Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 91 - Penipu Ulung


__ADS_3

"Lalu? Memangnya kau memiliki solusi lain?" Lin Lin menjawab tak senang, setengah jam waktunya telah habis dipergunakan untuk berdebat dengan pria ini. Dia berbicara seolah-olah dirinya ditimpa bencana paling mengerikan hingga membuat masalah ini menjadi semakin membesar.


Lihat saja, orang-orang di sekitar jadi heboh sendiri bahkan beberapa dari mereka bertaruh untuk menebak pelaku penculikan ini. Beberapa memilih gadis penjaga kedai arak sedangkan yang paling banyak memilih sang pengemis.


Setelah sedikit mempertimbangkan, Xin Chen menggaruk telinganya gusar. Bingung sendiri dengan apa yang akan diucapkannya. "Aku merasa pengemis ini tak mencuri uangmu."


"Hah? Atas alasan apa? Bukannya semuanya sudah jelas? Jika ingin orang kumal ini tetap hidup sebaiknya kalian mempersiapkan uang ganti rugi!" ancamnya sembari mengangkat kapak di kedua tangannya. Pria itu memiliki kekuatan untuk mengubah tenaga dalamnya menjadi energi api. Hal itulah yang sedari tadi menyebabkan rumah-rumah terbakar atas perbuatannya.


"Mulai lagi..." Lin Lin bersiap untuk bertarung sembari menarik napasnya berat.


"Pertanyaan ku masih tetap sama, bagaimana bisa pengemis ini masuk ke kedai arak? Atas alasan apa? Jika jawabanmu sesuai dengan kenyataannya aku akan membayar ganti ruginya tiga kali lipat. Tapi jika kau berbohong, silakan angkat kakimu dari desa ini."


Kedua kapak di tangannya kembali turun ke bawah, lelaki itu memiringkan senyum licik.


"Begini, awalnya aku kasihan dengan pengemis itu, dia terlihat kelaparan di depan kedai jadi aku memintanya masuk ke dalam dan memberinya sedikit makanan. Tahu-tahu uangku dicuri. Kau bayangkan bagaimana kesalnya diriku dan bayangkan kau berada di posisi yang sama."


Pengemis tua tersebut tampaknya ingin sekali menjawab, akan tetapi napasnya tersengal-sengal hingga suaranya tak terdengar jelas.


Kini Xin Chen mengerti sesuatu, dia hampir saja tertawa mendengar pembelaan tersebut.


"Alasan yang cukup bagus. Aku setuju."


Semua pihak terdiam, tampaknya memang Xin Chen membela pria tersebut. Sang pengemis mencengkram tanah dalam genggamannya. Keringat membasahi dahinya perlahan.


"Kau akhirnya mengerti juga. Walaupun umurmu masih muda ku akui kau memiliki jalan pikiran yang cerdas."

__ADS_1


"Ya... Terserah mau kau anggap cerdas atau apa. Tapi aku setuju hanya pada satu hal saja."


Kedua alis pria itu saling menyatu.


"Kau pandai memainkan peranmu sebagai korban. Hahaha aku cukup terhibur melihatnya."


"A-apa maksudmu!?" Dia lanjut berbicara. "Jangan mencoba membalikkan fakta!"


"Kau bilang tadi aku cerdas bukan? Begini saja. Aku tahu kau memang memiliki sifat mudah emosi sehingga beberapa orang menganggap hawa pembunuh yang kau lepaskan memang karena kau sedang marah atas kehilangan uangmu."


Xin Chen kini berganti melihat si pengemis. "Tapi membuat orang biasa apalagi pengemis tak berdaya sepertinya tertekan dengan hawa yang sengaja kau lepaskan untuknya hingga tak bisa berbicara terlalu berlebihan, bukan? Sejak awal dia bukannya tak ingin membela diri. Hanya saja kau menekannya agar tak bisa berbuat apa-apa dengan kekuatanmu."


Lin Lin kini memiliki jawaban atas pertanyaan kecil yang sempat singgah di benaknya. Walaupun hanya sekilas tapi gadis itu tak mempermasalahkan hingga Xin Chen mengungkitnya.


Sebenarnya di sanalah letak kejanggalannya sedari tadi dan beberapa orang tak sadar karena menganggap hawa yang begitu kuat itu memang sengaja dikeluarkan untuk menunjukkan kemarahannya.


