
"Dia... Peliharaan Xin Chen?" Xiu Qiaofeng menyingkir sedikit dari bayangan tubuh Ye Long, membuat naga itu marah dan bersuara keras. Xiu Qiaofeng kembali ke posisinya semula, wajahnya menjadi semakin pucat detik itu juga.
"Nona, ku sarankan kau jangan melihat bulan di atas, kau akan terkena jurus dari Kitab Pengendali Roh."
"Pengendali Roh? Maksudmu..." nada bicara wanita itu bergetar, Xiu Juan tahu betul siapa yang dimaksud Wei Feng, pendekar yang akhir-akhir ini dicurigai sebagai pelaku pembunuhan massal penduduk desa oleh para Pilar Kekaisaran Shang.
Bagaimana tidak, terlalu banyak terjadi kasus serupa yang di mana pada suatu daerah penduduknya kehilangan kesadaran dan mati begitu saja. Tak jarang, tubuh mereka pun hilang dalam semalaman tanpa menyisakan jasad atau abu mayat. Peristiwa yang belakangan terjadi ini tentu telah menyebar di masyarakat, menghadirkan teror tersendiri dalam hati orang-orang.
"Ini terlalu berbahaya! Katakan pada Xin Chen untuk tidak mendekati lelaki itu!"
"Itu..." Wei Feng menelan ludah susah payah, kalau sudah begini dia pun sulit mengelak.
"Jangan katakan..." Xiu Qiaofeng tiba-tiba bersuara, wajah khawatir pun terlihat jelas di wajahnya. Tidak mungkin Xin Chen dapat menangani permasalahan yang cukup serius itu. Melihat seberapa paniknya Xiu Juan yang bahkan telah memasuki tahap pendekar agung, tentu saja seorang bergelar Pengendali Roh ini termasuk orang yang cukup kuat hingga ditakuti oleh Pilar Kekaisaran sepertinya.
"Anak itu..., Tidak perlu khawatir. Kau tidak boleh meremehkannya. Kau tahu, dia memiliki kesempatan untuk menang dari si Pengendali Roh."
"Tapi Pengendali Roh sudah cukup tak masuk akal jika kau sandingkan dengan anak kecil sepertinya! Sudahlah, kita harus bergegas sebelum terjadi sesuatu padanya!"
Mereka segera berlari menyusuri hutan belantara, melewati batang pepohonan hingga tiba di tempat di mana Xin Chen sedang bertarung melawan Zhang Ziyi, di belakangnya Rubah Petir menjaga tubuhnya dari serangan roh menggunakan siluman petir.
Meskipun posisi mereka terbilang cukup bagus, tapi dalam hal menyerang musuhnya juga tidak terlalu baik.
Semakin Xin Chen menghancurkan para roh yang menjadi perisai Zhang Ziyi maka kekuatannya juga turut ditarik oleh pria itu.
Xiu Juan menutup mulutnya tak sanggup, melihat tubuh Xin Chen sudah terluka sangat parah. Dia bahkan tak yakin dirinya masih bisa berdiri jika berada di posisi Xin Chen sekarang.
"Xin Chen! Kau harus berhenti sebelum darahmu habis!"
__ADS_1
Xin Chen sedikit menoleh ke belakang, memerhatikan Xiu Juan dan Xiu Qiaofeng sedang melihatnya bertarung bersama Zhang Ziyi. Xin Chen sedikit panik, takut mereka menyadari di tempat ini juga ada Rubah Petir yang sedang melindunginya dari serangan musuh.
Terlalu dialihkan dengan dua orang tersebut membuat Xin Chen tak sadar Zhang Ziyi sudah melepaskan serangan yang lebih kuat lagi dan membentur ke tulang pipinya sangat keras.
Xin Chen terhempas jauh, memuntahkan darah untuk yang kesekian kalinya.
Sementara Xiu Juan beralih pada Wei Feng, "Kau bilang tidak perlu mengkhawatirkannya...?"
Wei Feng tertawa getir, entah bagaimana dia harus menjelaskan situasi ini pada wanita tersebut. "I-itu... kurasa dia memang memiliki peluang untuk menang," tatap mata Wei Feng bergulir pada Xin Chen. Dia percaya anak itu sama seperti yang dipikirkannya.
Setiap kali serangan menghantam di tubuhnya, sekeras apapun Xin Chen akan terus bangkit. Tidak ada kekalahan sebelum darahnya benar-benar habis. Sama halnya ketika Xin Chen bertarung dengan saudara laki-lakinya, walaupun dipermalukan di hadapan banyak orang dia terus menantang Xin Zhan bertarung.
Tak peduli seberapa muak orang melihatnya. Tatap mata yang sedemikian berani itu mengingatkan Xiu Juan pada Ayahnya. Mungkin juga pria itu sedang bertarung melawan musuh yang lebih besar dari yang dia lihat sekarang.
