Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 319 - Barisan


__ADS_3

Wanita paruh baya berteriak kencang saat putra stau-satunya ditarik oleh pemuda desa lainnya, saat ini yang terpenting bagi mereka adalah memastikan para wanita dan anak-anak selamat dari pembakaran. Namun wanita itu enggan memberikan putra tercintanya yang bar memasuki usia ima belas tahun untuk ikut berperang dengan alasan anaknya sakit-sakitan.


Anak laki-lakinya pun mennagis di dalam pelukan sang ibu. Ketakutan saat jemari kasar mencoba meraihnya dari pelukan ibunya. Mereka yang bersedia untuk ikut berperang juga mencoa menarik anak tersebut.


"Kita sudah tak mempunyai pilihan lain! Kami juga berkorban demi keselamatan kelurga kalian. Jangan egois seperti itu."


"Tidak, tidak akan ku biarkan kalian membawa putraku. Tidak akan! Ambil saja nyawaku, jangan dirinya!"


Di situasi serba salah itu tak ada yang mau meahami perasaan wanita itu. Karena mereka juga merasakan hal yang sama. Menyerahkan salah satu anggota keluarga untuk ikut berperang tanpa jaminan akan kembi. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir mereka sudha kehilngan cukup banyak. Tangisan wanta itu menggelegar dan memenuhi seisi desa, para wanita berusaha menenangkan. Namun malah membuat wanita itu semakin marah hingga melemparkan apa pun di sekitarnya.


"Aku sudah kehilangan suamiku! Aku tak ingin kehilangan anakku lagi. Ku mohon ... Tolonglah, kepala desa. Jangan mengambil satu-satunya yang ku miliki ..." Dia tak snggup melepas putranya itu. Anaknya juga belum bisa memegang senjata selayaknya prajurit. Namun karena kaisar yang berkehendak maka mereka tak mempunyai pilihan lain selain ikut berperang. Walaupun hanya akan mati sia-sia bahkan sebelum menginjakkan kaki di medan pertempuran.


Kekerasan kepala wanita itu ternyata mengundang kemarahan penduduk lainnya. Mereka merasa tak adil jika wanita itu tak mau menyerahkan putranya. Kepala desa berusaha membujuknya demi menenangkan hati penduduk lain, tetapi pembangkangan yyang didapatnya. Kesal, akhirnya kepala desa sendiri yang menarik anak tersebut dari dekapan ibunya.


"He-hentikan itu ... Jangan sakiti anakku ..." Seorang lainnya muncul, langkah kakinya pelan dan bergetar, mungkin jika ada seseorang yang iseng menubruknya laki-laki itu pasti akan jatuh terjungkang. Usianya bisa dikatakan hampir mencapai enam puluh tahun dan kondisi tubuhnya lemah selayaknya dedaunan kering. Dia berjalan bersusah payah untuk membelah kerumunan dan maju ke tengah-tengah, bergabung dengan delapan belas orang lainnya.


"De-dengan begini apakah ... cukup?" Dia melihat kanan kiri dengan kikuk, tak juga menghitung dengan cermat karena mata rabunnya tak dapat melihat dengan jelas. Kedatangan kakek tua itu menambah kerutan di dahi kepala desa yang bertambah cemas. Dia tersenyum pahit. "Belum, Kakek Zu. Kita masih membutuhkan satu orang lagi ..."


Kepala desa menoleh ke anak laki-laki itu sekali lagi, anak itu menunduk takut. Dia juga merasa bertanggung jawab atas desanya, namun sang ibu melarang dirinya untuk pergi berperang. Saat sang anak ingin berdiri, ibunya segera mencegah dan memeluknya semakin erat.

__ADS_1


"Tolong bebaskan saja dia. Putraku tak bisa berbuat apa-apa selain memasak dan menjaga ibunya, kumohon dengarkan permintaanku sekali saja..." suaranya melunak, seiringan dengan air matanya ang mulai jatuh membasahi pundak anaknya. "


"Jika kita mempunyai pilihan lain, aku tak akan memaksamu begini, nyonya." Kepala desa sampai lelah untuk sekedar menjawab waniita tersebut, dia menoleh ke arah yang lainnya seolah-olah meminta pendapat.


