
Matahari mulai tenggelam, pencarian masih terus berlanjut tetapi mereka masih belum menemukan petunjuk tentang keberadaan Ren Yuan. Xin Zhan menggeram beberapa kali mengingat barusan dirinya mengincar musuh yang salah. Nyaris saja dia terlihat masalah dengan angkatan militer yang mirip dengan pelaku yang membawa Ren Yuan.
Napas Xin Zhan tersengal-sengal, dia menarik napas dalam-dalam sambil melihat kota yang dipenuhi oleh para wanita dan anak-anak. Keduanya menjadi pusat perhatian di kota itu, terlebih lagi keduanya masih begitu muda.
"Ini gawat."
Xin Chen tidak tahu ke mana mereka harus pergi karena Xin Zhan mengatakan dia kehilangan jejak setelah musuh melewati perbatasan. Untuk sementara, Xin Zhan beristirahat di depan sebuah rumah yang kosong.
"Bagaimana kita bisa menemukan satu orang di Kekaisaran seluas ini? Andai saja aku melihat wajah mereka tadi ... Mereka semua menggunakan topeng gagak, tidak ada ciri-ciri selain jubah hitam dan topeng itu."
"Tenanglah dulu." Xin Chen menggumam kecil.
"Memang kau sendiri bisa tenang?"
Terdengar bunyi dari keramaian pasar tak jauh dari tempat mereka duduk. Langit di Kekaisaran Qing yang tampak kusam mulai menunjukkan tanda-tanda malam akan tiba. Xin Zhan duduk bermeditasi, memulihkan tubuhnya agar bisa melanjutkan pencarian selanjutnya.
"Kenapa mereka membawa ibu juga? Dan keadaan ayah sekarang, apa mereka tidak berhasil merebut dua pedang itu dari ayah?"
"Bisa jadi," tanggap Xin Chen. "Mereka tidak akan pernah mendapatkan benda itu. Kemungkinan terburuk saat ini mereka ingin menggunakan ibu agar ayah memberikan dua pusaka itu."
"Apa? Kau baru bilang sekarang?" Xin Zhan berdiri dengan panik. "Kau tahu ibu akan dibunuh oleh mereka dan kau hanya diam di sini?! Kau ini anaknya atau bukan?!"
"Kau sendiri? Padahal ibu bersamamu tapi kenapa mereka bisa menculiknya? Kau ini Pilar Pertama sungguhan atau hanya nama yang disematkan karena paksaan?"
Xin Zhan menarik kerah Xin Chen dengan mata yang kalap. Jika tidak ingat Xin Chen adalah adiknya, Xin Zhan pasti akan menghabisinya sekarang juga.
"Minta maaf sekarang atau aku tidak akan mengampunimu, Chen."
Xin Chen menepis tangan kakaknya, dia juga sama kesalnya karena kata-kata Xin Zhan.
Dua orang keras kepala itu sama-sama tidak mau mengalah. Xin Zhan kembali duduk, wajahnya masih sangat marah dan enggan melihat adiknya lagi. Beberapa menit berlalu begitu saja hingga akhirnya Xin Chen mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Maaf."
Xin Zhan menoleh sesaat, lalu tertawa kecil. "Masih tidak berubah, ya? Ujung-ujungnya juga kau yang mengalah?"
"Kalau bukan aku yang minta maaf mungkin selamanya kita tidak akan bicara," ketus Xin Chen. Xin Zhan memasang wajah penuh kemenangan.
"Menurut dengan kakakmu ini. Semakin hari semakin keras juga kepalamu. Mungkin di dalamnya bukan lagi otak melainkan batu."
"Berhenti mengejekku."
Xin Chen tidak peduli lagi apa yang dikatakan kakaknya, dia mulai menutup telinga malas. Satu jam kemudian mereka kehabisan ide, Xin Zhan mengatakan mereka harus berpencar agar pencarian menjadi lebih cepat tetapi Xin Chen sama sekali tidak menyetujuinya.
Karena Xin Zhan tidak memiliki identitas, dia pasti akan langsung ditangkap. Xin Chen sudah membayangkan betapa repotnya menyelamatkan kakaknya itu. Menghadapi prajurit Kekaisaran Qing memang menyebalkan. Selain memiliki senjata, jumlah mereka juga banyak.
Tengah malam keduanya berjalan di sepanjang kota tempat di mana Xin Chen dan Shui datang sebelumnya. Di sana terlihat seorang anak kecil berjalan sendirian. Dia sepertinya baru saja pulang dari rumah majikannya.
