
Ratu Iblis belum sempat merespon sebelum cahaya yang menyerupai api biru menyelubungi tubuhnya. Seluruh tubuh wanita itu terjebak di dalam dan dalam sepersekian detik sesudahnya wanita itu menjerit hebat. Api tersebut menyedot kekuatannya, tak membiarkan dia lari dan terus menggerogoti layaknya belatung pemakan bangkai.
Ketegangan itu seolah-olah membisukan siapa pun yang berdiri di sana. Bunga Api biru membunuh, menyerap dan menghidupkan kembali apa pun yang dikehendakinya. Seperti halnya nyawa Ye Long, kekuatan itu semakin menguat saat menerima kekuatan besar Ratu Iblis. Wanita itu teriak sedikit putus asa lalu membanting kan tubuhnya sendiri ke belakang. Membuat tubuhnya terlepas dari jeratan Api Keabadian, dia ambruk tak lama setelahnya masih menatap Xin Chen tak percaya.
"Chen'er ...." luruh air mata Ren Yuan saat melihat anaknya kembali berdiri, agak sempoyongan menuju Ratu Iblis. Dia hendak beranjak menghentikannya sebelum sebuah suara menghentikan.
"Biar sampai sekarat, atau harus menanggung kematian, takkan kubiarkan kau hidup di dunia ini. Jangan halangi aku untuk membunuh sesuatu yang menghancurkan kedamaian di dunia ini."
Pedang Api menancap di perut Ratu Iblis yang telah kehilangan banyak kekuatannya, wanita itu memuntahkan darah sangat banyak. Selain menyerap kekuatannya, Xin Chen justru mengembalikan kutukan yang sebelumnya sempat dia berikan ke tubuh Ratu Iblis.
"Matilah dengan tenang."
"Tidak! TIDAK AKAN!" Kembali jeritan terdengar melengking dari mulut wanita itu, dia tampak menderita. Dengan segala kehilangan dan kekacauan di dalam hatinya. Sejurus pandang, para pendekar di tempat tersebut kembali bergabung membentuk barisan. Mereka menghadapi Ratu Iblis yang hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Wanita itu terus menangis, memekik dan memaki-maki semua hal di muka bumi ini. Tak terkecuali untuk Xin Chen yang sama sekali telah membuat kesenangannya hancur. Apa yang dikatakannya benar, dia terlalu menderita terhadap penyesalan dan lukanya di masa lalu. Tak ada yang berada di sisinya kecuali kesepian, dan wanita itu, ialah bentuk dari kejahatan yang lahir dari kejahatan pula. Dan mereka akan terus bersambung jika tak segera dihentikan.
"Aku belum pernah berada di posisimu. Tak ada yang bisa kukatakan. Jika kau ingin menebus semua kesalahanmu, ku pikir orang-orang yang mencoba melindungimu hanya ingin kau bahagia. Bahkan tanpa keberadaan mereka."
Ratu Iblis dikurung, meskipun tahu mahkluk ganas itu bisa saja menciptakan apa pun semaunya, Xin Chen tak berniat langsung membunuh. Dia dapat merasakan penderitaan perempuan malang itu, dan tak bisa membayangkan jika yang berdiri di sana adalah Ibunya.
__ADS_1
"Tolong berjanjilah untuk tidak membunuh, kecuali jika untuk menegakkan keadilan. Tidak sebagai pembalasan dendam."
Kakinya terseok-seok agar bisa menjangkau Ratu Iblis, bebatuan kecil berbunyi gemeretak saat kakinya menapak di tanah. Dia kehilangan lebih dari setengah kekuatan roh. Jika sekarang Ratu Iblis menyerangnya lagi, kemungkinan besar Xin Chen akan mati.
Namun di tengah-tengah itu musuh lainnya datang, seorang wanita dengan jubah hitam dan topeng gagak muncul begitu saja dan menarik tubuh Ratu Iblis. Hanya butuh waktu beberapa detik tangan lihainya mengeluarkan sebuah kertas dan menempelkan Mantra Pengendali di dalam tubuh iblis itu.
Ratu Iblis mengamuk tak kira-kira, jeritannya menggema ke segala penjuru. Liar dan buas tampak di sepasang bola matanya yang dilalap api kemarahan. Ratu Iblis kembali bangkit, dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Chen, untuk kali ini dengarkan apa kata ku. Jangan ikut campur lagi, biarlah aku yang mengurusnya. Sebagai ayahmu dan juga Pilar Kekaisaran di tanah ini," titahnya tegas. Xin Fai menjeda omongannya sebentar sebelum menarik napas dan melanjutkan, "Tolong jaga ibumu dan Xin Zhan, bahkan jika kau harus mempertaruhkan nyawa."