"Kau tidak bisa menuduhku seperti itu! Tidak mungkin aku mencuri uangku sendiri dan atas apa?! Kau-"


"Alasannya sudah jelas. Sejak awal sadar tak sadar kau tak pernah meminta uang secara langsung dari si pengemis karena tahu dia memang sama sekali tak memiliki uang dan justru mengancam orang lain untuk ganti rugi agar nyawa pengemis itu selamat. Dalam artian lain, kau menggunakan nyawa pengemis itu untuk mendapatkan uang. Hanya saja caramu sedikit berbeda. Bukan begitu?"


Xin Chen melebarkan bibirnya setelah menang debat dengan lelaki ini, lawan bicaranya itu terbata-bata mencari jawaban untuk mengelak. Suasana gaduh di sekitarnya membuat lelaki itu tak sempat berpikir jernih. Dia menggeram kesal dan kembali mengangkat kedua kapaknya.


"Sudah ku bilang bukan aku!" Laju serangan kapak membelah udara di depan wajah Xin Chen, dia mundur beberapa langkah dengan Lin Lin yang langsung maju dan meladeni pria tersebut.


Perkelahian tak bisa terelakkan lagi, Lin Lin harus bertarung melawan pendekar tersebut. Beberapa orang tak percaya melihat kelakuan lelaki tersebut, dia lihai menipu banyak orang sejak tadi.

__ADS_1


Sementara Xin Chen membantu sang pengemis berdiri dan membawanya ke tempat yang agak jauh agar tak terkena imbas serangan.


"Kau melihat di mana orang itu menyimpan uangnya? Ini satu-satunya cara untuk membantumu lepas dari masalah ini."


"Te-terima kasih sebelumnya... Kau mau mempercayai pengemis kumuh sepertiku Tuan Muda Xin. Aku sangat senang..."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau kau merasa tidak bersalah keluarkan suaramu. Orang-orang lemah ada bukan untuk ditindas. Ingat itu." Xin Chen membantu meringankan nyeri di perut pengemis itu karena ditendang sangat keras tadi dan langsung mendapatkan penolakan.


"Aku baik-baik saja. Dan mengenai uang laki-laki itu... Sebelumnya aku melihatnya di atas meja dan mungkin sudah hilang dari sana."


"Kalau begitu ikut aku."


Xin Chen dan pengemis tua beranjak cepat ke arah kedai arak, tentu saja gadis dari kedai arak turut membantu mereka mencarinya agar permasalahan ini tak berlarut-larut lagi.


Tiba di kedai arak memang tidak ada koin emas yang dimaksud, Xin Chen mendengus pelan. Pria itu tampaknya memang sudah sangat ahli dalam menipu. Melihat bagaimana dia bertindak dan menggiring opini orang-orang untuk menyalahkan pengemis tua tadi, Xin Chen yakin mengatasi permasalahan ini takkan semudah itu.


"Aku sudah mencarinya ke semua tempat Tuan Muda Xin, dia memang tidak menyembunyikannya di sini.." gadis kedai arak merasa bersalah. Dia menunduk kecil.


"Aku takut jika permasalahan ini semakin melebar ibuku juga akan terkena imbasnya " dia berucap kemudian, pasalnya pemilik kedai arak ini adalah ibunya. Mengingat pengemis tua sudah dipastikan bukan pelakunya kini dirinya juga dituduh sebagai pencuri.


Seandainya memang lelaki itu tak berbohong dan dia sudah tak ada lagi pembelaan maka jelas usaha kedai arak keluarganya akan disalahkan dan langsung diserang. Atau paling parahnya mintai uang ganti rugi. Rumah kedai arak yang sederhana ini tentu takkan sanggup membayar banyaknya uang yang dituntut oleh pria tersebut.


"Sebelum uangnya hilang memang dia tak memegangnya? Aku butuh detail yang lebih rinci. Mungkin setelah tahu kejadian seutuhnya akan ada titik terang."


Gadis kedai arak menjelaskan bahwa memang hari ini tempatnya sedang sepi, mungkin karena kedai-kedai arak baru sudah menguasai Desa Shengyou. Dan satu-satunya pelanggan hanya pria berkulit gelap itu, dia datang sangat ramah.

__ADS_1


Katanya memang hari ini dia sedang bahagia karena baru saja membunuh banyak siluman buas dan dibayar mahal. Untuk merayakannya dia datang ke kedai arak dan mengajak pengemis tua untuk ikut merayakannya.


__ADS_2