
"Apa-apaan itu?" Nan Ran mendengus tak terima, "Maksudmu, secara singkat gurumu itu berkelana untuk membantai pengguna roh lain. Dan salah satu buruannya adalah Tuan Muda?"
"Benar sekali. Itu sebenarnya hanyalah perkiraan. Namun, saya tak tahu menjelaskannya dari mana. Sebelum pergi saat hari itu tepatnya setelah kematian Zhang Ziyi, Guru mengatakan bahwa bencana manusia telah terlahir. Dan saat saya melihat Tuan Muda mengendalikan roh berjumlah besar untuk menghabisi orang-orang dari Empat Unit Pengintai menggunakan Kitab Pengendali Roh-"
"Kau sudah tahu dia musuh gurumu dan kau tetap bersikeras mengikutinya?!" Suara Nan Ran meninggi, menggema di seisi ruangan. Lan Zhuxian mengepalkan tangan.
"Baik, aku mengerti situasinya bagaimana." Shui menjentikkan jari, kelihatannya hanya dirinya yang paling tenang saat tiga manusia itu sibuk adu mulut.
"Kau berada di antara dua pilihan sulit. Antara mengikuti gurumu atau mengikuti tuanmu. Bukan begitu?"
"Benar sekali, Tuan Shui."
Dipanggil begitu lagi, Shui menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Begini, memang apa dasarnya gurumu sampai-sampai mengejar pengguna roh antar kekaisaran? Memang dia dibayar oleh Kaisar?"
"Itulah permasalahannya, Tuan. Jika ini semua soal tugas takkan mungkin Guru melakukannya sampai sejauh itu."
Ketiganya menunggu Lan Zhuxian bercerita, tak ada yang bisa dilakukan untuk sementara. Apalagi di situasi genting seperti ini, mereka bahkan tak tahu di mana Xin Chen berada.
"Guru Yuhao pernah memiliki anak. Saat itu baru berusia tujuh tahun, dia sangat menyayanginya, bahkan saya pun selalu membelikannya makanan manis. Dia gadis kecil yang penurut, karena itu Guru sangat mencintainya. Tetapi ... Satu hari, satu pengguna roh bertarung dengan pendekar biasa. Pertarungan itu terjadi di pekarangan rumah guru."
"Saya menyesal tidak datang hari itu. Anak yang tak bersalah menjadi korban ketidaksengajaan akibat pertarungan. Dia meninggal karena salah satu roh tak terkendali menghabisi jiwanya. Setelah kematian anaknya Guru Yuhao membenci pengguna roh setengah mati, dari yang awalnya merupakan ahli pedang, dia menjadi satu-satunya pencipta mantra yang dikhususkan untuk menghadapi roh."
Masih melanjutkan cerita, Lan Zhuxian jauh lebih murung dari sebelumnya.
__ADS_1
"Sejak hari itu dia tak pernah mau menemui saya. Dia terus-menerus mencoba segala hal untuk pembalasan dendam. Dan hal itu dilirik oleh Kaisar Yin. Potensinya untuk menghapus kesengsaraan di tanah kami mulai terdengar luas sehingga banyak sekali pengguna roh datang untuk membunuhnya. Dan hari itu tiba, di mana dia membantai semua pengguna roh tanpa sisa. Namun dia tahu dendam di hatinya takkan pernah hilang sebanyak apa pun yang dibunuhnya."
"'Satu bencana manusia telah lahir. Aku akan mengejarnya tanpa meninggalkan sepenggal napas pun.' Itu yang dia katakan terakhir kali, dan dia meninggalkan saya hingga bertahun-tahun lamanya. Tanpa kabar dan surat. Saya putus asa saat itu, ingin mengejarnya. Mungkin saat itu hanya ingin mengatakan maaf karena tak menjaga anaknya, dan juga terima kasih sudah menerima saya menjadi muridnya."
Hanya lewat tatapan, mata Lan Zhuxian seakan-akan menyiratkan kesedihan mendalam. Di tinggalkan satu-satunya orang yang dia percaya. Shui ingin memastikan sesuatu.
"Lalu kau akan berpihak pada siapa? Jika gurumu itu sudah menampakkan diri kembali dan kau berada di situasi di mana berhadapan langsung dengannya. Apa yang akan kau lakukan? Menentangnya atau mengikutinya?"
