Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 210 - Pohon Suci


__ADS_3

Seperti kata Mou Zhueyang, di perkampungan itu terdapat sebuah pohon tua besar yang biasa digunakan para warga untuk melakukan ritual. Meminta keselamatan, harta dan banyak hal. Keyakinan dari tanah Kekaisaran Qing akan sesuatu yang memiliki kekuatan spiritual yang menghubungkan mereka dengan para dewa memang sudah lama ada di Kekaisaran Shang.


Xin Chen mengangkat wajahnya, menatapi puluhan-bahkan ratusan mayat digantung di atas sana. Bagian perut mereka bolong oleh binatang kecil melata. Menguarkan bau bangkai yang tidak main-main. Bahkan ada yang muntah karena tidak tahan oleh bau puluhan mayat, ceruk mata mereka kosong dimakan belatung dan lalat-lalat berdengung menjilati kulit yang sudah memucat itu.


Mou Zhueyang bersimpuh di depan pohon, benci dan amarah menguasai dirinya. Xin Chen mendekat dan berdiri di sebelah Mou Zhueyang, menatapi lebih dekat muka para prajurit yang telah gugur dengan cara mengenaskan itu.


Hawa negatif dan juga energi roh yang begitu kuat hadir di perkampungan itu. Kebencian, penyesalan, kesedihan dan murka bercampur menjadi satu. Hampir tidak ada lagi kehidupan di sana, Mou Zhueyang mengatakan dia akan memanjat untuk menurunkan mayat-mayat temannya. Sedangkan Xin Chen mencari tempat lain.


Mou Zhueyang memutuskan tali satu per satu dari kaki mayat yang digantungkan terbalik, terbatuk-batuk saat bau bangkai menyerang hidungnya. Laki-laki itu berusaha susah payah, satu temannya lagi ikut membantu sedangkan sisanya menumpukkan tubuh itu di satu tempat. Menyiapkan kayu untuk membakar mereka. Cara yang lebih baik daripada digantung dimakan belatung. Malam sudah lama datang, hampir larut malam dan mereka baru selesai mengurus mayat-mayat tersebut.


Hati Mou Zhueyang menjadi sedikit lebih lega, setelah memberikan penghormatan terakhir laki-laki itu membalikkan badan hendak mencari ke mana Xin Chen berada. Pemuda itu tidak memunculkan diri semenjak sore mereka berpisah. Ditatapnya jalanan perkampungan yang mendatangkan hawa tak biasa, laki-laki itu merasa kaki dan pundaknya terasa berat. Hawa negatif mencekam membuat tengkuk Mou Zhueyang dingin.


Sama seperti prajurit lain, mereka merasakan hal yang tidak biasa itu. Tak mengatakan apa-apa dan hanya mengikuti ke mana Mou Zhueyang berjalan. Baru sadar pria itu langit malam tampak dipenuhi awan tebal, mungkin sebentar lagi akan hujan. Mereka harus bersegera menemukan Xin Chen.


Detik di mana Mou Zhueyang menemukan Xin Chen tengah berdiri di atap rumah, hujan turun begitu derasnya. Terdengar alunan seruling merdu yang membuat mereka semua terhanyut, irama penuh kesedihan itu menggiring sesuatu yang lain ke arahnya.


Bertahun-tahun memainkan seruling, Xin Chen telah melatih Irama Kematian yang diajarkan roh penghuni Baja Phoenix dan menemukan irama lainnya yang memiliki efek berbeda. Senandung Air yang menenangkan ternyata hanya salah satu dari irama yang memiliki kekuatan itu.

__ADS_1


Lengkingan merdu seruling menemani malam hujan yang dingin, rintik air hujan kalah oleh irama tersebut. Mou Zhueyang terpana hanya beberapa saat sebelum urat di lehernya menegang. Laki-laki itu mundur dua langkah dengan mata melotot tajam.


Prajurit lain menyadari sikap itu dan mencoba mencari tahu apa yang di lihat Mou Zhueyang. Tak perlu bersusah payah, dengan jelas dapat mereka lihat bayang-bayang hitam berjalan ke arah Xin Chen. Tertatih-tatih dan tembus begitu saja saat melewati sesuatu. Hujan membuat genangan air di tanah, tidak terlihat pantulan dari bayangan itu di atas permukaan air dan itu semua membuat mereka takut.


