Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 167 - Tumbal


__ADS_3

"Tu-tunggu, tidak! Aku tidak mau ditumbalkan seperti ini-! Apa maksudnya ini, aku telah mengabdikan seluruh hidupku padamu, sepenuh hati! Tapi mengapa-"


"Kau telah bersumpah untuk menuruti segala perintahku. Ini semua demi pembalasan kematian anakmu."


Liu Fengying jatuh dari tempat tidur tersebut dan merangkak terseret-seret, namun si Pria bertopeng segera menarik kerahnya dan membawa Liu Fengying ke ruangan paling terdalam dari markas tersebut. Dinding-dinding tanah di dalamnya terasa bergetar akibat pertarungan yang sedang terjadi di luar sana.


Xin Xia menangis terisak-isak, dia takkan bisa mengharapkan kedatangan siapapun di sisinya. Kakak laki-lakinya sedang bertarung melawan musuh, Xin Zhan dan Lan An pasti sedang bertarung di luar sana untuk menyelamatkan para penduduk. Sementara Ren Yuan menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan, wanita itu akhir-akhir ini mulai mempelajari ilmu penyembuhan tak lama setelah tragedi yang menimpa Xin Zhan. Dia menanam tanaman herbal di sekitar pekarangan rumah, meracik obat penawar racun dan mengobati para pendekar yang terluka.


Dan lebih lagi mulut Xin Xia dibalut dengan sebuah kain putih, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Melihat Liu Fengying di hadapannya layaknya seorang budak yang sedang dipermainkan, dan dua orang misterius serta pria berjubah emas yang ditenun menggunakan kain sutra. Pastinya lelaki itu adalah bangsawan kelas tinggi.


"Bawa mereka ke tempat ritual."


*


Sebuah tempat luas yang dikelilingi oleh lilin-lilin kecil, disertai mantra-mantra kuno. Di tengah ruangan temaram tersebut terdapat sebuah tonggak dengan rantai yang siap mengikat orang di tengahnya. Tempat tersebut agak tinggi dan harus dinaiki oleh lima anak tangga.


Liu Fengying diseret ke depan tonggak itu, kedua tangannya ditarik ke belakang dan dirantai di kayu yang menahan tubuhnya agar tak melarikan diri. Lehernya ditahan oleh sebuah besi tebal yang tidak biasa. Semua rantai yang mengikatnya seolah mahkluk hidup yang sedang memerangkapnya di sarang mereka. Besi tebal di leher Liu Fengying akan memerah seperti logam yang sedang di tempa jika dia bergerak sedikit saja. Dan rantai yang mengikatnya akan semakin kuat membelenggunya dari segala sisi.

__ADS_1


"Apakah ritual ini benar-benar akan berhasil? Bagaimana jika nanti kau gagal?" Kaisar Yin perlahan membalikkan badannya ke samping, tepat berhadap-hadapan dengan si pria bertopeng.


"Ku jamin ini akan berhasil. Kau bisa memegang kata-kataku. Hanya saja ritual pemanggilan ini Akan memakan waktu cukup lama, setidaknya sampai dua hari ke depan. Selagi itu mungkin kendali di luar sana akan kacau balau, jika mereka berhasil mengalahkan pion-pion ku maka bisa kupastikan kita akan kalah."


"Untuk itu apakah harus aku mengirimkan bala bantuan?"


"Katakan saja begitu. Buat kekacauan ini terlihat sangat besar sehingga orang-orang dari Kekaisaran Wei takkan mengambil langkah jika suatu saat kedua pusaka itu jatuh ke tangan kita."


"Cih, tidak perlu sombong dulu. Kau tahu sekarang dengan siapa kau berbicara?"


Pria itu menyeringai di balik topengnya, meskipun Kaisar Yin tak melihat dan segera berbalik badan. Keluar dari markas untuk menjalankan rencana selanjutnya.


Lima pendeta dari Lembah Para Dewa memasuki markas, kelimanya adalah para pendeta terhebat dari Kekaisaran Qing dan dua di antaranya merupakan Patriark sekte. Rencana yang dipersiapkannya akan berjalan mulus dengan kehadiran mereka semua. Ditambah lagi, Xin Xia telah tak sadarkan diri setelah diberi obat tidur. Bisa dipastikan sampai ritual selesai gadis itu takkan terbangun, bahkan jika kulitnya disayat sekalipun.


