Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 199 - Jalan Pendekar


__ADS_3

"Tolong, Tuan Muda! Hamba mohon, tolong kembalikan Pedang Iblis pada kami!"


Xin Chen bergeming di tempatnya, tak menyangka keadaan di luar sudah menjadi seperti ini. Desa-desa dibakar, para rakyat kecil dijadikan budak dan penjahat kembali berkeliaran membunuh dari dalam Kekaisaran. Jika semua sudah menjadi begini maka tak ada bedanya Kekaisaran Shang di masa lalu, di masa pembantaian Manusia Darah Iblis.


"Angkat kepalamu, aku bukan siapa-siapa. Hanya pengembara yang kebetulan lewat."


"Tapi-" seru pria otu tertahan, matanya berbinar yakin bahwa sosok di hadapannya adalah orang yang tepat untuk mengadu, tak bisa dipungkirinya pengembara tersebut memiliki aura kuat. Membunuh, tapi melindungi. Dia tak mengerti mengapa dirinya seyakin itu bahwa orang tersebut layak dianggapnya sebagai seorang pahlawan. Bagi mereka yang berada di kalangan terbawah dan seringkali dilupakan di tanah Kekaisaran.


"Saya yakin, anda bisa mendengar saya. Dan juga ..." kalimatnya tertahan, menyadari Xin Chen telah menurunkan caping di kepalanya. Dia tidak bisa memastikan dengan benar apakah orang di depannya ini benar adalah sosok calon generasi pewaris Pedang Iblis yang dikabarkan menghilang sejak tujuh tahun yang lalu.


Namun agaknya jika dipikirkan lagi harapan itu mustahil, sosok itu secara langsung atau pun tidak telah dikatakan tiada. Rumor itu sudah tak bisa disangkal lagi, tak ada yang memiliki bukti atau pernah melihat keberadaannya lagi.


Pria itu tersentak saat menyadari Xin Chen telah membelakanginya, berniat meninggalkannya. Kecaman warga sekitar sayup-sayup terdengar memprotes tindakan mereka, namun pria itu sama sekali tidak peduli.


Tatapannya lurus dan kakinya berpijak teguh, tak gentar sekali pun orang-orang Kota Qingyun mulai menyoraki dan melemparnya dengan batu. Mengusir mereka dengan hina.


"Tuan Muda, saya tahu ini lancang. Tetapi, satu kali dalam hidup saya. Saya meminta pertolongan kepada seseorang. Tolong ... Tolong pergilah ke selatan, di perkampungan dekat Jembatan Shuangyu, tempat orang-orang kami dibakar hidup-hidup. Musuh menguasai tanah, rumah dan sumber pencarian kami. Tolong lakukan sesuatu! Apa saja! Dengan begitu saya akan melakukan bunuh diri demi anda mau mengabulkan permintaan kami!"


Laki-laki itu sudah bersujud, air mata di kedua matanya berjatuhan d atas jembatan. Sedikit terisak, tak memedulikan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Dia merasa lemah tak berdaya menghadapi musuh, semakin dirinya melawan semakin banyak pula temannya yang meregang nyawa. Laki-laki itu putus asa, tak memiliki pilihan apa pun selain pergi dan meminta pertolongan pada orang-orang yang menutup mata dan telinga atas penderitaan mereka.


Dia merindukan Pedang Iblis, yang akan menunaikan tugasnya meski hanya untuk melindungi desa kecil tanpa pandang bulu. Mereka yang benar-benar membutuhkan pelindung, namun justru para Pilar Kekaisaran yang sekarang sibuk beroperasi di pusat kota. Di tempat di mana banyak pendekar kuat yang menaungi kota serba aman tersebut.

__ADS_1


Lalu mencampakkan tugas kecil seperti mereka dengan mengutus beberapa orang, hanya untuk melihat keadaan dan melaporkannya tanpa menanggapinya dengan serius dengan alasan Kekaisaran tengah tidak stabil, maka wajar terjadi kekacauan di mana-mana.


Tanpa disadari ucapannya membuat Xin Chen berhenti, dia mengalihkan tatapan ke belakang, mendekat dan berlutut sama tinggi dengan pria tersebut.