"Kalau kepala desa tak bisa memaksanya maka dengan senang hati akan aku lakukn. Kami semua juga berkorban di sini! Cepat serahkan anakmu dan kami akan segera berangkat!"


Dua pria dewasa serempak datang dan mencoba merebut anak laki-laki tersebut. Situasi kembali pecah oleh teriakan wanita tersebut, anaknya berhasil direbut dan kini berada di tangan satu dari mereka. Menatap wajah ibunya dengan pias. Tak ada yang bisa dilakukannya, dia pun tak ingin berontak seperti ibunya.


"Dengar! Dengarkan aku! Anak itu sedang sekarat, ku mohon ... kumonon lihat ini sebentar saja-" Wanita itu bersujud dengan mata berlinangan air mata, dia merangkak mendekati anaknya. Tiga orang dewasa itu cukup kaget tetapi hanya membiarkan wanita tersebut mengangkat celana anaknya hingga ke atas lutut. Terdapat sebuah tato berupa mantra kutukan yang bersemayam di sana. Ketiga laki-laki dewasa sesegera mungkin menyingkir karena takut trkena kutukan yang sama. Tak menyangka bahwa si anak kecil benar-benar sakit seperti yang ibunya katakan.


"Dia terkena kutukan itu semenjak satu bulan yang lalu setelah masuk ke hutan. Mungkin masih bisa diobati tapi membutuhkan waktu yang lama. Jika dia ikut bersama kalian, aku takut dia akan mati sebelum sampai ke pusat. Apalagi kudengar mereka akan diseleksi lagi sebelum diangkat menjadi prajurit ..."


"Apa aku boleh ikut berperang?"


Suara yang tiba-tiba memecah keheningan itu membuat kepala desa tertegun, dia mengangkat wajah segera demi bisa melihat siapa yang berbicara. Seluruh tatap mata mengarah ke satu titik di mana tersisa satu orang lagi pemuda di antara mereka. Hanya mengenakan baju hitam jubah dengan wajah ditutupi oleh topeng merah yang mengerikan.


Tanpa banyak bicara kepala desa segera mendekat, membuat kerumunan terpecah. Mereka kini saling berhadapan, tak begitu lama sang kepala desa berbicara.


"Boleh buka topengmu?"

__ADS_1


Xin Chen membukanya. Membiarkan orang lain melihat wajahnya. Gadis-gadis di desa itu menutup mulutnya malu-malu, sambil berbisik satu sama lain.


"Siapa namamu?"


"Aku hanya pengembara biasa."


"Kau merahasiakan identitasmu?"


Xin Chen hanya mengangguk sebgai jawaban, sang kepala desa menggaruk kepala bingung. Dia tak tahu apakah boleh meibatkan orang luar dalam urusan lain. Namun waktu bergerak begitu cepat sehiingga mereka harus segera menyelesaikan urusan ini dan berangkat ke tempat di mana jenderal tadi berada.


"Kenapa kau ingin berperang?"


"Aku hanya ingin menguji kemampuanku."


Alasan yang begitu sederhana tapi berarti banyak bagi kepala desa, wajahnya yang sebelumnya berkert mulai menampakkan tanda-tanda penuh harapan. "Kau pasti pendekar yang kuat. Apalagi kau memiliki pedang di tanganmu ... Kau pastinya kasihan melihat keadaan kami dan berniat menolong. Benarkah begitu?"


Mereka hanya bisa kagum saat Xin Chen mengangguk, bahkan orang asing saja mau membantu mereka. Tanpa mencurigainya sedikit pun sang kepala desa segera mengiyakan hingga jumlah mereka genap 20 orang.


Kepala desa sempat mengatakan pada Xin Chen jika nanti ada yang menanyakan identitasnya, dia hrus menggunakan nama klan Zu dan merupakan anak dari Zu Linlin. Wanita yang tadi menangis saat anaknya diambil. Mereka segera dikumpulkan dan dibawa menggunakan kendaraan berkuda. Cukup untuk menampung sekitar sepuluh orang dalam satu tempat. Wanita tadi beserta anaknya datang menemui Xin Chen dan mengatakan terima kasih dengan tulus. Bahkan ketika kereta kuda hendak digerakkan wanita tersebut masih terus mengucapkan terima kasihnya.

__ADS_1


"Berangkat!"


__ADS_2