Tidak ada jawaban setelah itu.
Tian Xi menepuk-nepuk pundak Lan Zhuxian, "Semua orang pernah menghadapi pilihan sulit. Ingat satu hal. Pastikan pilihan itu adalah keinginan hatimu. Karena kau bukan hanya memutuskannya tetapi juga menjalaninya. Jangan saat separuh jalan kau baru menyesalinya."
"Saya ingin terus berada di sisi Guru Yuhao."
Lan Zhuxian menatap Tian Xi. Di sebelahnya Nan Ran sudah memasang wajah tak percaya
"Sayangnya aku akan tetap berada di sini. Aku telanjur memercayai orang itu."
"Saya tidak akan meninggalkan Tuan Muda sesulit apa pun situasinya. Dia memberikan tempat saat saya tidak memiliki siapa-siapa. Saya bersyukur bertemu orang sepertinya. Mungkin bagi guru dia adalah bencana, tetapi bagi saya dia adalah pahlawan yang sesungguhnya. Saya akan terus berada di sisinya sampai saat di mana semua orang melihat kebaikannya."
"Cih, membuatku panik saja." Nan Ran merangkul temannya itu. "Kita akan tetap berada di jalur yang sama. Sesulit apa pun nanti, pertama-tama sampaikan peringatan pada Tuan Muda. Burung gagak ini mungkin masih bisa kembali ke tempat di mana dia berada."
Saat mereka sedang berbicara, Tian Xi terdiam di tempatnya. Lan Zhuxian sampai seperti itu demi orang yang dianggapnya berharga. Sementara dirinya membuang orang-orang seperti itu dan justru hendak menghancurkan mereka. Hatinya sempat goyah, namun pemuda itu memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Memiliki markas besar seperti ini adalah salah satu pencapaian terbesarnya seumur hidup. Dia ingin terus berada di sana, menjadikan Empat Unit Pengintai sebagai salah satu kelompok terbesar di seluruh dunia.
__ADS_1
"Kau kenapa lagi, Pendek Dungu?" sahut Nan Ran menyadari ada yang tak beres dengan temannya yang satu itu.
"Bagaimana jika dihadapkan satu lawan satu dengan orang yang tak ingin kita temui?"
Tian Xi sadar tak sadar saat mengatakannya, menyadari Nan Ran, Shui dan Lan Zhuxian tengah terpusat ke arahnya dalam keanehan.
"Lupakan." Dia berdeham kecil, membuang pandangan dengan canggung. Namun pikiran itu tak serta merta enyah dari pikirannya. Entah tentang klannya, teman-temannya di sana dan perguruannya dulu. Tiba-tiba saja hal itu melintas di kepalanya.
"Sudah terlalu jauh untuk meragukan keputusanmu hari itu. Kau laki-laki, 'kan?" Nan Ran sedikit menonjok dada Tian Xi dengan kepalan tangannya.
"Cobalah untuk memegang teguh kata-katamu dan jangan pernah menengok ke belakang lagi, pengecut pendek."
Ejekan itu tak digubris oleh Tian Xi, dia membalas tonjokan Nan Ran dua kali lipat.
"Cerewetmu itu mengalahkan perempuan, Tinggi Bodoh."
Selagi dua orang itu berdebat Lan Zhuxian menarik sebuah gulungan kertas kecil. Dia mencoba menulis semua hal tentang mantra milik Yuhao. Tiba-tiba saja Lan Zhuxian teringat akan sebuah hal yang penting, dia menatap tiga orang itu dengan khawatir.
"Guru Yuhao pernah mengatakan bahwa dia pergi di tempat paling pelosok. Dan burung ini seharusnya cukup cepat untuk sampai ke sini, paling tidak satu setengah hari. Cuaca buruk sedang mengamuk di Utara, itu artinya ... Tuan Muda sedang berada di tempat terpelosok itu. Tempat di mana Guru Yuhao berada."
***
A/N: Untuk Sabtu Minggu ini author ada study tour ke luar kota jadi gak yakin bisa upload apa enggak. yg pasti untuk crazy up akhir bulan ada ya(. ❛ ᴗ ❛.)
__ADS_1