Xin Chen seperti mengenali bocah itu. Anak kecil yang sebelumnya pernah dikejar oleh pembunuh dan nyaris tewas di sebuah gang. Kehidupannya tampak membaik, tapi kesedihan di wajahnya terlihat kentara.
Sontak saja Xin Chen mengejar, dia menyerang balik pembunuh tersebut dan menghabisinya di dalam gang. Xin Chen keluar dari sana dengan tangan bersimbah darah, mendapati Xin Zhan tengah melindunginya dengan mengacungkan pedang.
"Langsung kau bunuh?"
"Lalu?"
Xin Zhan seperti ingin memarahi tapi dia menahannya sebab anak kecil yang berada di belakangnya tengah ketakutan. Saat berbalik badan, dia mendapati wajah anak itu tengah berbinar-binar menatap mereka berdua. Dia tidak bicara dan hanya menunjukkan semangatnya lewat gerakan tubuh.
"Lain kali berhati-hati lah."
"Sepertinya dia diincar. Aku tidak tahu apa yang membuatnya dikejar-kejar oleh para pembunuh."
Anak kecil itu mengerti apa yang Xin Chen katakan. Dia berpikir sejenak lalu menggerakkan tangannya, berbicara lewat bahasa isyarat. Untungnya Xin Zhan mengerti apa yang dikatakannya dan langsung menyampaikannya pada Xin Chen.
__ADS_1
"Kau pernah menolong anak ini sebelumnya?"
"Ya. Sepertinya berbahaya jika kita terus di sini. Ikut kami."
Dengan senang hati dia mengikuti kedua pemuda itu. Mereka menginap di sebuah penginapan yang seperti akan rubuh. Tidak ada pilihan lain selain rumah penginapan itu. Setelah bertanya mereka tahu bocah itu bisa membaca dan menulis, Xin Chen meminta beberapa helai kertas dan alat tulis pada pemilik penginapan. Mereka memasuki kamar yang sangat temaram.
Xin Zhan berbisik. "Kenapa kau membawa anak ini? Kau tahu kita harus fokus dengan pencarian."
"Di luar terlalu berbahaya. Beberapa orang sudah mengintai kita, entah pembunuh atau prajurit Kekaisaran. Kau ingat, kita adalah penyusup. Sekali ketahuan hukuman mati yang akan didapatkan."
Xin Zhan belum pernah mempelajari struktur Kekaisaran Qing dan peraturan ketat lainnya yang harus ditaati. Kekaisaran ini memang jauh berbeda dari Kekaisaran Shang yang damai dan tentram.
"Namamu siapa?"
Xin Zhan bertanya pada anak kecil itu, terlihat seperti sedang mengintrogasi. Pembawaannya yang tegas dan keras mulai muncul, anak kecil itu sampai merinding dibuatnya.
Dia memperkenalkan diri, namanya sering disebut Zenzen. Nama yang sangat aneh ditelinga mereka. Xin Chen berganti bertanya tentang pembunuh yang terus mengincarnya. Meskipun hanya anak yang bisu, dia diincar oleh banyak pembunuh sekaligus. Tentu saja Xin Chen tidak bisa mengabaikannya.
Zenzen menjelaskan bahwa ayah ibunya telah dibunuh karena melakukan kecurangan. Ayahnya seorang prajurit yang mengundurkan diri dari kemiliteran. Dia mengambil beberapa barang berharga berupa senjata dan pelindung kepala yang harganya terbilang mahal.
Zenzen tidak tahu apa yang membuat ayahnya dikecam hingga anaknya ikut dibunuh. Yang jelas mereka terus menanyakan tentang di mana pelindung kepala dan juga senjata yang ayahnya curi. Zenzen tidak tahu menahu soal itu semua. Beberapa kali Xin Chen bertanya, dia hanya menggeleng.
Xin Zhan mengeluarkan pendapatnya. "Hanya karena pelindung kepala? Memang semahal apa barang itu?"
Zenzen kembali menulis.
"Mereka mengatakan pelindung kepala itu dibuat dari batu langka berwarna hitam yang tak mudah ditembus oleh senjata apa pun. Bentuknya sangat aneh. Seperti rupa binatang."
Xin Chen berujar cepat. "Apakah bentuknya memiliki paruh? Atau bentuk kepala burung?"
**
__ADS_1