menyadarinya tak sampai dua detik dan langsung meneguknya cepat-cepat. Diikuti oleh yang lainnya. Mereka berebutan dan saling dorong. Shui menatapnya tak percaya.


"Bahkan manusia bisa semenyedihkan itu." Shui menengok Xin Chen. "Apa yang bisa kulakukan untuk mereka?"


"Hm?" Xin Chen menjawab asal-asalan. "Bunuh pemimpin mereka dan bawa semua harta yang mereka timbun untuk rakyat. Ada cara lain?"


"Sialnya tidak ada."


"Tapi kita datang ke sini bukan untuk itu. Dan waktu kita hanya dua bulan. Fokus dengan tujuan awal."


"Kau menyuruhku tutup mata melihat manusia ini mati sia-sia?"


"Silakan kalau mau mengurusinya satu per satu. Tapi aku jamin, umurmu yang jutaan tahun pun takkan mampu membuat hidup semua orang sejahtera. Kecuali jika kau membereskan dari akar-akarnya."

__ADS_1


Shui mencebik, dia tak bisa berpikir jernih lagi.


"Ck, baiklah. Membereskan dari akar-akarnya, heh? Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada pemimpin keji itu."


__ADS_2