"Se-sebenarnya siapa Tuan Muda ini?" Mou Zhueyang bergetar, dia tidak pernah melihat secara langsung mahkluk halus. Tapi sekalinya melihat dirinya disuguhkan oleh pemandangan ratusan hantu Jembatan Shangyu sekaligus. Pria itu hampir pingsan di tengah-tengah ketakutannya. Sementara Xin Chen berhenti meniupkan seruling, sontak roh-roh yang telah digiringnya kembali tersadar dan mengamuk sejadi-jadinya.


"Mereka akan sulit dikendalikan."


Mengandalkan hawa negatif yang begitu membludak-bludak hanya akan menambah perkara baginya, tapi Xin Chen tak memiliki pilihan lain. Roh dalam Kitab Pengendali Roh sudah lama dihabisi.


Xin Chen baru menyadari kehadiran Mou Zhueyang, berteriak lantang. "Menjauhlah!"


Banyak yang menjadi gila ketika roh-roh jahat seperti mereka masuk ke dalam tubuh. Mou Zhueyang tak ingin jika hal itu sampai terjadi. Di sisi lain dia masih begitu terkejut Xin Chen dapat membangkitkan kekuatan roh ini, meskipun tak selamanya berakhir baik. Salah-salah mengendalikan justru roh ini akan menguat dan berbalik menyerang manusia.


"Tuan Muda, tolong jangan pikirkan kami! Fokus saja untuk menyegel mereka semua-!" Mou Zhueyang memuntahkan darah segar, menyadari perwujudan roh berdiri di belakangnya. Di wajah hitam itu sebuah senyum lebar tertarik dengan tajam, kukunya yang panjang dan tajam menembus dada Mou Zhueyang hingga darah mencuat.


Laki-laki itu ambruk, Xin Chen semakin kewalahan saat roh tersebut menggila dan mencoba membunuh Mou Zhueyang. Laki-laki itu dikerubungi begitu saja, pikirannya mulai dimasuki oleh sesuatu. Mou Zhueyang tak bisa berpikir jernih, dia terbaring di tanah dan berguling kesakitan.

__ADS_1


Roh adalah perantara tepat untuk menghancurkan jiwa seseorang. Xin Chen tahu benar kekuatan mereka tak bisa disandingkan dengan para manusia yang mengandalkan seni berpedang dalam pertarungan. Tanpa harus menyentuh atau berduel satu lawan satu. Kekuatan itu dapat membunuh dalam skala besar. Layaknya bom dengan jangkauan luas.


Mengembalikan kesadaran Mou Zhueyang adalah hal yang sulit, roh di dalam tubuhnya telah bersarang dan sebentar lagi jiwa dalam tubuh itu akan dihancurkan.


Xin Chen turun dari atap, memainkan serulingnya dan berusaha tetap tenang. Roh-roh itu kembali jinak, Xin Chen terus melakukannya hingga kekuatan mereka terkumpul dan menjadi bagian dari miliknya.


Namun kegelisahan lainnya datang, Mou Zhueyang telah terkapar tak bernyawa. Xin Chen mendekati tubuh itu, matanya melotot lebar dengan mulut terbuka berdarah. Kematian adalah hal yang menyakitkan. Xin Chen seharusnya mengatakan bahwa seharusnya mereka tak datang ke tempatnya, roh-roh ini sangat berbahaya.


Para prajurit lain berjongkok di depan Mou Zhueyang, tak percaya dan berkata ragu-ragu. "Apakah ..."


Xin Chen menyela. "Tidak. Dia belum mati."


Lalu Xin Chen menempelkan tangannya, kekuatan Api Keabadian dalam dirinya menyinari malam berkabut gelap gulita itu.


"Aku hanya bisa menyelamatkanmu sekali ..."


Tangan Xin Chen bergetar samar, menggunakan kekuatan spesial Api Keabadian menyerap lebih dari setengah kekuatannya. Jumlah yang tidak sedikit itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung, kekuatan Api Keabadian tidak menghidupkan melainkan mengembalikan sesuatu yang sebelumnya ada dan sebaliknya.

__ADS_1


Saat Mou Zhueyang membuka matanya, dia dapat melihat Xin Chen dan teman-temannya menatap ke arahnya.


Sama seperti sesosok asing dengan dua pedang di tangannya. Berdiri di belakang Xin Chen tanpa ekspresi, hanya giginya yang tajam muncul di dalam keremangan malam yang hujan itu.


__ADS_2