Sementara Liu Fengying yang telah menyadari akhir hidupnya tak bisa berhenti meminta ampunan, meski tahu itu perbuatan yang sia-sia. Dia telah bertahan hidup sejauh ini, andai saja hari itu dia tidak menerima uluran tangan lelaki itu. Seandainya keinginannya untuk membalas dendam tidak membuatnya buta dan dibawa pada akhir mengenaskan seperti ini.


"Tenang saja, dengan ritual ini kau akan menjadi bagian dari para utusan dewa. Kau menyelamatkan manusia dari dunia penuh kebohongan ini. Aku akan menempatkan namamu pada posisi tertinggi, sebagai para penyelamat manusia."

__ADS_1


Dia melanjutkan sambil tertawa besar, "Para pahlawan munafik itu akan tahu akibatnya! Mereka hanya menyelamatkan orang-orang sok suci dan menelantarkan para manusia lainnya yang mereka anggap tidak berguna dan kau adalah pahlawan untuk mereka semua. Pahlawan kegelapan yang membawa keadilan, dan utusan dari dewa untuk menyelamatkan kami semua."


Liu Fengying bergetar, sebelum akhirnya dia merasakan kerongkongannya tercekat. Lima pendeta telah mengambil formasi mereka masing-masing. Dan tangan Xin Xia kini disayat dengan belati, darahnya mengalir dalam sebuah cawan putih.


Si Pria Topeng Gagak membawa cawan berisi darah itu pada Liu Fengying, "Minumlah ini semua. Ini adalah obat untuk semua rasa kesedihan di hatimu."


Liu Fengying membuka mulutnya paksa, dia tak tahu apa yang membuatnya melakukan demikian. Baru beberapa detik setelah tetesan darah terakhir diminumnya, jantungnya terasa ingin meledak di dalam sana. Matanya melotot seakan ingin menggelinding di tanah disertai dengan tulang-tulangnya yang berbunyi gemeretak. Liu Fengying menjerit sejadi-jadinya, dia menangis. Terlihat sangat menyedihkan, namun pemandangan itu hanya membuat orang di depannya tertawa semakin lebar.


"Hahahaha sangat-sangat lucu, bahkan manusia yang terkenal jahat sepertimu memiliki wajah menyedihkan seperti itu!" Dia memegang perutnya, mempermainkan emosi manusia adalah hal paling menyenangkan. Rasa kehilangan dan putus asa yang membuat Liu Fengying jatuh terperosok begitu dalam, dia membutuhkan seseorang untuk membalaskan amarah tersebut.


Sementara di luar sana banyak sekali manusia-manusia yang jauh lebih jahat yang ingin memanfaatkan rasa kehilangan tersebut untuk kehancuran yang bahkan tak pernah diinginkannya terjadi. Awalnya Liu Fengying hanya ingin membalaskan kematian anaknya pada Xin Fai, namun sesuatu yang direncanakan orang tersebut jauh lebih besar dari apa yang dia mau.


Kehancuran seluruh umat manusia dan sebuah tempat di mana dirinya memiliki kendali penuh atas kehidupan orang-orang. Saat melihatnya, Liu Fengying sadar dia sedang melihat dirinya sendiri. Dia berusaha memberitahu namun tampaknya omongannya tak mengubah apapun.


Seandainya saat ini Liu Fengying dapat melepaskan diri maka dia ingin lari dan memberitahukan pada Kaisar Yin, bahwa lelaki yang dianggapnya sebagai Tuan itu tidak berada di sisi mereka. Dia akan menghancurkan ketiga Kekaisaran ini dan menjadi penguasa di atas penguasa.


Namun semuanya terlambat, Liu Fengying tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri lagi. Hanya air mata yang masih menitik di kedua matanya, sepintas lalu dia melihat bayangan sosok anak muda tersenyum sangat cerah. Dia adalah putranya, dan entah mengapa saat pertarungan dengan Xin Chen tadi, sedikit rasa rindunya terobati.

__ADS_1


"Jika dia masih hidup, mungkin kalian akan menjadi teman yang baik "


Segel di sekitar Liu Fengying mengeluarkan cahaya terang, silau mengisi setiap sudut ruangan. Hingga detik itu tiba, Liu Fengying telah kehilangan nyawanya.


__ADS_2