Xin Chen tak terima, "Justru saat ini Ayah harusnya sadar nyawa siapa yang lebih terancam-!"
"Jangan suruh aku mendengarmu jika kau saja enggan mendengarku!" Lagi-lagi Xin Chen membangkangi perintahnya. Xin Fai bahkan selalu bertanya-tanya bagaimana cara memenangkan hati anaknya yang satu ini. Dia selalu mengeraskan kepala, jauh lebih batu daripada dirinya di masa kecil dulu. Dan dibanding itu semua, Xin Chen yang kini tak berdaya merasa semakin terpuruk dan meluapkan amarahnya melalui kata-kata.
"Dari awal aku sudah bilang, aku akan membunuhnya!"
"Kau sudah mengalahkan Han Wu, Han Zilong dan Senior Qiang Jun dan lihatlah sekarang kau masih belum pyas. Lalu apa lagi?! Kau ingin terus menantang mautmu?!" Kali ini nada bicara Xin Fai meninggi, "Yang kau lakukan saat ini hanyalah kesombongan! Xin Chen, kau bahkan tak tahu apa-apa. Kau tidak tahu batas kemampuanmu dan menjalani segala cara agar bisa meraihnya. Mana keinginanmu untuk benar-benar memastikan semua nyawa terselamatkan? Atau perdamaian di tanah kita? Atau untuk mencegah tangisan para anak kecil yang kehilangan ayah-ibunya usai perang?!"
Xin Fai bahkan tidak menarik napas untuk mengatakannya penuh emosi, dia perlu membenarkan pikiran Xin Chen tapi sayangnya waktu mereka tidak banyak. Andai mereka sedang di rumah dan bersantai-santai maka hal pertama yang ingin Xin Fai benarkan dalam pikiran anaknya adalah ilmu berperang yang sebenarnya. Bukan cara membunuh penuh ambisi dan melempar semua rekannya, berharap tak ada satupun yang terluka jika dia bisa menanggung itu semua sendirian.
__ADS_1
Xin Chen terdiam dengan bentakan itu, baru menyadari semua perbuatannya. Dia haus akan kekuatan, agar bisa melindungi semua orang. Dan benar adanya semua itu hanyalah pemikiran labilnya saja, dia tetap tak bisa mengandalkan dirinya sendiri.
"Aku minta maaf ...."
"Jangan pernah menyebutku Ayahmu lagi jika setelah ini kau tetap tak mendengarku."
Kata-kata itu ibarat belati yang menusuk tepat di jantungnya. Tidak berdarah, tapi sakitnya bukan main-main. Xin Chen mengangkat kepalanya, ingin sekali berbicara tapi semua itu tertahan di kerongkongan.
Xin Chen tahu betul dirinya takkan mampu mengimbangi Ratu Iblis, terlebih lagi Naga Kegelapan di waktu yang bersamaan. Xin Fai benar, dia akan mati jika nekad. Ratu Iblis bukanlah manusia, dia memiliki segala kekuatan yang bisa memecahkan ketidakmungkinan. Seperti halnya tubuh roh yang abadi. Dan dengan alasan itu, Xin Chen begitu mengkhawatirkan ayahnya.
Ren Yuan berusaha memeluk putra keduanya tapi hanya angin yang dapat disentuhnya. Mata wanita itu berkaca-kaca, "Chen'er... Apa yang terjadi dengan tubuhmu? Kenapa aku tidak bisa memelukmu?" Napasnya berhenti kaget, Ren Yuan yakin sebelumnya dia dapat memeluk tubuh itu dengan hangat. Tapi sekarang, bahkan mencium bau tubuh anaknya saja sudah tidak bisa lagi.
"Ayah benar, aku terlalu menginginkan kekuatan agar bisa melakukan apa yang kuanggap tanggungjawabku. Padahal tidak ada hak aku di dalamnya." Xin Chen tersenyum getir, mengingat ucapan Rubah Petir. Hanya dirinyalah yang mampu menghentikan kekacauan itu semua. Tapi segalanya terasa semu, pun dengan angan-angan bahwa kemenangan ada di tangan mereka.
"Apa maksudmu? Xin Chen, beritahu ibu."
"Aku ..."
"Ibu tidak akan memarahimu."
__ADS_1
"Aku berbuat segala hal yang nekat, demi bisa menghadapi Naga Kegelapan dan sekutunya. Semuanya di luar perkiraan Rubah Petir, mereka sudah lebih dulu mempersiapkan diri. Hanya itu."