"Aku mendengarmu, tanpa menangis dan harus mengorbankan nyawamu."


"Kami terbiasa tidak didengar, Tuan. Saya sampai berpikir kalimat dan bayaran yang harus kami berikan agar mereka bisa mengerti penderitaan kami ... Tapi Tuan ...."


Laki-laki itu terkesima sesaat, aura hangat dan menenangkan membuat matanya yang memerah karena jarang tertidur terasa nyaman. Dia berhenti menangis.


"Makan dan minumlah, tetaplah hidup dan kembalilah ke tempatmu satu bulan lagi."


"Pahlawan telah kembali ...."


*


Hiruk-pikuk di Kota Qingyun menjadi lebih ramai saat para penjarah berhasil ditangkap, mereka segera diganjar hukuman atas perilaku kejahatan yang telah mereka lakukan selama enam bulan ini. Tak ada satu pun yang memberontak.


Para penduduk sempat dibuat kaget, para penjarah itu justru tersenyum kemenangan saat ditangkap.


Xin Chen memasuki sebuah kedai teh, dua pelayan perempuan segera menyambutnya dengan hangat namun senyum di wajah mereka luntur saat sesosok lainnya menyusul di belakang pemuda itu. Badannya yang tinggi dengan kulit cokelat matang hampir melewati pintu kedai teh mereka. Matanya kuning, terlihat setengah mabuk dan berjalan sempoyongan.

__ADS_1


Lelaki itu berusia tiga puluh tahun, namun dia tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia seharusnya. Xin Chen duduk di meja rendah, tampak dua perempuan itu ketakutan saat sosok berbedan besar itu ikut duduk di depan Xin Chen yang sudah duduk bersila. Melepaskan capingnya dan meletakkan di sisi meja. Mengawasi laki-laki berbadan besar itu yang kini tengah menatapnya tajam.


"Siapa namamu?" suara berat laki-laki terdengar seram, tidak ada pelayan yang berani mendekat untuk sekadar menanyakan pesanan mereka.


Tapi tampaknya dengan tampang seram dan juga suara yang sengaja dibuat-buat seram tak mempengaruhi pemuda itu, dia memperhatikan garis muka Xin Chen dan merasa pemuda itu masih begitu muda.


Senyum culas sekilas tampak di wajahnya, "Terus terang saja aku tak menyukai tingkah lakumu tadi." Pria itu berkata tanpa berbasa-basi, menyuruh pemilik kedai membawakan minuman dan menenggaknya dalam satu kali teguk.


"Menawarkan bantuan pada sekelompok penjarah, berlagak seperti kau seorang yang pemurah hati membuatku sangat kesal."


Xin Chen mengangkat wajahnya, matanya yang terpejam tertutup oleh rambut yang tumbuh melewati alisnya. Sekilas cahaya biru tampak di sana, laki-laki itu tak bisa memastikan apa dia salah lihat apa tidak. Yang jelas dia melihat sesuatu yang tidak biasa tadi, sepasang mata biru yang indah. Dingin dan juga mencekam.


"Kau seorang prajurit?"


Laki-laki itu mendengus, terdengar kesungkanan di wajahnya. "Dulu, sekarang tidak." Lalu dia memperkenalkan diri, "Namaku Qi Baixuan, panggil sesukamu-"


"Kakek Qi."


Qi Baixuan nyaris menyemburkan minumannya, "Aku tidak setua itu!" Laki-laki itu mendecih, terganggu dengan tatapan para pelanggan yang terus terfokus ke arahnya. Tatapan miring dan bisik-bisik itu sebenarnya membuat hatinya panas tapi mau bagaimana lagi, namanya sudah tercoreng dan dikeluarkan dari pekerjaannya dengan sepihak.


"Kadang sikap baik hanya akan mendatangkan kesengsaraan, percayalah padaku. Kau hanya akan menanggung penderitaan sementara orang yang kau selamatkan akan berbalik menyerangmu, dengan atau tidak mengingat apa pun kebaikan yang kau perbuat. Aku katakan padamu, selagi kau masih begitu muda. Jalan seorang pendekar sangatlah sulit."

__ADS_1


__ADS_2