Xin Chen memegang erat Pedang Baja Phoenix di tangannya, membuat darah dari jemarinya mengalir pada bilah pedang yang tajam. "Aku tidak boleh berhenti sebelum bisa menghancurkan pria ini."
"Nyonya Xiu, kalau kau menyuruhku mundur. Aku hanya akan mundur setelah membunuh laki-laki itu, sebelum dia menyentuh Lembah Kabut Putih dan menghancurkan rumahku..." Xin Chen menancapkan pedangnya di tanah, melepaskan sisa kekuatan sepenuhnya. Membuat langit mendadak bergemuruh kencang. Hal itu membuat Xiu Juan mundur secara tak sadar sembari melihat ke atas langit.
Di waktu itu pula Zhang Ziyi melindungi tubuhnya dengan tombak roh, dengan itu meskipun tak menghilangkan wujudnya karena menguras terlalu banyak tenaga, Zhang Ziyi yakin Xin Chen takkan sanggup membobol perisai tombak roh ini.
"Enyahlah!" Xin Chen berlari kencang dan melompat tinggi untuk menancapkan mata pedang di kepala Zhang Ziyi.
"Iblis Kecil itu, dia petarung yang agak gila..." Wei Feng terkejut tak main-main melihatnya.
Tombak roh yang melindungi tubuh Zhang Ziyi menusuk seluruh tubuh Xin Chen hingga ke jantung ketika dia melompat tinggi.
Tapi sayang, seluruh mata tombak itu sudah lebih dulu menikam, membuat mata Xiu Juan dan Xiu Qiaofeng melebar. Napas mereka tercekat melihat Xin Chen berada dalam situasi gawat.
__ADS_1
Bahkan Wei Feng sendiri sudah membeku di tempatnya berdiri, tak mengeluarkan sepatah katapun karena tenggorokannya tertahan. Mata pria itu masih terarah pada Xin Chen yang sama sekali tak bergerak.
"Kecambah Iblis, kau..."
Zhang Ziyi melebarkan senyumnya, memperlihatkan senyum penuh kemenangan. "Anak ini terlalu memaksakan diri, hahahhaah... Seharusnya aku tak perlu menggunakan kekuatanku seperti ini." Zhang Ziyi memegang kepalanya sembari menggeleng, dia mengangkat kepala agar bisa melihat Xiu Qiaofeng dan Xiu Juan.
"Hm? Sepertinya aku memiliki dua perempuan yang sama-sama cantik? Mau melamar menjadi penghiburku?"
Xiu Juan bersiap dalam posisi siap serang, dalam hal ini yang paling dikhawatirkan olehnya adalah Xiu Qiaofeng. Tentu saja gadis kecil itu tak bisa berbuat apa-apa jika Zhang Ziyi menyerang. Maka dari itu Xiu Juan berdiri di depannya, mewaspadai setiap pergerakan musuh agar bisa menyelamatkan Xiu Qiaofeng dan juga Xin Chen yang sedang sekarat.
"Dengar, saat aku berhasil membuka celah kau harus lari dan memberitahu hal ini pada pasukan elit di gerbang kota."
"A-aku mengerti," ucap Xiu Qiaofeng lirih. Heningnya suasana membuat mereka berdua bergerak hati-hati.
Xiu Juan masih mengintai Zhang Ziyi, tak lama kemudian dia berteriak kencang. "Sekarang!"
Xiu Qiaofeng berlari kencang agar bisa keluar dari hutan, tapi siapa sangka justru Zhang Ziyi sudah membaca pergerakan mereka. Tangan Pengendali Roh keluar dari lubang hitam dan mencengkram leher Xiu Qiaofeng dalam kecepatan tinggi.
Kepanikan ini membuat Wei Feng dan Rubah Petir pun turut cemas, Rubah Petir sebenarnya ingin menolong mereka akan tetapi membongkar statusnya sebagai Siluman Penguasa Bumi hanya akan menambah masalah. Dia lagi-lagi terpaksa menahan kekuatannya.
Apalagi jika nanti Zhang Ziyi berhasil kabur dan mengatakan pada orang-orang Kekaisaran Wei jika Rubah Petir sedang berkeliaran di Kekaisaran Shang. Jelas saja kepalanya akan diincar oleh tiga Kekaisaran sekaligus.
Pilihan berat ini mengharuskan Xiu Juan agar tak bergerak dari tempatnya jika tak ingin Xiu Qiaofeng terluka, dia memerhatikan Zhang Ziyi yang memberinya isyarat untuk mundur. "Jatuhkan pedangmu dan menyerahlah."
Dalam pertarungan siapapun yang menjatuhkan pedangnya dianggap telah kalah, hal ini membuat Xiu Juan terdiam kesal. Tidak mampu melindungi Xin Chen dan bahkan Qiaofeng sama sekali. Jika seandainya dia melawan pun, yang saat ini menjadi taruhannya adalah nyawa sepupunya sendiri. Xiu Juan tentu tak mau pulang dari misi kecil ini justru dia membuat putri dari Klan Xiu ini hanya tinggal nama.
***
__ADS_1