Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 138 - Mata Safir


__ADS_3

Membiarkan Ye Long terbang di atas ternyata bukan pilihan tepat, salah satu kota yang mereka lalui memiliki pengawal yang berdiri di atas gerbang dengan benteng tinggi.


Banyak pemanah yang berjaga di sana. Kehadiran Ye Long akan mudah diketahui oleh mata-mata tajam seperti mereka. Tak punya pilihan lain, Xin Chen memaksa Ye Long mengenakan jubah besar yang terpaksa dibelinya oleh seorang penebang kayu yang kebetulan lewat. Sayang jubah tersebut hanya sanggup menutup Ye Long hingga ke punggungnya. Sementara ekor naga itu melibas sana sini tak karuan.


Xin Chen menggaruk kepala pusing. "Guru Rubah menurutmu naga ini takkan dicurigai oleh penduduk kota nanti? Aku tak yakin akan hal ini..." celotehnya hampir kehabisan akal. Andai ekor Ye Long bisa dilipat tentu dengan senang hati Xin Chen akan melakukannya.


Ye Long mendengus malas, dia memilih mengunyah dedaunan daripada mendengar majikannya itu mengeluh terus. Kota sudah ada dihadapan mereka hanya saja penampilan Ye Long ini akan menarik perhatian banyak orang.


"Salahmu sendiri membawa naga itu. Sekarang saat kesulitan bergerak baru merengek padaku. Urus masalahmu sendiri," tanggap Rubah tak peduli. Dia justru melanjutkan perjalanan ke gerbang kota yang ramai tersebut. Lebih ramai dari tempat-tempat yang pernah mereka lalui. Bahkan pasar raya, pelabuhan menengah serta penginapan mewah pun ada di sana.


Xin Chen dan Ye Long saling bertatapan sebentar. "Ya sudah aku juga tidak peduli, kalau ada yang menangkapmu tinggal kau panggang saja orangnya. Mengerti?" Xin Chen pasrah, Ye Long mengangguk sambil menguap. Bau mulut naga itu membuat Xin Chen hampir pingsan di tempat.


Di sekitar jalan banyak pedagang menjual barang-barang mereka, mulai dari kerajinan, sayur dan barang-barang pusaka.


Saat situasi sedang ramai-ramainya, kehadiran Ye Long seperti membekukan waktu. Tidak ada yang bergerak atau sekedar melanjutkan gosip mereka. Belum sepuluh meter memasuki kota, salah seorang pejuang yang bertugas di tempat mendatangi mereka.


"Tuan Muda, mohon berhenti sebentar." Dia menyusul setengah berlari, Ye Long mendesis kencang. Saat merasa terancam dia akan bersikap seperti itu. Kontan semua penduduk menjauh dari mereka karena takut siluman itu mengamuk. Ekornya yang panjang melibas gerobak hingga menjadi puing-puing kayu.


"Ada masalah apa?" jawab Xin Chen tetap tenang, dia menyembunyikan Ye Long di belakangnya. Takut sewaktu-waktu naga itu mengamuk dan menggosongkan pria ini.


"Maafkan aku, membawa siluman buas tidak diperbolehkan, mengikuti ketentuan di sini." Agak sungkan dia berkata, masih sangat sopan meminta maaf.


"Dia bukan siluman buas, asal kau tau. Dia adalah peliharaanku yang manis. Benarkan?" Xin Chen menatap Ye Long di belakangnya, naga itu malah semakin melibas ekornya mengenai pintu rumah orang.


"Bo-boleh saya tahu peliharaan Tuan sejenis apa?" Pria itu berkata kikuk, merinding membayangkan bentuk seperti apa di balik jubah Ye Long.


"Hah? Dia ini sejenis kadal gurun! Kau tidak tahu, kan? Makanya jangan menghalangi jalanku dan minggir sana. Aish, belum tahu saja kalau kadal ini jago sekali menggaruk muka orang."

__ADS_1


Xin Chen menarik paksa Ye Long dari keramaian tersebut, meninggalkan pria itu mematung di tempatnya. Dikarenakan mereka harus mengisi kembali persediaan makanan maka Xin Chen berhenti di tempat penjual daging. Sialnya belum sempat menawar harga Ye Long sudah memakan semua daging yang disediakan di atas meja.


