
Wei Feng meloncat ke atas dahan pohon dengan membawa teropong kayu dalam genggaman tangannya. Di Kekaisaran Wei benda itu biasanya digunakan untuk melihat dalam jarak jauh.
Mereka telah memasuki hutan yang dimaksud Wei Feng tapi sayangnya sudah sepuluh menit berdiri di sana tak ada satu pun hewan buruan menampakkan diri.
"Katamu di sini banyak binatang tapi aku tidak melihat apapun sejak tadi?"
"Kau ini! Sabarlah sedikit Kecambah." Wei Feng memakai kembali teropongnya, mengarahkan pandangan ke segala sisi dan tak menemukan apapun selain pepohonan dan daun-daun liar.
"Sial sekali... Padahal tiga bulan yang lalu saat aku berburu di sini semuanya masih sama saja, ke mana semua hewan buruanku itu?" gerutu Wei Feng tak sabaran, dia mencebik berkali-kali hingga membuat Xin Chen kebosanan dibuatnya.
Tak begitu lama berselang muncul beberapa orang dalam balutan jubah serba putih bercorak biru, orang-orang itu kebanyakan adalah murid dari sebuah sekte dengan satu orang dewasa yang mengawal.
Di depan murid itu berjalan seorang lelaki berumur, tak menyadari kehadiran mereka dan terus melakukan perburuan dengan sikap tenang.
"HEI PAK TUAAA!"
Xin Chen membelalakkan matanya sewaktu Wei Feng berteriak kencang, membuat burung-burung yang bersembunyi di dalam hutan seketika berterbangan. "Kak Wei, kau sudah tidak waras lagi ya? Dia itu–"
"Diam saja kau Kecambah! Kau tidak sadarkah? Wilayah kita sedang dijajah!!"
"Iya, iya tahu! Jangan berteriak juga!" Anak itu menutup kedua telinganya kesal, belum satu jam mengenal Wei Feng kurang lebihnya Xin Chen sudah paham betul bagaimana watak pria itu.
Sejak awal dia sama sekali tidak mau menjaga sikap dan hanyaseenak jidatnya. Tahu begitu, Xin Chen akan berpikir sepuluh kali sebelum mengajaknya berkenalan tadi.
"Apa kau sedang memanggilku?" sosok pendekar senior itu mendekati mereka berdua.
"Paman, bisa jaga mulutmu tidak? Setidaknya perlihatkan sedikit sopan santunmu pada Guru kami." Salah satu murid menggerutu di belakang, menunjukkan sikap tidak terima atas sikap Wei Feng.
__ADS_1
Wei Feng sendiri berkeberatan menuruti keinginan murid itu, justru dia turun dari pohon dengan gaya tengil. "Cih, belum tahu ya tempat ini dikuasai seorang monster?"
Tangan Xin Chen refleks menepuk jidatnya, andai dia bisa kembali ke penginapan dan duduk manis di sana bersama Rubah Petir tanpa harus terlibat urusan si Wei Feng cerewet ini.
"Monster? Kami sudah mengelilingi seluruh tempat ini dan membawa beberapa binatang-binatang buas agar tidak menggangu ketentraman penduduk sekitar tapi tidak menemukan monster seperti yang kau maksud. Kurasa kata-katamu itu sedikit keliru."
"Monsternya adalah yang berdiri di depan kalian ini, bodoh!"
Jelas saja suasana kian tegang, kata-kata Wei Feng tidak bisa ditolerir oleh murid-murid sekte tersebut. Untung saja mereka segera ditahan oleh guru mereka.
"Saudara muda, perkenalkan sebelumnya aku adalah Gu Long, kau pasti pernah mendengar sekte Bukit Tawon Emas bukan?"
"Persetan dengan Bukit Tawon Emas! Kembalikan semua hewan buruanku atau aku akan membunuh kalian semua– aduh, sakit! Hei Kecambah!" mulut Wei Feng berhenti mengoceh saat merasakan kakinya diinjak kuat.
"Maafkan temanku ini jika ada salah, dia orangnya memang begitu. Mohon jangan dibawa hati." Xin Chen menundukkan kepalanya pelan, menepuk punggung Wei Feng agar melakukan hal yang sama pula.
"Ck, untuk apa kau takut padanya?!" teriak Wei Feng setengah berbisik. Xin Chen menjawab ketus. "Kalau kau di Kekaisaran Wei silakan berbuat seenakmu. Tapi kalau di sini jangan harap, berhadapan dengan satu sekte sama saja dengan kau mengajak perang semua pendekar."