Xin Chen menjitak kepala naga itu keras-keras, "Dasar naga- eh kadal rakus! Tidak bisakah kau bertingkah baik di depan banyak manusia?" omelnya. Rubah Petir baru saja keluar dari toko kain usai membeli jubah baru untuknya. Dikarenakan jubah lamanya itu terlalu usang.


Ye Long melarikan diri setelah mengambil daging tersebut, dia bukan berlari justru terbang seperti naga pada umumnya.


"Ye Long..." Xin Chen masih menengadah, tak bisa memikirkan alasan untuk menjelaskan para penduduk sekitar. Mana ada kadal yang bisa terbang.


"Kau membohongiku? Di belahan bumi mana ada kadal gurun yang bisa terbang?" Pejuang yang tadi menghalangi mereka rupanya mengikuti Xin Chen.


Rubah Petir memalingkan muka. Untuk urusan mengelak begini dia menyerahkan pada Xin Chen.


"Sudah kubilang kau mana tahu apa-apa! Siluman itu hasil perkawinan siluman kadal dan siluman capung. Asal kau tahu saja."


"Tapi tetap saja aku tidak percaya-"


"Kau-"


Xin Chen dan sosok berjubah menghilang begitu saja. Mereka bergerak cepat untuk kabur melewati kota yang cukup besar itu. Setahu mereka setelah kota ini akan terdapat daerah yang dikelilingi bukit dan melewati hutan rimbun. Tempat sekte Kuil Teratai berada.


Di tempat lain Ye Long baru saja turun ke hutan untuk menyantap makanannya sampai dia mendengar bunyi derap kaki mendekat secara diam-diam, Ye Long mendesis. Seorang gadis mungil muncul di balik pepohonan besar. Bulu mata lentik dengan warna bola matanya yang menyerupai batu safir mengintip Ye Long di sana.


Gaun merah muda miliknya menyapu dedaunan dari pohon, dia berusaha mendekati Ye Long. Naga itu mendesis kencang saat gadis cantik itu berusaha menyentuh keningnya, kemudian memperhatikan luka bakar di sayapnya.


"Siluman yang malang ... Bolehkah aku menyembuhkanmu? Aku berjanji tidak akan menyakitimu."


Merasa siluman itu tak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang gadis itu lantas berjalan ke sisinya lalu memegang sayap hitam Ye Long dengan kedua tangan.

__ADS_1


Ye Long mengamuk, membanting tubuh gadis itu dengan ekor hingga terpental mengenai dahan pohon besar. Kemudian membuka mulutnya lebar-lebar, sebuah cahaya kebiruan muncul di mulutnya. Siap membakar gadis itu dalam hitungan detik.


"Eits, kadal nakal! Tutup mulutmu sebelum orang jatuh pingsan karena baunya!"


Ye Long menutup mulutnya tiba-tiba, merasa kenal dengan suara tersebut.


Gadis itu masih belum pulih dari rasa terkejutnya, untung seseorang datang.


"Te-terimakasih..." Dia menelan ludah kecil, dari balik jubah itu dapat terlihat wajah siluman itu walau hanya sepintas.


"Jangan bermain dengan siluman sembarangan. Lain kali aku tidak akan menolong untuk yang kedua kalinya."


Ye Long memutar kepalanya mendapati Xin Chen datang, dia berputar-putar sambil mendesis pada majikannya.


"Kau kira dia akan menangkapmu jadi kau berniat menghanguskannya?" Ye Long mengangguk.


"A-aku hanya berniat menyembuhkan luka di sayapnya. Kebetulan aku cukup mahir dalam teknik pengobatan. Mohon maafkan kelancanganku."


"Seharusnya aku yang meminta maaf. Kadal jelek ini suka sekali membuat masalah." Xin Chen mengaduh kesakitan saat ekor Ye Long menimpa kepalanya seperti batu besar.


Masih sungkan, gadis itu berbicara lagi. "Aku yang ceroboh. Maaf dan terimakasih sudah membantu-" perkataannya terpotong ketika yang dilihatnya kini tak ada siapapun, hanya dedaunan kering yang berguguran di depannya.


"Ah, lain kali aku akan berterimakasih dengan benar padanya."


**


Widih udh ada yang baru aje nih 😬

__ADS_1


Absennya dong bapak, ibu, mas, mbak, dek, mblo- eh hai jomblo wkwkwk


__ADS_2