"Kau lebih terlihat seperti penjahat."
Gu Long yang kebingungan dengan dua manusia di depannya ini hanya bisa tertawa canggung. "Sebelumnya kami sangat meminta maaf jika benar ini tempatmu berburu. Tapi akhir-akhir ini hewan buas banyak turun ke pemukiman, menurut laporan kepala desa semua hewan itu berasal dari sini. Kami memang belum mengamankan semua hewan buas itu. Tapi barangkali saudara berdua mau membantu kami menangkap siluman buas itu..."
Wei Feng tertawa remeh. "Dalam artian lain kau ingin memanfaatkan kami? Bagaimana Kecambah Kecil? Kau pasti tidak mau menerimanya 'kan?"
"Baik. Kami akan menerimanya." Xin Chen membalas yakin, dia tak mau melihat wajah memelas Wei Feng, wajahnya habis malu mendapati Xin Chen tak berada di pihaknya. Apalagi murid-murid sekte di depannya sedang berusaha menahan tawa.
"Kau ini? Kenapa malah setuju dengan mereka."
__ADS_1
"Yang kita perlukan daging, kan? Sekalian untuk melatih kemampuan memanahmu juga, Kak Wei. Kau sudah ratusan kali menembak boneka jerami itu. Akan beda rasanya saat kau menembak mahkluk hidup sungguhan."
Mau tak mau Wei Feng ikut dengan orang-orang dari sekte Bukit Tawon Emas. Sejauh mata memandang memang tidak ada satupun keanehan dari hutan belantara ini.
Hanya terdengar suara monyet-monyet hutan serta jangkrik di tepi sungai. Setengah jam melewati jalan setapak akhirnya mereka tiba di sebuah tempat dengan aura yang tidak biasa.
Terlihat sebuah tebing tinggi yang membatasi hutan tersebut dengan wilayah setelahnya, mereka masuk melewati celah kecil dan tiba di sebuah hutan.
Suasana hening di sana justru malah membuat alis Xin Chen menyatu curiga. Dia segera bersiap dengan busur miliknya di tangan, bersiap menarik anak panah jika musuh tiba-tiba saja datang menyerang.
"Kami sudah mengantarkan kalian sampai di sini. Jujur saja, satu pekan yang lalu aku kehilangan lima muridku karena mendatangi hutan ini. Jangan anggap remeh siluman buas di sini, mereka tak seperti siluman pada umumnya."
"Maksudnya? Bisa kau jelaskan lebih rinci lagi?" Xin Chen mengedarkan pandangannya, mengendus bau darah dari arah kejauhan dengan samar-samar. Aroma pertempuran besar tercium. Bunyi cakar dan ekor kalajengking yang saling beradu pun turut terdengar.
"Kau tahu, hutan ini adalah tempat pembantaian berdarah dulunya. Jadi wajar saja roh tumbuh mengganas di tempat jasad mereka mati. Siluman itu memakan jasad manusia yang dibantai itu karena sudah tidak memiliki makanan lain, dan sekarang roh di tubuh mereka yang terbunuh datang kembali. Merasuki siluman buas dan mengendalikan mereka seenaknya."
Terus terang Wei Feng agak merinding mendengar cerita tersebut, dia mencengkram kerah baju Gu Long. "Jangan menakut-nakuti kami! Dan lagipula kau pasti ingin melarikan diri, bukan?!"
"Untuk itulah. Kami menerima permintaan ini tentu dengan bayaran. Aku tidak ingin membawa bahaya kepada murid-muridku. Jika kalian bisa mengambil jasad siluman di tempat ini. Akan kuberikan kalian lima ribu keping emas." Gu Long menyingkirkan tangan Wei Feng. "Kalau mau menerimanya ambillah. Itupun jika kau memiliki nyali."
Wei Feng menarik napas gusar, kali ini dia meminta pendapat Xin Chen lebih dulu. "Bagaimana denganmu?"
"Aku akan melakukannya. Setahuku setelah hutan ini ada sebuah pemukiman kecil yang pernah kulalui. Bisa berbahaya kalau para siluman ini menerobos masuk ke tempat tinggal penduduk."
***
hari Minggu berapa hari lagi, ya? Mungkin malam Minggu bakal crazy up buat nemenin para jones karatan🤣✌️ eh gak ding, buat pembaca yang Budiman maksudnya wkwkwk
__ADS_1
doakan aja urusanku cpt kelar biar bisa crazy up:'^
jgn lupa like dan vote♡